
Gadis Penjual Kue
Alex benar-benar memenuhi ucapannya kepada Mario. Ia selalu menjaga Aurel setiap saat. Aurel seperti mempunyai pengawal jika pergi bersama dengan Alex.
"Alex, cepat!" desak Aurel agar Alex melakukan urusannya dengan cepat.
"Sebentar lagi aku selesai, kamu bisa menunggu di depan jika mau," balas Alex yang sedang bergulat dengan buku dan pulpennya.
Alex berusaha untuk cepat karena ia tidak mau Aurel menunggunya dengan lama. Tetapi, apalah dayanya yang kalau menulis lama. Jika cepat, Alex takut tulisannya tidak rapi.
Mendengar jawaban Alex, Aurel mendengus kesal. Lebih baik ia pulang terlebih dahulu tadi, daripada menunggu Alex dengan waktu yang sangat lama.
Aurel adalah tipe orang yang mudah bosan, apalagi dengan sesuatu yang tidak ia sukai.
"Ya sudah, aku tunggu di luar, ya." pamit Aurel, ia bosan melihat Alex yang terus menulis.
Aurel langsung keluar sebelum mendengar jawaban Alex, ia keliling kampus untuk melihat-lihat.
Tak sengaja, Aurel melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Perlahan, ia mendekat ke sana. Mata berbinarnya menelusuri area yang ia temukan.
"Wah, ternyata kantin di sini lebih banyak makanannya," gumam Aurel. Melihat semua makanan itu, membuat perut Aurel menjadi lapar.
"Aku ingin memakan semuanya, tetapi tidak mungkin akan cukup di perutku." ucap Aurel memegang perutnya yang kecil, ia melihat keadaan perutnya. Kenapa perutnya sangat kecil?
Aurel harus memilih salah satu makanan yang enak untuk ia makan. Aurel sendiri sekarang sedang menatap mereka secara bergiliran dengan mondar-mandir, menunjukkan bahwa ia sedang bingung akan memilih makanan yang mana.
Sedangkan Alex, setelah Aurel mengatakan akan menunggu di luar, dengan cepat ia membereskan buku-bukunya dan ikut menyusul Aurel. Alex tidak peduli dengan catatannya yang belum selesai, tidak masalah jika ia akan menyelesaikan nanti hingga tengah malam.
Sedari tadi Alex menyaksikan semua kelakuan Aurel, lelaki itu menggelengkan kepalanya melihat kelakuan konyol Aurel. Dari Aurel pergi ke kantin dengan mata berbinar dan sekarang Aurel sedang mondar-mandir sembari menatap pedagang secara bergantian.
Kedua mata Alex tidak lepas dari Aurel, ia terus mengawasi dan menjaga Aurel. Alex tidak ingin Aurel terluka seperti yang sudah terjadi waktu lalu. Alex terkekeh ketika Aurel ingin membeli salah satu makanan, tetapi berakhir tidak jadi.
Alex melangkahkan kakinya, ia berjalan mendekat ke arah Aurel. Alex menepuk bahu gadis itu, seketika Aurel yang sedang memilih makanan terkejut.
__ADS_1
"Alex!" sentak Aurel dengan marah.
Alex selalu saja sering kali membuat Aurel terkejut dengan kelakuannya itu. Padahal tadi Alex masih berada di kelas, tetapi kenapa tiba-tiba ada di sini?
"Kamu ini selalu saja mengagetkanku!"
Melihat Aurel mengomel, Alex menjadi gemash sekali. Ingin ia cubit pipi Aurel. Alex mengusap rambut bergelombang Aurel.
"Kenapa? Bingung memilih makanan?" tanya Alex tidak membalas omelan Aurel.
Aurel mengangguk mendengar pertanyaan Alex, ia sungguh bimbang ingin memilih beli yang mana. Ketika Aurel melihat makanannya, semuanya terasa enak membuat Aurel ingin membeli semuanya.
"Semuanya terasa enak, apa aku beli semuanya saja, ya?” tanya Aurel menatap Alex seperti meminta pendapat.
"Hei, kamu mau membeli semuanya? Apa perutmu akan mampu menampung makanan sebanyak itu?" tanya Alex balik.
Raut wajah Aurel terlihat seperti sedang berpikir. Melihat itu, Alex menahan senyumnya. Ini sangat lucu. Pikirnya.
