
Pagi ini, Farel berangkat ke butik dengan berjalan kaki. Jika dibilang apakah jauh? Sangat jauh. Dahi Farel dibanjiri keringat, karena terik matahari yang menyengat.
Ingin menaiki angkutan umum, tetapi uang Farel sudah habis. Ia harus menunggu gajian dahulu, untuk bisa naik angkutan.
"Huh!" Farel mengelap keringatnya dengan lengannya. Tenggorokannya kering, ingin sekali ia membeli minum. Tetapi tidak ada uang, untuk naik angkutan umum saja tidak bisa.
Farel melihat jam di pergelangan tangannya, kini sudah menunjukkan jam sembilan. Jam itu adalah hadiah dari bapaknya saat ia mendapatkan peringkat satu pada SMP. Jadi, jam itu sudah lama sekali.
Farel berlari ke arah toko. Ia panik ketika jam sudah mepet dengan jam masuk dirinya. Pasti akan telat.
Sampai di depan toko, Farel mengatur nafasnya yang sudah tidak beraturan akibat berlari. Ia memegang dadanya yang naik turun. Ketika sudah teratur nafasnya, Farel membuka pintu tokonya.
Di dalam toko, sudah banyak pelanggan. Semua teman-temannya yang merupakan karyawan pun bekerja melayani pelanggan dengan baik, Farel melihat jam yang berada di pergelangan tangannya lagi. Dan ternyata, ia sudah telat.
Farel menuju ke meja kasir, karena ia bekerja sebagai kasir. Di sana, kursinya sudah di duduki oleh majikannya dengan banyak pelanggan yang mengantri untuk membayar.
Farel meringis, ia pasti akan di marah karena telat. Farel berjalan menuju meja kasir.
"Permisi, Tuan. Biar saya saja, Tuan. Maaf saya telat," ucap Farel dengan kepala menunduk.
Majikan Farel yang sedang melayani pelanggan, sontak menoleh ke arah Farel.
"Tidak apa-apa, Farel. Ini silakan kamu lanjutkan, yaa."
Farel mengangguk. Tentu saja ia akan melanjutkan, ini sudah menjadi tugasnya. Farel duduk di kursi ketika majikannya sudah beranjak berdiri. Ia menaruh tasnya di kursi sebelahnya.
"Farel, nanti setelah selesai ini kamu ke ruangan saya, ya."
Farel mengangguk. Tetapi, dalam otaknya ia memikirkan ada apa majikannya itu menyuruh dirinya datang ke ruangannya? Apakah ada suatu kesalahan yang ia lakukan? Atau memang ada hal penting yang ingin dibicarakan dengannya?
Pikiran Farel bercabang memikirkan banyak hal. Tetapi, hal penting itu bukan dipecat, kan?
"Mas, tolong ya ini belanjaan saya cepat ditotalin," sahut pelanggan yang paling depan memprotes, karena melihat Farel hanya diam terbengong tanpa melakukan pekerjaan.
Badan Farel tersentak, ia lupa jika sedang melayani pelanggan. Dengan segera ia meminta maaf dan menjalankan pekerjaannya.
__ADS_1
"Maaf, ya. Ini total semuanya," ucap Farel menunjukkan angka nominal.
Pelanggan itu hanya mengangguk, ia mengeluarkan uang dari dompetnya untuk membayar baju-bajunya.
"Terima kasih telah belanja di toko kami."
Farel menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, ia tidak mau berbuat kesalahan yang membuat pelanggan kesal.
Bertemu lagi dengan Aurel pada saat ia sedang mencari kakaknya, membuat Farel lagi-lagi terpesona dengan gadis itu. Gadis yang jika tersenyum lobang dipipinya muncul, membuat Farel terpesona ketika memandangnya, seakan gadis itu mempunyai kekuatan untuk menarik perhatian dirinya.
Namun, setiap kali melihat pakaian yang dipakai atau tempat yang dikunjungi Aurel. Farel kerap kali merasa minder ketika bertemu dengan Aurel. Gadis itu terlihat mewah walaupun dengan pakaian sederhana pun.
Ingin sekali Farel mengungkapkan rasanya, tetapi ia juga harus memastikan perasaan ini hanya sekedar penasaran atau bukan. Selain alasan itu, Farel memiliki alasan lain. Yakni, perbedaan kasta mereka. Pasti akan sulit.
