
(Farel Panik)
Farel kini sedang bekerja di sebuah toko, ia hanya karyawan biasa. Kadang kala, Farel ingin seperti remaja lain yang bisa berkuliah tanpa harus memikirkan biaya. Tetapi dirinya? Jangankan untuk kuliah, untuk bekerja sehari-hari saja.
Kini Farel sedang menatap pintu toko dengan merenung. Ia berpikir, kenapa hidupnya tidak seenak orang di luar sana. Yang bisa membeli apa pun untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain. Sedangkan Farel? Ia harus bekerja demi sesuap nasi untuk ibu dan juga kakaknya.
Farel sudah berusaha semaksimal mungkin dengan menggunakan tenaga dan otaknya untuk bekerja, tetapi hasilnya pun tetap seperti ini saja. Tidak ada perubahan di dalam hidupnya.
"Kapan aku bisa mempunyai rumah mewah seperti punya Aurel," gumam Farel mengusap wajahnya gusar.
Sejak malam di mana Farel bertemu dengan Aurel, ia sudah tertarik dengan Aurel. Tetapi, saat melihat rumah Aurel yang menunjukkan bahwa Aurel adalah orang berada, membuat Farel harus mengubur dalam-dalam rasa ketertarikannya.
Farel minder jika berada di dekat Aurel, meskipun ia menyukai gadis itu. Gadis dengan segala tingkah lucu dan polosnya yang membuat dirinya gemas. Tetapi Farel tahu diri dengan kondisinya saat ini. Ia berbeda jauh dengan gadis itu, walau pun nanti Aurel akan menerimanya apa adanya, tetap saja Farel merasa minder. Karena seharusnya yang mapan adalah cowok, bukan cewek.
Farel menghembuskan nafasnya lelah. Ia harus bagaimana lagi agar hidupnya bisa tercukupi tanpa harus kerja habis-habisan? Farel merasa dirinya belum juga diizinkan bahagia, hingga sampai saat ini ia belum menemukan jalan keluar untuk hidupnya agar menjadi lebih baik.
Lamunan Farel menghilang kala ada yang memanggilnya, ia langsung berdiri melihat bosnya yang sudah ada di depan mejanya.
"Farel, tolong kamu jaga toko sebentar, ya. Saya akan pergi sebentar karena ada urusan penting,"
Mendengar itu, Farel menganggukkan kepalanya.
"Baik, Bos." jawab Farel dengan sopan.
Setelah ia menjawab, bosnya pergi keluar toko. Farel duduk kembali dengan beristirahat, ia bisa istirahat ketika toko sedang sepi. Karena tadi pagi toko ini sudah ramai dan itu sangat menguras tenaganya. Bahkan terkadang, toko ini sangat ramai sepanjang hari hingga membuat Farel tidak bisa beristirahat sebentar pun.
__ADS_1
Di saat Farel merebahkan kepalanya ke meja, ia teringat dengan ibunya yang sedang demam di rumah. Farel mengambil ponselnya di dalam kantong, ponsel yang kacanya sudah banyak retakan. Ingin sekali Farel membeli ponsel baru, tetapi tidak bisa. Biarlah sementara ini ia menggunakan yang sedang dia miliki seadanya.
Farel mencari nomor kakaknya dan meneleponnya. Lama Farel menunggu, telepon pertamanya tidak diangkat. Kemudian ia menelepon untuk kedua kalinya dan tetap saja tidak diangkat. Apakah kakaknya mungkin sedang sibuk hingga tidak sempat mengangkat teleponnya? Ya mungkin saja.
Farel menaruh ponselnya di atas meja. Jika sudah tidak sibuk, pasti kakaknya akan menelponnya balik.
Farel berdiri kala pintu tokonya terbuka menampilkan pelanggan. Ia tersenyum ramah seperti biasanya, melayani dan menjawab pertanyaan dari pelanggan yang berhubungan dengan barang tokonya.
"Terima kasih sudah berbelanja di toko kami," ucap Farel ketika menyerahkan barang ke pelanggan.
Sudah setengah jam Farel melayani pelanggan yang bertanya banyak dan menemani memilih barang. Menjadi karyawan toko sebenarnya tidak mudah, hanya saja harus memperbanyak stok kesabaran.
