Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 8 Berangkat Bersama


__ADS_3

Pagi ini Aurel sedang duduk di teras, ia menunggu Alex menjemputnya untuk pergi kuliah bersama. Karena hari ini keduanya sama-sama memiliki jadwal kuliah pagi. Setelah beberapa saat menunggu, sebuah mobil sport berhenti di depan rumah Aurel. 


Aurel lalu berjalan ke arah gerbang, dan langsung masuk ke mobil Alex. Pria itu mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, tidak berniat melajukan mobilnya dengan kencang di pagi hari.


Alex menatap Aurel yang sibuk mengobrak-abrik isi tasnya, terlihat seperti mencari sesuatu. Beberapa kali gadis itu mendesah karena kesal.


“Apa yang kamu cari Rel? Kenapa kesal begitu?” tanya Alex sembari tetap memfokuskan pandangannya pada jalanan.


“Sepertinya aku melupakan buku catatanku, hari ini ada ujian dan aku belum belajar ulang,” ujar Aurel, gadis itu tampak sedikit cemas. 


“Aku akan meminjamkan catatan anak tata busana yang tidak ujian hari ini. Bagaimana bisa tertinggal?” tanya Alex.


“Baiklah, aku rasa aku meninggalkannya di meja belajar saat akan memasukkan itu ke dalam tasku,” balas Aurel. Gadis itu tersenyum simpul. Seperti sebelum-sebelumnya, semuanya akan baik-baik saja saat Alex bersamanya.


“Rel, nanti kamu pulang lebih dulu, ingin menunggu di mana?” tanya Alex saat mengingat jadwal kelasnya hari ini. Pria itu baru ingat, jika hari ini ada satu kelas tambahan sehingga Aurel akan selesai lebih dulu.


“Aku akan mengabarimu nanti Lex. Bisakah lebih cepat lagi? Aku harus segera sampai, bukankah kamu akan meminjamkan catatan untukku? Itu perlu waktu, dan aku juga belum belajar,” tutur Aurel kepada Alex. Pria itu hanya mengangguk sebagai jawaban, dan menambah kecepatan mobilnya.


“Jangan terlalu lelah, aku tidak ingin penyakitmu kambuh di kampus Rel,” peringat Alex kepada Aurel, karena gadis itu sering sekali lupa waktu. Ia sering melupakan bahwa ia tidak bisa beraktivitas terlalu berat seperti teman-temannya.


“Apakah kamu malu, karena aku penyakitan?” tanya Aurel sembari menatap Alex dengan tatapan sulit diartikan.


“Bukan begitu Rel, saat di kampus kita akan berpisah. Fakultas kita berbeda, aku tidak berada di dekatmu jika kamu kambuh. Aku tidak ingin kamu merasakan sakit dan kesulitan sendirian. Jika butuh sesuatu, telepon saja aku kapan pun itu. Jangan sakit, aku tidak suka,” tukas Alex, pria itu sedikit tersinggung dengan ucapan Aurel. Tidak sekalipun apa yang Aurel katakan pernah terlihat di benaknya. Ia sama sekali tidak menganggap Aurel beban atau apa pun itu. Alex sangat mencintai Aurel, tanpa gadis itu ketahui.

__ADS_1


Aurel terdiam, gadis itu tersentuh dengan jawaban Alex. Ia bersyukur bisa memiliki Alex di hidupnya. Karena jika tidak Aurel akan hancur. Selama ini hanya Alex alasan Aurel masih bisa bertahan.


Alex menurunkan Aurel di depan fakultas tata busana, ia menatap Aurel yang tersenyum kecil kepadanya. Alex juga tersenyum tipis sembari mengatakan, “Jangan sakit!” tanpa bersuara.


Aurel hanya mengangguk dengan senyum kecilnya. Ia lalu menyuruh Alex agar segera pergi, jika tidak ia bisa terlambat. Setelah mobil Alex menjauh dari fakultas tata busana, Aurel segera masuk karena orang yang akan meminjamkan catatan sudah menunggu.


Sebelumnya Alex sudah menghubungi orang tersebut, untuk memberikan catatannya pada Aurel. Saat melihat seorang pria melambai padanya, Aurel segera mendekat. Alasan Alex membiarkan Aurel bertemu teman lelakinya sendirian adalah.