Setelah selesai melayani semua pelanggan, Farel membereskan meja kasirnya. Sesuai perintah majikannya, Farel pergi ke ruangan setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Kak, saya titip pekerjaan dulu, ya? Siapa tahu nanti ada pelanggan nanti, soalnya saya tadi disuruh tuan untuk ke ruangannya." ucap Farel meminta tolong kepada teman satu pekerjaannya.
"Ya sudah, kamu ke ruangan tuan saja. Saya akan menggantikan kamu selagi kamu di sana,"
"Masuk!"
Terdengar suara perintah dari dalam ruangan. Farel membuka pintu ruangan itu dengan pelan, ia masuk ke dalam.
"Duduk!" titah majikannya untuk duduk dikursi yang berada di depannya.
Farel menurut, ia duduk dikursi yang telah disediakan.
"Farel,"
"Iya, Tuan?" jawab Farel dengan gugup.
Sepertinya yang ingin dibicarakan oleh majikannya adalah hal serius. Seingat Farel, ia tidak melakukan kesalahan.
“Dimana data penjualan toko butik ini? Bukankah kemarin aku menyuruhmu untuk mengerjakannya?" tanya majikannya dengan heran.
__ADS_1
Ia sudah menyuruh Farel mengerjakan, tetapi kenapa hari ini Farel tidak ada berbicara dengannya soal data itu? Membuat dirinya mau tak mau harus menagih.
Mata Farel membulat. Astaga, ia lupa membawa berkas yang berisi data itu. Farel kira majikannya memanggil dirinya untuk memecat, ternyata menanyakan data itu.
"Saya lupa membawanya, Tuan. Apakah boleh aku mengambilnya sekarang?" tanya Farel meminta izin kepada majikannya.
Farel sungguh lupa membawanya karena takut telat, ia buru-buru berangkat dengan berjalan kaki.
“Silahkan, aku akan menunggumu mengumpulkan berkas data itu hingga sore.”
Setelah mendapatkan izin, Farel bergegas keluar dari ruangan, ia menuju ke rumahnya untuk mengambil berkas itu. Tidak lupa, Farel juga menitipkan pekerjaannya kepada temannya selagi ia pergi.
Farel berlari di bawah teriknya matahari menuju rumahnya. Rumahnya begitu jauh dari toko butik tempat ia bekerja, keringat membasahi wajahnya, bahkan kini bajunya sudah basah. Farel sungguh letih.
Akhirnya, Farel sampai di depannya rumahnya. Di depan rumahnya, terdapat sebuah mobil yang terparkir. Tentu saja membuat Farel bingung, apakah ada tamu yang datang ke rumahnya? Pikirnya.
Farel tak ambil pusing, ia mencopot sendalnya lalu masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil berkas yang tertinggal.
“Farel?”
Farel menoleh kepada ibunya yang sedang berada di depan pintu. “Sudah pulang? Cepat sekali,” ucap Vanesa dengan heran.
Biasanya Farel pulang jika sudah sore atau hampir malam. Bahkan biasanya pun Farel pulang malam hari.
“Aku pulang karena ada berkas yang tertinggal, Ibu.”
“Kamu ini. Bukankah sudah Ibu bilang? Jika ingin berangkat periksa tasmu dan ingat-ingatlah, ada tidak barang yang kamu lupakan,” balas Vanesa mengomeli Farel dengan menggelengkan kepalanya.
Farel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal mendengar ocehan ibunya. Ia menyesal karena tidak mendengarkan ucapan ibunya sebelumnya.
Saat ia sudah masuk ke dalam rumah untuk mengambil berkas, tanpa sengaja matanya menangkap Aurel yang sedang duduk di ruang tamu bersama dengan kakaknya dan lelaki di sampingnya.
“Aurel?” gumamnya dengan bertanya-tanya.
Kenapa Aurel bisa berada di rumahnya? Tanpa sengaja, matanya bertubrukan dengan mata Aurel, seketika jantung Farel berdebar lebih kencang. Astaga, perasaan apalagi ini?
__ADS_1
Melihat wajah Aurel yang sangat cantik, membuat Farel gugup bukan main. Farel berusaha untuk menghilangkan rasa gugup itu.