Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 16 Cemburu


__ADS_3

Bab 16. (Cemburu)


Sesudah mendapatkan Es Krim yang Aurel mau, kini keinginan Aurel bertambah lagi. Ia meminta kepada Alex untuk jalan-jalan di sekitar kampus, Aurel belum ingin pulang.


Karena merasa tidak memberatkan, Alex menyetujui permintaan Aurel. Mereka sedang mengelilingi gedung jurusan lain dengan tangan kiri Aurel yang senantiasa menggandeng lengan Alex dan tangan kanannya yang memegang Es Krim.


Di perjalanan, Aurel tidak berhenti melontarkan pertanyaan kepada Alex, tidak tahu itu pertanyaan penting atau tidak. Alex dengan senang menjawabnya, lelaki itu sama sekali tidak terganggu dengan pertanyaan aneh yang dilontarkan oleh gadis di sampingnya.


Bukannya rasa kesal yang menghampirinya, tetapi malah rasa bahagia yang memasuki relung hatinya. Dadanya membuncah memberi tanda bahwa ia sedang senang. Berjalan dan melakukan sesuatu dengan seseorang yang ia sukai ternyata membawa pengaruh besar.


Sesekali, Alex melirik Aurel yang sedang berbicara. Gadis ini sungguh lucu, dengan mulutnya yang sedang memakan Es Krim.


Alex membersihkan sudut bibir Aurel yang terkena Es Krim dengan jempolnya. 


"Kalau makan itu yang benar, seperti anak kecil saja."


Aurel hanya menunjukkan deretan giginya yang rapi. Tetapi, matanya menangkap Alex yang sedang memakan sisa Es Krim di jari jempolnya.


"Manis," gumam Alex yang masih terdengar oleh Aurel.


"Kok dimakan? Alex mau?" tanya Aurel menyodorkan cup Es Krimnya, ia menyendokkan lalu menyuapi Alex. Dengan senang hati Alex menerimanya.


"Manis, kan?" tanya Aurel yang dijawab anggukan oleh Alex.


Aurel melanjutkan memakan Es Krim nya, di sela-sela kegiatannya Aurel mengingat sesuatu.


"Alex, kalau sudah lulus ini mau jadi apa?" tanya Aurel mencari topik pembicaraan. 


Aurel tidak suka jika suasananya canggung dan hanya diam saja, ia adalah gadis yang tidak bisa diam, cerewet dan manja. Jadi, Alex tidak heran lagi dengan sifat Aurel. Alex menyukai semua yang ada pada diri Aurel.


"Kerja di perusahaan papi," jawab Alex.


Aurel memberhentikan langkahnya dengan tangan yang masih menggandeng lengan Alex, membuat Alex ikut berhenti. Aurel menghadap ke Alex, menatapnya dengan berbinar.


"Nanti boleh tidak aku main ke sana?"


Alex mengacak rambut bergelombang Aurel dengan gemas. "Tentu saja boleh," jawabnya.

__ADS_1


Aurel tersenyum senang. "Kalau aku nanti mau jadi desainer. Jadi, kalau nanti Alex mau menikah, desain bajunya ke aku saja, ya!" seru Aurel berpesan.


Alex menatap Aurel dengan lekat. Bagaimana bisa Aurel mengatakan itu? Sedangkan nanti, mungkin saja ia akan menikahi dengan Aurel. Ya, Alex sudah melabuhkan sepenuh hatinya pada Aurel. 


Alex sudah tahu bahwa dirinya akan dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan Aurel. Bukan marah atau sedih seperti remaja umumnya, melainkan senang. Alex bahagia ketika mendengar kabar itu, jadi ia bisa mendapatkan Aurel dengan mudah.


Bersama Aurel bertahun-tahun, membuatnya jatuh ke dalam jurang pesona Aurel. 


Aurel dengan mudahnya berhasil menarik perhatiannya tanpa harus berusaha. Alex sudah mencintai Aurel dengan sangat dalam, jadi tak heran jika ia melakukan semua yang Aurel minta.


Aurel melambaikan tangannya di depan wajah Alex yang sedang menatapnya tanpa kedip. 


"Alex?"


Tetap saja Alex tidak berkedip dan menjawab panggilannya. Apakah Alex sedang melamun? Pikir Aurel.


Aurel menepuk pipi Alex dengan pelan, tetapi mampu membuat Alex tersadar dari lamunannya.


"Alex, kenapa melamun?"