Seperti awal mula Farel bekerja di sini, ia harus menghadapi macam-macam sifat pelanggan yang tentunya sangat menyebalkan. Tetapi, semakin lama Farel bekerja, semakin paham ia dengan sifat pelanggan dan semakin banyak pula kesabaran yang ada di dalam tubuhnya.
Farel mengangkat teleponnya yang ternyata dari kakaknya. Benar pikirannya, kakaknya akan menelponnya balik ketika sudah tidak sibuk.
"Halo, Kak. Aku ingin bertanya, bagaimana kondisi ibu setelah aku berangkat bekerja? Apakah sudah membaik?" tanya Farel langsung pada tujuannya.
Sebelum ia berangkat bekerja, badan ibunya panas menandakan sedang sakit demam. Ingin sekali Farel membawa ibunya ke rumah sakit, tetapi mereka tidak mempunyai uang. Terpaksa Farel hanya bisa membelikan ibunya obat-obatan yang berada di warung, itu pun uangnya kurang hingga mereka menghutang dahulu.
Ibu Farel mengerti dengan kondisi mereka tidak meminta banyak, hanya dengan beristirahat mungkin akan pulih lagi seperti sebelumnya. Oleh karena itu, Farel ingin memiliki banyak uang untuk memberikan apa yang keluarganya inginkan dengan cara bekerja keras.
Namun, ibunya memberi nasihat kepada Farel untuk jangan kelelahan karena bekerja. Biarkan hidup mereka berjalan sesuai dengan takdir, mereka harus bersyukur mempunyai hidup yang tidak mewah tetapi tidak terlalu kurang juga. Tanpa disadari, banyak orang di luar sana yang bahkan tidak mempunyai rumah, keluarga bahkan tidak mempunyai uang.
"Badan ibu sudah tidak panas, dan saat Kakak mau berangkat bekerja, ibu sedang tidur untuk beristirahat."
__ADS_1
"Kakak bekerja? Kenapa tidak di rumah untuk menjaga ibu saja? Biar aku yang bekerja untuk hari ini," balas Farel dengan gelisah.
Farel khawatir nanti jika ibunya kenapa-kenapa di rumah. Masalahnya di rumah tidak ada orang. Wajar saja Farel khawatir dengan berlebihan, karena hanya ibunya orang tua satu-satunya yang Farel miliki.
"Jika Kakak tidak bekerja, bagaimana kita akan makan dan membayar hutang? Sedangkan gaji kamu masih lama,"
Benar juga apa yang dibilang kakaknya. Farel menghela nafasnya, bagaimana jika ia mencari kerja sampingan? Sore Farel pulang dari toko ini, lalu ia langsung bekerja hingga malam. Bukankah itu bisa membuat ekonomi keluarganya membaik?
Farel tidak masalah jika dirinya akan kelelahan, ini juga demi keluarganya. Farel rela melakukan apa pun demi keluarganya.
"Kakak, aku akan mencari pekerjaan sampingan agar bisa membuat keluarga kita lebih enak."
Ucapan Farel langsung ditolak oleh kakaknya. Bagaimana bisa seorang Kakak rela melihat adiknya bekerja keras, lebih baik ia yang bekerja.
"Tidak, aku tidak mengizinkanmu."
Mendengar itu, Farel langsung melayangkan protes. Ia ingin membantu kakaknya juga untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka.
"Akan tetapi, bukankah lebih baik begitu? Kita tidak akan kekurangan banyak uang," jawab Farel.
Setelah itu, Farel tidak mendengar lagi balasan dari kakaknya. Berulang kali Farel memanggil, tetapi tetap saja tidak ada balasan dari seberang. Hal itu membuat Farel panik.
Bagaimana jika kakaknya dalam bahaya? Karena teleponnya mati begitu saja, tanpa kakaknya berpamitan padanya untuk mematikan telepon. Farel sangat hafal dengan sifat kakaknya, jika sedang sibuk pun pasti akan berpamitan terlebih dahulu.
Namun, ini? Tanpa aba-aba kakaknya memutuskan sambungan teleponnya begitu saja? Farel rasa itu bukan kakaknya. Apakah ada sesuatu yang terjadi pada kakaknya? Atau dengan ibunya? Pikiran Farel mulai memikirkan banyak hal yang membuat dirinya panik.
__ADS_1