Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 42 Kecewa


__ADS_3

(Kecewa)


Selepas mendengar semua ungkapan Aurel, kini Alex duduk di bawah pohon. Matanya memandang ke depan dengan tatapan kosong. Ia sudah melakukan atau menuruti apa yang Aurel minta, apakah itu belum cukup untuk menunjukkan bahwa dirinya mempunyai rasa kepada gadis itu?


Alex cukup emosi mendengar pengakuan Aurel kepada Farel yang terdengar polos itu. Ia hanya tidak mau jika lelaki itu akan memperlakukan Aurel seenaknya, karena tahu jika gadis itu menyukainya. Alex takut akan ada hal buruk terjadi dengan Aurel.


Dengan pengakuan Aurel ini, bisa jadi ke depannya Farel akan lebih berani terang-terangan untuk mendekati gadis itu. Memikirkan hal itu, membuat Alex pusing. Ia mengusap wajahnya dengan gusar.


"Aku harus bagaimana?" gumamnya. Tangannya mencabut rumput yang berwarna hijau itu dengan penuh emosi serta rasa gelisah yang sedari tadi menyerang hatinya.


Tangannya terus bergerak, matanya diam menatap ke depan. Tetapi pikiran lelaki itu bercabang memikirkan satu hal dengan banyak cara yang belum tentu berhasil jika ia tidak mencobanya.


"Arghhh!" erang Alex mengacak rambutnya dengan kasar. Kepalanya sudah lelah memikirkan itu semua.


Yang harus ia pikirkan sekarang adalah bagaimana cara agar menjauhkan Aurel dari Farel setelah ini? Tentunya selepas kejadian itu mereka akan menambah lengket dan akrab. Alex sudah mengetahui sifat Aurel yang ceplas-ceplos. 


Akan tetapi, jika mereka berhasil dekat hingga memiliki hubungan. Mario pasti tidak akan setuju, karena Alex masih berada di barisan paling depan di daftar menantu idaman Mario. Bukan sekali atau dua kali, banyak rekan bisnis Mario yang ingin menjodohkan anak lelakinya dengan Aurel. Tetapi Mario menolaknya.


Mario merasa mereka terlalu obsesi untuk menjadi besannya dan mempunyai perusahaan dengan keuntungan yang melimpah. Mario telah memilih Alex untuk menemani putrinya hingga akhir buka tanpa sebab. Ia sudah mengawasi gerak-gerik Alex sebelum ia berniat menjodohkannya dengan putrinya.


Alex pastikan, hanya dia yang cocok bersanding dengan Aurel. Bukan Farel, memang apa yang lelaki itu punya untuk menghidupi Aurel? Yang ada gadis itu akan kesusahan jika bersama dengan Farel. Tetapi, memang cinta itu buta, kan?


Daripada Alex berada di sini dengan perasaan campur aduk, lebih baik ia pulang untung menenangkan diri. Alex berjalan ke tempat parkir di rumah sakit dengan perasaan sakit yang amat dalam.


Sedangkan Aurel, kini gadis itu sudah berada di ruangan inapnya dengan papanya. Farel sudah pamit untuk pulang setelah mengantar Aurel ke ruangan.


“Pa, Alex di mana?” tanya Aurel ketika tidak melihat lelaki itu. Biasanya Alex akan berada lama di ruangan inapnya untuk menemaninya.

__ADS_1


Mario yang sedang berkutat dengan laptopnya menoleh kepada Aurel. “Bukankah Alex pergi untuk menyusulmu?” tanya Mario dengan bingung.


Tadi Alex meminta izin kepadanya untuk menyusul putrinya yang sedang berkeliling dengan Farel, setelah selesai membantunya untuk mengerjakan pekerjaan kantor.


“Menyusul?”


Mario mengangguk mendengar ucapan Aurel yang seperti memastikan. “Sebelum itu, Papa meminta tolong kepada Alex untuk membantu Papa mengerjakan pekerjaan kantor. Tetapi setelah selesai Alex izin untuk menyusulmu,” jawab Mario menjelaskan ketika melihat raut wajah bingung putrinya.


Aurel mengangguk paham. Tetapi, saat ia sedang berkeliling bersama Farel. Ia tidak melihat Alex, apakah lelaki itu benar-benar menyusulnya? 


Sedangkan Alex sekarang berada di dalam mobilnya, wajah lelaki itu tampak tidak enak untuk dipandang. Tangannya memegang setir dengan erat hingga menampakkan urat-urat tangannya. Ia mengendarai mobilnya dengan penuh kecepatan.