"Tidak apa-apa," jawab Alex dengan canggung. Ia malu karena Aurel tahu dirinya melamun karena menatap Aurel.


Mereka melanjutkan berjalan menuju tempat parkir kembali atas permintaan Aurel, ia lelah berjalan keliling kampus. Melihat ada kursi, Aurel melepaskan pelukan pada lengan Alex dan langsung duduk di kursi.


Alex mengelap keringat Aurel dengan tangannya. 


"Panas sekali," ungkap Aurel mengipaskan tangannya ke wajah. Alex pergi ke mobil sebentar, kemudian kembali membawa kipas berukuran mini  untuk Aurel.


"Kok bisa ada kipas?" tanya Aurel, tak urung ia juga menikmati angin dari kipas. Seketika badannya menjadi sejuk.


"Untuk jaga-jaga, mungkin saja kamu kepanasan dan membutuhkan kipas."


Aurel menatap Alex dengan lekat, bibirnya melengkung membentuk senyuman yang indah. Ia beruntung telah bertemu dan hingga sekarang masih bersama dengan Alex. Ketika Aurel membutuhkan teman, Alex selalu ada untuknya dan memenuhi semua keinginannya.


"Alex, aku haus sekali. Kamu membawa minum tidak di mobilmu?" tanya Aurel, tenggorokannya sungguh kering. Mungkin saja Alex membawa minuman di mobilnya, biasanya ia selalu membawanya.


"Aku tidak membawanya," Aurel menghela nafasnya kecewa mendengar jawaban Alex.

__ADS_1


"Es Krim yang tadi masih ada satu, apa kamu mau?"


Aurel mengangguk antusias. Selain menyukai bubur, Aurel juga menyukai Es Krim karena teksturnya yang lembut dan dingin. Menurutnya sangat segar diminum pada saat seperti ini.


Melihat Aurel yang duduk dengan tenang sembari memakan Es Krim, Alex pamit pergi untuk membelikan Aurel minum. Ia tahu setelah makan Es Krim, Aurel membutuhkan minum.


"Kamu tunggu di sini, jangan pergi ke mana pun. Aku akan membeli air minum sebentar," pamit Alex dengan berpesan kepada Aurel.


Aurel hanya menjawab dengan mengangguk. Alex segera pergi menuju supermarket di dekat kampus. Setelah membeli dan membayar, Alex kembali menuju di tempat Aurel berada dengan dua botol air minum.


Sebelum menghampiri Aurel, dapat ia lihat Aurel sedang berdiri. Kemudian, ada seorang lelaki yang menghampiri Aurel. Mereka berdua mengobrol dengan santai, tanpa menyadari Alex menatap tajam lelaki itu.


"Berani-beraninya lelaki itu mendekati Aurel," gumam Alex. 


Mata tajamnya terus mengintai lelaki itu. Baru saja Alex pergi, tetapi sudah ada seseorang yang ingin menggeserkan posisinya. Keduanya terus mengobrol dengan akrab, hingga raut wajah lelaki itu seperti sedang menunjukkan rasa kesal lalu pergi.


Alex harus menanyakan semua ini kepada Aurel!


Ia menghampiri Aurel ketika lelaki itu sudah pergi. Alex memberi satu botol yang tutupnya sudah ia buka kepada Aurel.


"Siapa lelaki tadi?" 


Aurel yang baru saja selesai minum mengernyitkan dahinya bingung. 


"Kapan?" tanya Aurel heran. Saat bersama dengan Alex, ia tidak mengobrol atau bertemu dengan siapa pun.


"Lelaki yang barusan pergi," jawab Alex dengan penasaran. Ia harap, Aurel tidak mempunyai hubungan dengan lelaki itu. Karena, Aurel sudah dijodohkan dengannya.


Kalau pun Aurel memiliki hubungan, Alex tidak akan diam saja. Ia akan mencari lelaki itu. Aurel hanya pantas untuk dirinya.


"Aku tidak tahu," jawab Aurel dengan acuh.


Sebenarnya, Alex tidak yakin. Tetapi ia tahu bahwa Aurel tidak pernah berbohong dengan siapa pun. Lebih baik Alex mengantar Aurel pulang, daripada ia memikirkan hal itu.


"Ayo kita pulang, aku akan mengantarmu sekalian berkunjung."


Aurel mengangguk dengan patuh. Ia memasuki mobil Alex, Aurel senang ketika Alex berkunjung ke rumahnya. Ia jadi mempunyai teman untuk bercerita.

__ADS_1


__ADS_2