“Kenapa lama sekali Rel! Aku sudah lama menunggu, di sini sangat gerah tahu! Keringatan aku, bisa-bisa bedakku luntur gara-gara menunggumu Rel!” seru pria yang merupakan teman Alex. Ya, alasan Alex membiarkan Aurel menemui pria tersebut sendirian adalah karena pria itu, ya seperti yang kalian lihat.


“Aku tidak membuatmu menunggu selama itu. Terima kasih untuk catatannya, aku akan mengembalikannya setelah kelas berakhir,” tukas Aurel sembari menerima uluran buku yang cukup tebal dari pria tersebut.


Aurel lalu menuju kelasnya dan langsung duduk di kursi yang berada di pojok kelas. Ia langsung mempelajari materi yang akan diulangi hari ini.


“Kamu sedang apa Aurel? Hingga tidak memperhatikan,” Dosen tersebut menatap Aurel yang tersenyum kikuk di mejanya. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari menggeleng. Dosen itu hanya menghela nafas jengah dan lanjut mengabsen siswanya.


Setelah ujian selesai, Aurel tengah menunggu pria yang tadi meminjamkannya catatan di tempat parkir fakultas tata busana. Entah ke mana perginya pria itu, sudah lebih dari sepuluh menit Aurel menunggu.


Saat sibuk menunggu, beberapa anak laki-laki menghampiri Aurel. Mereka mulai menggoda Aurel dan melontarkan kata-kata menjijikkan.


“Wah, siapa yang kamu tunggu di siang hari begini? Apakah sedang menunggu kekasihmu?” tanya salah satu pria dengan senyuman gila yang tercetak jelas di bibirnya.


“Tidak, tidak, tidak, gadis cantik ini pasti menunggu aku. Kami akan pergi menginap bersama,” timpal pria lain sambil terkekeh.

__ADS_1


“Kalian bisa pergi? Aku sedang tidak ingin berbicara,” ujar Aurel. Gadis itu benar-benar malas meladeni ucapan mereka yang tidak jelas.


“Kamu baru saja berbicara gadis cantik. Matahari sudah terik, bagaimana jika berteduh bersama kami? Atau ingin kami antar pulang?” tanya pria lainnya, yang disambut gelak tawa teman-temannya.


“Diamlah! Jangan terus berbicara seperti perempuan. Jika terus berbicara akan lebih baik kalian mengganti celana dengan rok!” seru Aurel, ia lalu memilih pergi dari sana karena sudah muak dengan tingkah pria-pria tersebut.


Tetapi lengannya di tahan oleh salah satu pria tersebut, Aurel terbelalak dan sedikit meringis karena cengkeraman di lengannya. 


“Lepaskan! Sakit!”


Aurel lega saat Alex datang entah dari mana, pria itu mendekat dan langsung melepaskan tangan pria tersebut dengan kasar. Alex berdiri di depan Aurel yang sedikit ketakutan. 


“Pergilah, aku sedang tidak ingin berkelahi. Jangan pernah mengganggu gadisku lagi!” tukas Alex dengan tatapan nyalang yang diarahkan pada tiga pria di hadapannya.


“Wow! Santai Bro, kami akan pergi.”


 Pria itu mengangkat tangannya dan mundur beberapa langkah sembari tersenyum gila. Ia lalu berbalik dan berjalan menjauh.


Salah satu dari mereka membisikkan sesuatu di telinga Alex sembari menatap wajah takut Aurel yang berdiri di belakang Alex.


“Gadismu cantik, jika mau berbagi ranjang kabari saja.” Pria tersebut menepuk bahu Alex dua kali. Tanpa ia sadari, Alex tengah menahan emosi yang memburu di dalam dadanya. Rahang Alex mengeras, matanya menatap tiga orang pria yang menjauh dengan tatapan tajam. Hanya beberapa detik sebelum ia mengubah ekspresinya menjadi teduh.


Alex berbalik dan menatap Aurel. Ia lalu menangkup wajah Aurel untuk menatapnya. Wajah takut Aurel terpampang nyata di mata Alex. Rasanya Alex ingin menghajar ketiganya habis-habisan. Hanya saja ia tidak ingin Aurel lebih takut lagi.

__ADS_1


__ADS_2