Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 43 Menghindar


__ADS_3

(Menghindar)


Semenjak kejadian di mana Alex marah kepada Aurel hingga memberi gadis itu hukuman. Kini gadis itu sedang duduk dipinggir ranjangnya. Marah? Tentu saja. Kenapa Alex harus melakukan hal itu kepadanya? Aurel merasa sakit hati kepada lelaki itu.


Tidak tahukah perlakuan Alex yang menciumnya dengan kasar pada hari itu menimbulkan bekas luka dalam hatinya? Dan juga, Alex mengatainya bodoh. Ternyata lelaki itu melihat saat ia mengungkapkan rasa pada Farel, dan pada hari itu Alex mengatainya bodoh karena perbuatannya itu.


Padahal menurutnya cinta itu boleh diungkapkan, bukan? Tidak harus di pendam. Tetapi mengapa Alex memarahinya? 


Tanpa Alex sadari, perbuatannya itu membuat Aurel marah, kesal serta memiliki keinginan untuk menghindar dari lelaki itu. Aurel terlanjur memiliki perasaan benci kepada Alex.


Seperti biasa, hari ini Alex datang ke rumah Aurel untuk pergi ke kampus bersama. Lelaki itu mulai menghentikan mobilnya di halaman rumah Aurel. Alex turun dari mobil, memasuki rumah Aurel. Saat ingin masuk, Alex bertemu dengan Mario yang akan berangkat kerja.


"Om," ucap Alex menyapa. Mario menjawabnya dengan anggukan serta senyuman.


"Aurel masih ada di kamarnya. Om tinggal, ya." pamit Mario dengan membawa tas kerja. Ia keluar dari rumahnya, memasuki mobil yang berada di depan gerbang.


Alex mulai menaiki tangga untuk menuju ke kamar Aurel, ia mengetuk pintu kamar gadis itu. Tetapi, tidak ada tanda-tanda pintu itu akan terbuka. Alex mengernyit bingung, sudah beberapa menit ia menunggu di depan pintu itu dengan mengetuknya beberapa kali. Apakah Aurel tidak ada di dalam kamarnya? Tetapi Mario tadi berkata gadis itu masih di dalam kamar. 


Bisa jadi Aurel sedang mandi, bukan? Baiklah. Alex akan mencoba menunggu lagi, ia menyenderkan punggungnya di tembok yang dekat dengan pintu itu sembari memainkan ponselnya.


Tidak terasa, sudah setengah jam Alex menunggu Aurel di depan pintunya. Tetapi gadis itu tidak juga membuka pintu kamarnya. Sebenarnya ada apa dengannya?  Alex mencoba untuk membuka pintu itu, tetapi hasilnya nihil, pintu itu dikunci dari dalam kamar.


Jika sudah begini, tidak mungkin Aurel berada di dalam kamarnya. Alex memusatkan perhatiannya kepada ponsel yang berada di tangannya, matanya menelusuri sebuah aplikasi yang ia buka. Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Alex memencet sebuah tombol.


Lelaki itu menelepon Aurel, takut jika ada apa-apa dengan gadis itu. Karena Mario mengatakan bahwa Aurel masih berada di dalam kamarnya. 

__ADS_1


Panggilan telepon dari Alex tidak dijawab oleh Aurel. Lelaki itu mencoba untuk menelepon lagi, berharap agar Aurel dapat menjawab sambungan teleponnya. Tetapi tetap saja tidak dijawab, dan hal itu berhasil membuat Alex khawatir sekaligus bingung.


Di saat ia ingin pergi untuk mencari Aurel, ponselnya berdering menampakkan nama teman satu kelasnya. Alex menerima sambungan ponselnya.


"Ada apa?" 


"Cepat berangkat ke kampus, kita akan segera masuk dan presentasi."


Presentasi? Alex melupakan hal itu. Dengan cekatan cepat ia mematikan sambungan teleponnya dan segera keluar dari rumah Aurel. Alex mulai memasuki mobilnya dan menjalankannya menuju kampus.