Alex mencubit pipi Aurel. "Sudah, jangan terlalu memikirkan hal yang tidak penting. Nanti memori otakmu akan penuh," ucap Alex.
"Makanan apa itu? Bubur?"
Alex menggelengkan kepalanya. "Tidak, bukan. Yang lembut bukan berarti bubur, Aurel." jawab Alex memberitahu.
Alex sudah bosan mendengar kata makanan itu dari mulut Aurel. Menurutnya, bubur memang lembut tetapi hambar dan Alex tidak menyukai itu.
"Terus apa?"
Alex tidak menjawab pertanyaan Aurel, ia menarik lengan Aurel untuk ikut bersamanya. Mereka berjalan menuju ke salah satu pedagang dengan Alex yang memesankan.
"Nah, ini dia. Cobain," suruh Alex, ia mengambil makanan itu dengan sendok lalu menyuapi Aurel.
Aurel membelakan matanya merasakan makanan ini yang sangat lembut. Ia langsung merebut sendok dan piring dari hadapan Alex dan memakannya dengan lahap.
__ADS_1
"Ini enak sekali, kenapa kamu tidak bilang ada makanan seperti ini?"
"Kamu tidak bertanya kepadaku," jawab Alex dengan acuh tak acuh.
Aurel meminta Alex untuk membelikan lagi agar bisa dibawa pulang, dengan senang hati Alex membelikannya. Sekarang mereka sedang menuju ke mobil Alex dengan Aurel yang memeluk lengan Alex sembari memakan Es Krim.
Tanpa Aurel sadari, Alex diam saja karena gugup lengannya dipeluk oleh Aurel. Hati Alex membuncah, perasaan bahagia mulai memasuki relung hatinya.
"Aw!" desis Aurel yang hampir terjatuh, untungnya ditahan oleh Alex karena refleks.
Mereka berjalan dengan Aurel yang sibuk memakan Es Krim dan Alex yang sedang berperang dengan pikiran dan hatinya, sehingga mereka tidak melihat jalan dan berakhir menabrak seseorang.
"Alex, Es Krim aku!" rengek Aurel ketika Es Krimnya sudah jatuh berserakan.
"Iya nanti beli lagi, ya." jawab Alex. Ia beralih menatap gadis yang mereka tabrak.
"Kak, maaf ya. Kami tidak sengaja menabrak Kakak, biar saya ganti kuenya," ucap Alex meminta maaf kepada gadis penjual kue itu.
Terlihat gadis itu berjongkok untuk merapikan kuenya kembali agar tidak mengotori jalan. Alex ikut berjongkok dan membantu gadis itu diikuti oleh Aurel.
"Biar kami bantu,"
Nafa, gadis penjual kue itu tak sengaja melihat paras Alex yang tampan. Seketika matanya terhipnotis dengan wajah Alex, ia sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari Alex yang sedang membantu membereskan kuenya.
"Kuenya keras, tidak lembut!" protes Aurel memuntahkan kue yang sudah ia makan dengan tisu yang ia bawa.
Melihat kue yang gadis itu jual, membuat Aurel penasaran akan rasa kue itu. Dan timbullah rasa untuk mencicipi kue itu, setelah merasakan tekstur dan rasanya seketika Aurel menyesal telah mencoba. Ia tidak menyukai tekstur kue yang keras, tidak lembut seperti makanan yang Alex belikan tadi.
Mendengar Aurel memprotes kuenya, Nafa mendelik kesal. Apa gadis ini sedang mengejek kuenya?
Alex segera membantu mengambil tisu dan membersihkan mulut Aurel. Aurel selalu saja bertindak ceroboh membuat Alex harus lebih waspada untuk menjaganya.
"Maaf ya, Kak. Ini sebagai gantinya," ucap Alex sembari menyerahkan beberapa lembar uang kepada Nafa.
__ADS_1
Dalam hatinya, Nafa berdecak kagum. Selain parasnya yang tampan, sikap lelaki di depannya juga sopan dan bertanggung jawab. Sayangnya sebelum ia menjawab ucapan Alex, lelaki itu telah pergi dengan Aurel.
Nafa berdesis kesal, ia tidak suka kepada gadis yang tadi. Nafa segera mengambil ponselnya yang terjatuh, ia juga tadi terlalu sibuk bertelepon sehingga mereka bertabrakan.