Penampilan lelaki itu sekarang sudah tidak rapi lagi seperti awal, dengan rambut yang acak-acakan, kemeja yang kusut dengan beberapa kancing terbuka, serta keringat membanjiri wajahnya.


Tidak terasa, hari telah berganti. Pagi ini Aurel sudah diperbolehkan untuk pulang, sekarang Aurel dan Mario sedang beres-beres di ruang inapnya dibantu oleh Bibi Jane. 


Aurel bingung, apa yang sedang terjadi dengan lelaki itu? Apakah sedang sangat sibuk karena banyak tugas, atau sedang ada masalah? Alex seperti berubah dari kemarin.


“Belum. Apa Alex tidak mengabarimu?” tanya Mario ikutan bingung. Karena biasanya Alex akan datang ke sini dengan penuh semangat akan bertemu Aurel. Tetapi sekarang lelaki itu justru tidak datang.


“Alex tidak memberiku pesan atau pun meneleponku,” jawab Aurel yang sedang duduk di atas brankar dengan wajah cemberut.


“Mungkin Alex sedang sibuk.” Mario mencoba agar Aurel berpikir baik tentang Alex. Walaupun dirinya pun heran. Tetapi apa yang bisa mereka lakukan? Tidak ada.


Setelah selesai membereskan barang Aurel, mereka pergi untuk menuju ke rumah. Mario sudah memperingati Aurel untuk menjaga dirinya dengan baik.


Sedangkan disisi lain, Alex sedang duduk di kursi kerja James. Ia diminta tolong oleh papanya untuk membantu pekerjaan kantor James, karena papanya akan keluar untuk pekerjaan yang lain. Alex yang tidak bisa menolak pun menyetujuinya.

__ADS_1


Alex melamun menatap laptop yang sudah mati di depannya. Pikirannya terus tertuju pada Aurel. Meski pengakuan gadis itu kemarin membuatnya sakit, tetapi tidak dapat dibohongi sekarang ini ia merindukan Aurel. 


Daripada memikirkan gadis itu yang tidak berada di sini, lebih baik ia ke rumah Aurel. Mario sudah memberinya pesan jika Aurel sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Alex segera menutup laptopnya, ia keluar dari ruangan kerja James.


“Alex, mau ke mana kamu?” tanya Kimberly yang sedang menonton televisi saat melihat putranya akan keluar rumah.


“Ke tempat Aurel, Mi.”


Kimberly mengangguk paham. “Ya sudah, hati-hati.” 


Alex memasuki mobil dan mulai menjalankannya keluar dari halaman rumahnya. Ia menuju ke rumah Aurel, mustahil jika ia sudah tidak sakit hati. Nyatanya sekarang ini Alex sedang berusaha untuk menahan amarahnya.


Tidak lama, Alex sampai di rumah Aurel. Ia turun dari mobilnya kemudian mulai memasuki rumah. Ia dapat melihat Bibi Jane yang sedang membersihkan meja.


“Bibi, di mana Aurel berada?” tanya Alex saat ia tidak melihat Aurel.


“Ada di kamarnya, Tuan Muda.”


Setelah mendapatkan jawabannya. Alex naik ke atas tangga untuk menuju ke kamar Aurel. Saat ia masuk ke dalam kamar Aurel dan menutup pintunya. Ada tangan yang melingkar di pinggangnya.


Alex melepaskan pelukan tangan itu, ia berjalan ke ranjang Aurel dan duduk dipinggirnya diikuti oleh Aurel. Alex menatap gadis itu dengan tatapan tajamnya.


“Ada apa?” tanya Aurel dengan takut.


“Ada apa kamu bilang? Bagaimana bisa kamu melakukan tindakan bodoh itu, Aurel? Kamu itu gadis yang cantik dan mewah, tetapi dengan bodohnya kamu menyatakan cinta kepada Farel yang tidak mempunyai apa-apa!” tukas Alex dengan emosi.


Baru saja Aurel ingin menjawab, tetapi Alex menyelanya. “Sepertinya aku harus memberimu hukuman.”

__ADS_1


Alex langsung melu_mat bibir Aurel dengan buas dan kasar. Hingga Aurel sulit mengimbanginya. Aurel memukul dada Alex ketika ia kehabisan nafas. Lelaki itu melepaskan luma_tannya. Di saat Aurel sudah menghirup udara, Alex langsung menyerangnya lagi. Lelaki itu benar-benar memberinya hukuman.


__ADS_2