
(Terjatuh)
Melihat dan mendengar orang-orang mencibir, menghina serta menatapnya dengan pandangan remeh dan tidak suka membuat Farel marah. Tetapi ia bisa apa? Ia tidak punya kekuasaan. Jangankan kekuasaan, uang saja ia tidak punya.
Hari ini Farel merasa ini adalah hari sial baginya. Ia harus menanggung malu di restoran ini, di hadapan banyak orang. Karena sudah merasa sangat malu, Farel langsung berdiri. Ia pergi keluar dari restoran meninggalkan Aurel sendirian di sana.
“Kejadian ini membuatku sangat malu. Mengapa bisa aku mengalaminya hari ini?” gumam Farel merutuki dirinya sendiri.
Dengan bodohnya ia mengikuti keinginan Aurel. Padahal ia sendiri tahu bahwa harga makanan di restoran itu pasti mahal, tetapi ia malah menepis pikiran itu dan berpikir bahwa harganya tidak semahal yang ia pikir. Dengan santainya Farel makan dengan tenang mengikuti ucapan gadis itu. Jika sudah seperti ini, ia juga harus menanggung malu yang amat dalam. Kejadian ini akan menjadi kejadian yang sangat memalukan di hidupnya.
Melihat lelaki itu pergi keluar dari restoran, Aurel ingin menyusul Farel. Tetapi tangannya ditarik oleh seorang pelayan.
"Maaf, Kak. Ini kartunya," ucap Pelayan itu mengembalikan kartu debit milik Aurel. Setelah menerima, ia memasukkan ke tas dan mengejar Farel dengan lari yang sangat cepat karena lelaki itu sudah jauh darinya.
Karena terlalu cepat dan juga tidak melihat di sekitarnya, Aurel tanpa sengaja jatuh. Hingga kakinya berdarah, Aurel meringis kesakitan melihat darah yang keluar cukup banyak.
Farel yang merasa Aurel tidak menyusulnya menghentikan langkahnya, ia menoleh ke belakang. Melihat gadis itu yang sedang terjatuh sembari memegang kakinya, Farel terpaksa harus berjalan berbalik arah.
"Farel, ini sakit sekali." Aurel terus menggumamkan kalimat itu dengan meringis. Darah terus keluar dari kakinya dan tidak mau berhenti, Farel mengingat kejadian saat berada di pasar malam. Percuma jika ia membantu gadis itu untuk menghentikan darahnya, karena darah yang keluar tidak bisa berhenti begitu saja.
Farel membantu Aurel untuk bangun dengan memegang lengan gadis itu, raut wajah Aurel seperti ingin menangis.
Aurel berdiri dengan tangan yang masih memegang kakinya, sungguh sakit sekali. Seluruh tubuh gadis itu bergetar hebat, ia takut sekaligus kesakitan.
__ADS_1
"Kita pergi ke rumah sakit, ya?" tanya Farel kepada Aurel yang sedang meringis kesakitan dengan kepala terus melihat ke bawah.
Akan tetapi, Aurel menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau berada di tempat itu lagi. Badan Aurel tidak berhenti bergetar.
"Alex," gumam Aurel yang bisa didengar oleh Farel. Hanya Alex yang bisa membantunya di saat ia terluka seperti ini, gadis itu terus menggumamkan nama Alex terus menerus.
Farel dibuat kesal karena hal itu. Bukankah Aurel mengatakan kepadanya bahwa gadis itu menyukai dan mencintai dirinya? Lalu mengapa terus menyebut nama lelaki lain tepat di depan dirinya?
Aurel yang melihat Farel hanya diam pun memiliki inisiatif untuk mencari bantuan sendiri. Ia membuka tasnya, mencari ponselnya. Saat sudah menemukan barang yang ia cari, Aurel membuka ponselnya dengan tangan bergetar. Ia mencari nama Alex untuk meneleponnya.
Aurel tidak lagi memperhatikan atau memedulikan Farel. Ia harus lebih memikirkan dirinya sendiri, lelaki itu bahkan tidak melakukan pertolongan apa pun. Kalau pun ingin membawa dirinya ke rumah sakit, setidaknya langsung mengajak. Bukan bertanya dahulu.
