
Mario benar-benar khawatir dengan keadaan putrinya. Pasalnya Aurel tidak akan keluar kamar, ia mengurung dirinya di kamar seharian. Tidak tahu apa yang Aurel lakukan di dalam kamar. Bahkan, untuk makan saja gadis itu tidak keluar. Mario yang mendengar itu segera membawa makanan ke kamar Aurel, agar perut putrinya terisi.
Saat ini Mario sedang berada di kamar Aurel dengan membawa nampan yang di atasnya terdapat piring berisi makanan, ia mengetuk pintu kamar putrinya itu.
"Aurel?" panggil Mario. Sudah beberapa kali ia memanggil putrinya, tetapi tidak ada jawaban dari dalam kamar seakan gadis itu enggan untuk keluar.
Tentu saja Mario dibuat bingung dengan perilaku Aurel akhir-akhir ini. Jika pun keluar untuk pergi ke kampus atau ia memaksa gadis itu untuk duduk di ruang tamu, pasti Aurel hanya diam. Tidak ada wajah ceria seperti yang gadis itu keluarkan.
"Aurel, ayo makan dulu. Sedari siang kamu belum makan," ucap Mario lagi. Memang setelah pulang dari kampus, Aurel langsung masuk ke kamarnya sampai sekarang pun juga belum keluar.
Karena Aurel tidak kunjung keluar juga, akhirnya Mario mengalah. Ia membawa kembali nampan itu ke dapur lagi. Mario mengambil ponselnya yang berada di kantong baju, ia akan menelepon Alex. Mungkin saja lelaki itu tahu apa yang dialami oleh Aurel, hingga membuat gadis itu seperti ini.
"Alex, Om ingin bertanya kepadamu." Begitu telepon tersambung, belum sempat Alex berbicara. Tetapi Mario sudah lebih dulu berbicara.
"Ingin bertanya apa, Om?" tanya Alex. Jika begini pasti ada hal penting yang akan Mario tanyakan, pasalnya pria itu begitu serius.
"Apakah terjadi sesuatu dengan Aurel? Gadis itu menjadi pendiam sekarang, bahkan terus mengurung diri di kamar."
Mendengar ucapan Mario membuat Alex berpikir. Tidak ada kejadian di kampus, tetapi mengapa Aurel mengurung diri? Apa ini ada hubungannya dengan Farel? Mengingat nama lelaki itu saja sudah berhasil membuat emosi Alex bangkit.
"Tidak, Om. Di kampus tidak terjadi apa pun," jawab Alex dengan heran. Apakah terjadi sesuatu dengan gadis itu? Apa yang membebankan pikiran Aurel?
"Apakah aku boleh ke sana?" lanjut Alex dengan bertanya meminta izin dari Mario. Karena hari sudah sore, ditakutkan jika ia tidak izin Mario akan marah padanya.
"Tentu saja. Kemarilah, Om membutuhkan bantuanmu untuk membujuk Aurel agar keluar dari kamarnya dan mau makan."
__ADS_1
Mana mungkin Mario menolak niat baik Alex. Malah ia yang sedang membutuhkan bantuan lelaki itu untuk membujuk Aurel. Mungkin dengan datangnya Alex membuat gadis itu merasa mempunyai teman dan akhirnya bercerita.
"Baik, Om. Alex akan segera sampai," jawab Alex sebelum akhirnya memutuskan sambungan teleponnya.
Alex langsung bersiap untuk pergi ke rumah Aurel. Saat ingin pergi, James dan Kimberly yang baru saja keluar dari kamar memanggil Alex. Ini sudah sore, tetapi putranya sudah rapi seakan ingin pergi.
“Alex, ingin pergi ke mana? Ini sudah sore.”
Alex mendekat ke arah kedua orang tuanya. “Aku ingin ke rumah Aurel, Mi. Tadi om Mario meneleponku,” jawab Alex dengan meminta izin kepada orang tuanya.
“Ya sudah, hati-hati di jalan.”
