
Diam-diam Farel mulai tertarik pada Aurel. Ia hanya mengulas senyum tipis saat Aurel mengatakan beberapa hal tentang dirinya. Farel suka, cara Aurel menceritakan dirinya dengan antusias. Apalagi ekspresi wajah gadis itu saat menjelaskan. Benar-benar menggemaskan.
“Sekali lagi terima kasih, untuk coklat ini. Jika lain kesempatan kita bertemu, aku akan menggantinya,” tutur Aurel, mengucap kata terima kasih entah yang keberapa kalinya. Sejak berdiri di depan meja kasir hingga sekarang, sudah tak terhitung berapa kali Aurel mengucap terima kasih. Hal itu membuat Farel gemas sendiri.
“Tidak masalah, lagipula harganya tidak terlalu mahal,” balas Farel, sembari menatap Aurel lekat. Farel mengagumi mata Aurel yang cenderung besar. Sepertinya Farel mengagumi semua yang ada pada diri Aurel. Semua, tanpa terkecuali.
“Ini bukan tentang harga, tapi tanggung jawab. Bukankah ini hutang?” Aurel menunjukkan coklat yang sudah ia makan setengah di depan Farel.
“Tidak, ini bukan hutang. Aku membelikannya untukmu,” tukas Farel meyakinkan Aurel.
“Tapi kenapa? Bukankah kita baru saja kenal? Kenapa kamu membelikan ini untukku?” Aurel beralih menatap Farel dengan sorot mata penuh pertanyaan.
“Anggap saja itu ... hadiah perkenalan?” ujar Farel, berharap Aurel mau menghentikan pembahasan ini. Dan menerima coklat tersebut sebagai hadiah perkenalan dari Farel.
“Aku banyak berkenalan dengan orang, tapi sejauh ini tidak ada istilah hadiah perkenalan. Aku akan menghabiskan banyak uang jika itu ada, saking banyaknya orang yang aku kenal.
Lagi pula jika itu benar adanya, berarti aku harus memberimu juga?” Aurel menatap Farel meminta jawaban untuk pertanyaannya.
Sifat keras kepala Aurel bukannya membuat Farel risi atau sejenisnya. Pria itu justru menganggap ini adalah bentuk kepolosan Aurel. Dan menurutnya ini sangat menggemaskan. Memang benar, saat jatuh cinta kita akan buta pada keburukan orang yang kita cintai.
“Sudah, lupakan saja. Intinya, anggap itu hadiah,” tukas Farel, sembari mendorong pelan coklat di tangan Aurel ke mulut gadis itu.
“Tidak mau! Aku akan mentraktirmu saat kita bertemu lagi!” seru Aurel tak mau kalah.
“Terserah padamu, ini sudah larut. Tidak ingin pulang?” akhirnya Farel mengalah juga. Kata-kata wanita selalu benar dan tak terbantahkan itu ternyata benar adanya.
__ADS_1
“Aku akan disini lebih lama, aku suka berbicara denganmu,” ujar Aurel sembari terus memakan coklat yang dibelikan oleh Farel.
“Kamu menyukainya? Jika ia aku bisa membelikan lagi untukmu,” tawar Farel pada Aurel yang sibuk menggeser plastik yang melapisi coklatnya.
“Tidak perlu. Aku akan membelinya sendiri besok,” tukas Aurel.
“Wah! Lihat kunang-kunang itu, sangat indah!” Aurel berdiri dan langsung berlari kecil mengejar kunang-kunang tersebut. Sialnya sebuah kulit pisang di jalanan membuatnya tergelincir. Tapi ia tidak jadi mencium lantai, saat sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya.
“Astaga, kamu harus berhati-hati Rel. Perhatikan langkahmu,” peringat Farel.
“Terima kasih, maaf jika aku berat.” Aurel merasa tidak enak, karena Farel harus melihat kecerobohannya.
“Tidak, tubuhmu ringan. Sangat ringan bahkan,” ujar Farel.
“Memangnya berapa berat badan kamu?” tanya Farel sembari mengikuti langkah Aurel yang kembali duduk.
“Hanya, empat puluh kilogram,” Papar gadis tersebut.
“Banyak yang ingin memiliki berat badan seperti kamu.”
Pria itu untuk pertama kalinya mulai menemukan fakta-fakta dari banyaknya rumor seputar wanita. Ternyata rumor tentang wanita yang selalu merasa kurang akan dirinya itu benar adanya. Mereka, para wanita akan selalu merasa kurang. Saat mereka berisi, mereka ingin kurus, saat mereka kurus, mereka ingin berisi, saat mereka memiliki kulit coklat, mereka ingin putih, dan yang memiliki kulit putih justru ingin kulit coklat. Jika membahas tentang rasa kurang seorang wanita, itu tidak akan pernah ada habisnya.