Aurel membuka selimut yang menutupi seluruh badannya, ia menghembuskan nafasnya lega. Hari ini dengan sengaja Aurel menghindar dari Alex karena masih kesal dengan lelaki itu, ia membuka pintunya yang terkunci dari dalam.


"Maaf, Alex. Habisnya kamu sangat menyebalkan!" Aurel bergumam dengan raut wajah senang. 


Aurel mengambil tas kuliahnya,  ia berjalan keluar kamar, menuju ke depan rumah. Di sana, Aurel sedang fokus dengan ponselnya. Ia sedang memesan kendaraan untuk pergi ke kampus melalui aplikasi. Setelah dapat, ia berjalan menuju keluar gerbang.


Aurel menahan tangannya untuk jangan menelepon Farel, tetapi tangannya bergerak memencet sebuah tombol untuk menelepon lelaki itu.


"Halo, Farel. Apakah kamu sedang sibuk?" tanya Aurel dengan rasa canggung. Ia tersenyum kikuk saat mendengar suara berisik dari lawan bicaranya.


"Lumayan. Sedang banyak pelanggan yang datang, apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan?" tanya balik Farel.


"Saat aku pulang dari kampus, boleh tidak main ke toko butik tempatmu bekerja?"


"Tentu saja boleh."

__ADS_1


Aurel mengukir senyumannya mendengar jawaban Farel. 


“Tetapi, aku tidak tahu di mana letak toko butik itu." Inilah yang membuat Aurel bingung. Ia takut tersesat karena tidak tahu alamat butik itu.


"Tidak jauh dari kampusmu, aku akan memberikan alamatnya padamu nanti."


"Oke siap!" seru Aurel. Setelah itu ia mematikan sambungan teleponnya. Aurel melihat pemandangan luar mobil, ternyata sudah dekat dengan kampusnya.


Tidak lama, mobil itu berhenti karena sudah sampai. Aurel turun setelah membayar mobilnya. Ia menghirup udara dengan memejamkan matanya sejenak, kemudian menghembuskan secara perlahan. 


Aurel membuka matanya, bibirnya membentuk senyuman yang indah dan menarik. Ia mulai berjalan menuju ke bangunan yang menjulang itu.


Beberapa saat telah berlalu, tidak terasa kelas Aurel sudah selesai. Setelah keluar dari kelas, ia langsung memesan kendaraan dari aplikasi lagi dengan buru-buru karena takut bertemu dengan Alex.


Akhirnya mobil yang ia pesan sudah datang dan berhenti tepat di depannya, ia segera masuk ke dalam mobil.


"Pak, kita ke alamat ini, ya." Aurel menunjukkan alamat yang dikirimkan oleh Farel, ia tidak terlalu paham dengan jalan itu.


"Baik, Nona."


Aurel duduk dengan tenang di kursi penumpang saat mobilnya mulai jalan. Sedari tadi bibirnya membentuk lengkungan yang indah di wajahnya, ia senang akan segera bertemu dengan Farel, lelaki yang berhasil membuat dirinya tergila-gila hingga tanpa sadar tidak memedulikan Alex yang sebenarnya memiliki rasa kepada dirinya dan selalu ada di sampingnya.


Aurel lebih memilih untuk membuka lembaran baru dengan orang asing yang baru saja ia kenal. Menurut Aurel Farel itu adalah lelaki sederhana serta baik hati dan berhasil mengambil hatinya. 


Tidak lama, Aurel sudah sampai di toko butik tempat Farel bekerja. Ia turun dari mobil, memandang toko butik yang lumayan besar di hadapannya. Dan benar saja apa yang Farel katakan, di dalamnya terlihat banyak pelanggan karena kaca butik itu yang transparan.

__ADS_1


Aurel memegang tali tasnya dengan gugup, perlahan ia melangkahkan kakinya mendekat ke arah pintu butik itu. Dengan rasa ragu, tangan Aurel melayang untuk meraih gagang pintu dan membukanya. Ia mulai berjalan memasuki toko butik itu. Di dalamnya, terdapat Farel yang sedang sibuk melayani pelanggan. Karena tidak ingin mengganggu, akhirnya Aurel pergi untuk melihat-lihat baju yang sedang berjejer rapi.


__ADS_2