Alex mengangguk, ia pergi keluar dari rumah. Alex menaiki mobilnya dan mulai menjalankan. Meskipun ia sedang marah besar dengan Aurel, jika di saat seperti ini tidak mungkin ia akan tega mengabaikan gadis itu. Aurel harus tahu bahwa Alex sangat mencintainya, ia rela menurunkan egonya demi gadis itu.
Sebelum sampai di rumah Aurel, Alex mampir sebentar untuk membeli bubur kesukaan Aurel. Jika gadis itu bisa menolak makanan yang sudah tersedia di rumahnya, tetapi Aurel tidak mungkin menolak makanan kesukaannya, bukan?
Tidak perlu waktu lama, akhirnya Alex sampai di rumah Aurel. Di depan rumah sudah ada Mario yang sedang duduk. Sepertinya pria itu menunggu kedatangan Alex.
“Om,” sapa Alex kepada Mario
Melihat Alex yang sudah datang, Mario bangkit dari duduknya. “Ayo langsung masuk saja,” ajak Mario.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah. “Tolong kamu bawakan makanan itu ke kamar Aurel, ya. Siapa tahu dia mau makan jika kamu yang membawanya,” ucap Mario saat mereka sedang berada di meja makan. Di meja terdapat piring berisi makanan yang sudah Mario siapkan untuk Aurel.
“Om, boleh tidak jika aku memasak bubur untuk Aurel? Mungkin saja dengan bubur ini Aurel mau makan,” ucap Alex dengan mengangkat bingkisan yang berisikan kemasan bubur.
__ADS_1
“Tentu saja boleh. Agar kamu lebih leluasa, Om tinggal dulu, ya?” Alex mengangguk.
Setelah melihat Mario pergi, Alex mulai memasakkan bubur untuk Aurel. Sebenarnya Alex tidak bisa memasak, tetapi ia berusaha dengan mencari cara dari ponsel.
Setelah lama kemudian, Alex menatap piring yang berisi bubur itu dengan bangga. Ia membawa nampan yang berisi mangkuk dan gelas, Alex berjalan menuju ke kamar Aurel. Sesampainya di sana, Alex mengetuk pintu Aurel tanpa mengeluarkan suara.
“Aurel sudah kenyang, Pa!” seru Aurel dari dalam kamar.
Mario yang melihat itu segera membukakan pintu kamar Aurel dengan kunci cadangan. “Masuklah.”
Alex masuk ke dalam kamar Aurel, ia bisa melihat Aurel yang sedang duduk di meja belajarnya. Tangannya mencoret-coret kertas.
“Aurel, ayo makan dulu. Aku sudah memasakkan bubur kesukaanmu,” ucap Alex.
Aurel menoleh ke belakang, seketika ia terkejut melihat Alex berada di sini. “Kamu? Sejak kapan berada di sini?” tanya Aurel dengan menatap Alex menyelidik.
“Tidak penting untuk itu. Ayo makan, aku akan menyuapimu.”
Alex mengajak Aurel untuk duduk di ranjang. Gadis itu menerima suapan Alex, di sela-sela kunyahannya Aurel mengajukan pertanyaan kepada Alex. “Alex, apakah aku pantas untuk seseorang?”
Alex terkejut dengan pertanyaan Aurel. “Pantas seperti apa yang kamu maksud?”
“Aku memiliki penyakit yang mungkin tidak akan bisa sembuh. Aku takut jika nanti mempunyai anak, anakku akan memiliki penyakit yang sama sepertiku.” Aurel mengatakan itu dengan wajah masamnya. Jika boleh memilih, ia juga ingin menjadi gadis yang kuat.
“Tidak, Aurel. Kamu itu sangat pantas untuk seseorang, bahkan sangat sempurna. Aku akan selalu menjagamu dan anakmu nanti,” jawab Alex dengan tersenyum lembut kepada Aurel.
__ADS_1
Di dalam hatinya, ia penasaran kenapa Aurel berbicara seperti itu. Ia akan mencari tahu setelah ini.
Alex menemui Farel untuk, ia yakin lelaki itu yang membuat Aurel berbicara seperti itu. Saat ini Alex sedang menuju ke toko butik, ia melihat Farel di depan toko itu. Tanpa aba-aba, Alex menonjok Farel.