Karena sejatinya wanita tidak pernah merasa cukup dengan bentuk fisiknya. Sedikit saja kalian menyinggung tentang fisiknya, maka ia akan berusaha keras untuk memperbaikinya. Ini adalah permasalahan wanita dan ekspektasi orang di sekitarnya. Mereka para wanita terlalu memikirkan ekspektasi orang di sekitarnya, alih-alih menciptakan standar cantik mereka sendiri.
“Tapi, sebenarnya apa kamu menyukai coklat?” tanya Farel, karena tak kunjung mendapat balasan dari Aurel. Gadis itu terdiam, entah karena apa.
__ADS_1
“Aku menyukainya. Saat mendapat masalah sebesar apa pun dan aku memakan coklat, aku merasakan ketenangan tersendiri. Hanya saja aku tidak bisa memakannya terlalu banyak,” Papar Aurel sembari meremas plastik sisa coklat yang sudah ia lahap habis. Ia lalu melemparkannya ke tempat sampah yang berada tidak jauh darinya.
“Kamu mengorbankan ketenanganmu, hanya untuk ekspektasi orang-orang? Itu hanya akan menyiksamu, jangan terlalu memikirkan apa yang orang pikirkan. Mereka belum tentu memikirkanmu juga,” tukas Farel dengan pandangan yang masih lurus ke depan, tanpa menatap Aurel. Melihat pemandangan di depannya, menikmati angin yang berhembus.
“Aku bukan memenuhi ekspektasi mereka, hanya menyelamatkan mentalku dari ucapan-ucapan mereka tentang aku. Karena jika aku tidak memperbaiki apa yang mereka singgung, mereka akan terus menyinggungnya. Itu bisa mengganggu mentalku, aku hanya menyelamatkan diriku sendiri,” sergah Aurel. Gadis itu menyampaikan apa yang selama ini ia pikirkan tentang orang yang menganggap kami, para perempuan sibuk memikirkan ekspektasi orang lain. Kenyataannya tidak seperti itu, kami hanya berusaha menyelamatkan diri kami sendiri. Karena dunia dan isinya memang semenyeramkan itu.
Farel terdiam mendengar penuturan Aurel. Akhirnya mereka sama-sama diam, membiarkan suara jangkrik menguasai malam. Hingga setelah beberapa saat, akhirnya Farel buka suara.
“Sudah larut, aku akan mengantarmu pulang. Katakan dimana alamatmu,” titah Farel. Pria itu tidak bertanya Aurel ingin pulang atau tidak, tapi ia menyuruh Aurel pulang. Farel akan mengantarnya jika Aurel mengizinkan. Jika tidak, tentu saja ia akan memaksa. Malam sudah cukup larut, tidak baik bagi gadis seperti Aurel pulang sendirian. Terlebih Aurel tidak membawa kendaraan. Farel takut terjadi sesuatu jika membiarkan Aurel pulang sendirian. Dia seorang gadis!
“Aku bisa pergi sendiri, jadi tentu saja aku juga bisa pulang sendiri,” balas Aurel. Sesuai dugaan Farel, gadis itu menolak. Itu hal yang lumrah, karena keduanya baru bertemu beberapa menit yang lalu. Jadi wajar jika Aurel masih membatasi dirinya dengan Farel.
“Tidak, aku orang terakhir yang bersamamu. Aku bertanggung jawab mengantarmu pulang. Karena jika terjadi sesuatu di perjalanan pulang, aku yang harus bertanggung jawab.”
Farel berdiri dan meraih kunci motor di sebelah tempat ia duduk. Menatap Aurel yang masih duduk, gadis itu juga menatapnya.
“Aku tidak mau, jangan memaksa,” tukas Aurel dengan wajah datarnya, gadis itu tidak suka saat seseorang memaksanya. Siapa pun itu, Aurel tidak suka di paksa.
“Katakan saja di mana rumahmu, dan aku akan mengantarmu. Berbahaya pulang sendirian di jam begini,” sergah Farel tak ingin kalah. Aurel berdesah jengah karena Farel yang sama keras kepalanya dengan dirinya.
Saat Aurel menyebutkan alamat rumahnya dengan ogah-ogahan, Farel justru minder karena alamat tersebut adalah kompleks perumahan elite. Farel pernah pergi kesana untuk sebuah urusan. Dan kompleks tersebut benar-benar gila, sembilan puluh sembilan persen isinya adalah rumah-rumah yang terlihat seperti istana.
Akhirnya Farel membiarkan Aurel pulang sendiri, tetapi diam-diam ia mengawal Aurel hingga sampai di rumah dengan selamat. Ia semakin minder saat melihat rumah Aurel. Rumah dengan nuansa Eropa yang sangat mewah.
Ia lalu memilih pulang setelah memastikan Aurel benar-benar sampai di rumah dengan selamat. Farel menepis jauh-jauh rasa kagumnya pada Aurel.
__ADS_1