Sedangkan Alex, lelaki itu masih berada di kampusnya. Lebih tepatnya baru saja keluar dari kelas, Alex berjalan menuju ke gedung jurusan Tata Busana. Tidak peduli jika jarak gedung itu dengan dirinya saat ini sangat jauh. Alex ingin memastikan Aurel masuk kelas atau tidak. Ia khawatir karena gadis itu tidak menerima teleponnya saat pagi tadi. Takut jika terjadi apa-apa, jika Aurel masuk kelas setidaknya gadis itu tidak seperti yang ada di pikirannya. Alex mempercepat langkahnya, tangannya memegang ponselnya dengan erat. Pikiran terus tertuju kepada Aurel.
“Permisi, saya mau tanya. Apakah hari ini Aurel masuk?” tanya Alex dengan sopan.
“Iya, hari ini Aurel masuk. Tadi setelah selesai kelas, Aurel langsung pergi menuju tempat parkir.”
Jawaban mahasiswa itu tentu saja membuat Alex tercengang. Aurel masuk? Tetapi kenapa mereka tidak bertemu? Dan juga, saat ia menghampiri rumah Aurel, gadis itu tidak keluar dari kamarnya. Pintu kamarnya pun terkunci, dan Mario mengatakan bahwa putrinya masih berada di kamar. Sebenarnya kapan Aurel berangkat ke kampus? Mengapa ia tidak tahu?
“Oh begitu. Jam berapa Aurel berada di kelasnya?” tanya Alex lagi, ia masih penasaran dengan gadis itu yang tiba-tiba berada di kampus.
“Sekitar jam delapan.”
__ADS_1
Lagi-lagi Alex dibuat tercengang. Ia bahkan menghampiri Aurel di rumahnya sebelum jam delapan, berarti gadis itu masih berada di kamarnya sesuai ucapan Mario. Hanya saja Aurel lebih memilih mengunci pintu kamarnya dan menghindar dari dirinya, mungkin saja gadis itu sedang marah padanya?
“Oke, terima kasih banyak ya.” Mahasiswa itu menganggukkan kepalanya, lalu pergi dari hadapan Alex. Meninggalkan Alex yang sedang bergelut dengan pikirannya.
Apakah sekarang Aurel sudah pulang ke rumahnya? Karena kelas gadis itu sudah lama selesai. Dengan perasaan campur aduk, Alex menuju ke tempat parkir. Ia menaiki mobilnya dan mulai menjalankan mobilnya menuju rumah Aurel untuk memastikan.
Selama di perjalanan, pikiran Alex masih saja tertuju ada Aurel. Alex memasukkan mobilnya ke halaman rumah Aurel, turun dari mobilnya. Ia masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru.
Saat ia ingin menaiki tangga untuk menuju ke kamar milik Aurel, Alex bertemu dengan Bibi Jane. “Bibi, apakah Aurel sudah pulang?” tanya Alex.
“Tidak tahu, Tuan Muda. Sedari tadi Bibi berada di dapur,” jawab Bibi Jane dengan menundukkan kepalanya. Meskipun Alex tidak marah, ia takut menatap mata tajam lelaki itu.
Alex melanjutkan perjalanannya untuk menaiki tangga, ia membuka pintu kamar Aurel. Ternyata bisa terbuka, Alex masuk ke dalam. Gadis itu tidak berada di kamarnya, lalu di mana Aurel berada?
Pikiran Alex kalut. Tiba-tiba ponselnya berdering menunjukkan nama Aurel. Dengan cekatan cepat ia menerima telepon itu, terdengar suara rintihan dari seberang telepon.
“Aurel? Ada apa denganmu?” tanya Alex dengan panik.
“Alex, kakiku berdarah. Bisakah kamu menjemputku?”
“Tentu saja bisa, kirim lokasimu. Aku akan segera menuju ke sana.”
Setelah itu, sambungan telepon mereka terputus. Alex langsung menuju ke tempat Aurel berada saat gadis itu sudah mengirimkan lokasinya.
__ADS_1