Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 18 Bertemu dengan Nafa


__ADS_3

Hari sudah petang, Aurel kini sedang menonton televisi bersama Mario di ruang tamu sembari memakan bubur kesukaannya. Malam ini Aurel bisa bersantai karena tidak ada tugas, lagi pula besok juga kuliahnya libur.


Di saat Aurel sedang asyik menonton televisi, ponselnya yang berada di atas meja berdering membuat Aurel mengalihkan pandangannya.


Ingin menerima ponselnya, tetapi film yang Aurel tonton masih seru. Aurel tidak mengambil ponselnya, ia lebih memilih melanjutkan menonton film.


Ponsel Aurel yang berdering tidak mengganggu acara Aurel, hingga ponsel itu berhenti berdering sendiri.


Setelah berhenti berdering, ponsel Aurel kembali berbunyi berkali-kali menandakan banyak pesan yang masuk. Tetapi, Aurel tidak menanggapi itu semua. Ia hanya fokus pada hal yang menurutnya seru.


Hingga, ponselnya berdering lagi. Mario yang sedang berkutat dengan laptop pun akhirnya pusing, karena mendengar suara ponsel dari putrinya.


"Aurel, ponselmu berbunyi berkali-kali. Kamu tidak ingin membukanya?" tanya Mario berusaha untuk lembut. 


Kepala Mario sungguh pening. Pekerjaannya yang menumpuk, ditambah lagi suara berisik yang keluar dari ponsel putrinya.


"Biarkan saja, Pa. Aku sedang fokus menonton film," jawab Aurel dengan matanya yang masih menatap layar televisi.


Mario mendengus kesal, ingin sekali ia membanting ponsel putrinya. Lagi pula, ini sudah malam. Siapa yang menelepon putrinya berkali-kali?


Di saat ponsel Aurel sudah tidak berdering, kini berganti dengan ponsel Mario yang berdering. Ia menerima telepon itu.


"Halo, Alex. Ada apa? Tumben sekali menelepon Om malam-malam begini," ucap Mario dengan heran.


Alex sangat jarang meneleponnya, bahkan bisa dihitung dengan jari. Alex lebih sering mengirimi dirinya pesan penting, dan sekarang Alex menelepon dirinya?


"Malam, Om. Alex ingin bertanya, apakah Aurel ada di rumah?"


Mario menatap Aurel yang sedang fokus menonton televisi sambil memakan bubur. Apakah yang menelepon dan mengirimi banyak pesan kepada putrinya adalah Alex? 


"Aurel ada di rumah, dia sedang fokus menonton film."


Bahkan, Aurel tidak menoleh kepada Mario saat ia menyebutkan namanya. Hingga Mario heran sendiri, Apakah putrinya itu sangat suka dengan film yang saat ini sedang ditontonnya?


"Memang ada apa, Lex? Apakah kamu ingin berbicara dengan Aurel?" lanjut Mario dengan bertanya. Ia memperbesar volumenya agar Aurel ikut mendengar.


Setelah filmnya habis, Aurel sedang mengambil ponselnya. Tampaknya gadis itu sedang menonton film, terlihat dengan ponselnya yang dimiringkan, sesekali tertawa karena ada hal yang lucu.

__ADS_1


"Bukan hal penting, Om. Pasalnya saat aku menelepon atau memberi Aurel pesan, dia tidak mengangkat dan membalas pesanku."


Mendengar suara Alex yang berasal dari ponsel papanya, Aurel menoleh ke arah Mario.


"Papa, yang ada di telepon itu Alex?" tanya Aurel dengan semangat. Apakah Alex menelepon papanya untuk mengajak dirinya keluar?


Mario mengernyitkan dahinya bingung, apakah dari tadi putrinya tidak menyadari bahwa ia sedang berbicara dengan Alex di telepon?


Mario menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Aurel. Mendengar itu, Aurel mengulurkan tangannya ke arah Mario seolah sedang meminta sesuatu.


"Pinjam ponselnya boleh tidak, Pa? Aku ingin berbicara dengan Alex?" tanya Aurel dengan nada memohon.


Tentu saja Mario menuruti permintaan Aurel. Ia senang melihat Aurel seperti tidak ingin jauh dari Alex, pasti Aurel akan setuju jika berbicara bahwa akan menjodohkan Alex dengan putrinya.


"Kamu ingin berbicara dengan Aurel?" tanya Mario kepada Alex. 


Alex juga pasti sudah mendengar apa yang Aurel katakan. Di seberang Alex mendengar ucapan Aurel, jantungnya berdebar-debar. Aurel ingin bicara apa dengannya? Dengan nada semangat seperti itu.


"Boleh, Om. Sekalian saja, soalnya tadi tidak diangkat oleh Aurel," jawab Alex dengan ragu.


Alex malu dengan Mario, ia seperti sedang meminta izin kepada orang tua kekasihnya. Mario mendengar jawaban Alex pun tersenyum, sepertinya Alex juga sama dengan Aurel, yaitu tidak bisa jauh dan ingin dekat terus. 


Mario menyerahkan ponselnya kepada Aurel, ia akan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Aurel menerimanya dengan senang hati.


"Alex, kenapa menelpon Papa? Kenapa tidak meneleponku saja?" tanya Aurel dengan memprotes. 


Mendengar pertanyaan lugu dari putrinya, Mario terkekeh. Rupanya Aurel juga sangat posesif dengan Alex, ia jadi tidak sabar untuk membicarakan sesuatu kepada Aurel.  Mario yakin, Aurel pasti akan senang ketika mendengarnya.


"Aku sudah menelponmu berkali-kali, tetapi kamu tidak mengangkatnya. Bahkan aku mengirimimu banyak pesan, dan kamu tidak membalas satupun pesan dariku," 


Aurel mengernyitkan dahinya bingung. Kapan Alex meneleponnya? Dan, kapan juga Alex mengirimkan pesan? Aurel berusaha mengingat.


Ternyata sedari tadi ponselnya berbunyi berkali-kali karena Alex? Aurel melupakan hal itu.


"Maaf, Alex. Tadi aku sibuk menonton film," jawab Aurel dengan rasa sesalnya.


"Memang kenapa kamu menelepon aku? Ingin mengajakku keluar?" lanjut Aurel dengan bertanya.

__ADS_1


"Tidak, sudah malam. Dapat aku pastikan, Om Mario tidak akan mengizinkan kamu."


Jawaban Alex membuat Aurel mendengus sebal. Padahal bisa saja Alex yang meminta izin, pasti papanya akan memberinya izin. Karena, papanya itu sudah sangat percaya kepada Alex.


"Jadi, ada apa? Apa kamu ingin memberikanku makanan lain yang kamu temui?


"Tidak. Ini bukan tentang makanan," jawab Alex dengan lelah. Belum sempat dirinya berbicara, tetapi Aurel mendahuluinya membuatnya diam kembali.


"Lalu, tentang apa?" tanya Aurel dengan jengah. Sepertinya ia juga lelah dengan Alex yang tidak menyatakan tujuannya secara langsung.


"Besok kuliah free, aku ingin mengajakmu liburan. Kamu mau atau tidak?"


"Mau!" seru Aurel dengan antusias. Tentu saja ia mau, Aurel akan minta bermain di permainan yang seru kepada Alex nanti.


"Aku akan menjemputmu besok pagi. Sekarang kamu tidurlah, selamat malam."


Selepas mengucapkan itu, Alex mematikan sambungan telepon mereka. Aurel memberikan kembali ponselnya kepada Mario dengan wajah berseri-seri.


"Ada apa? Sepertinya kamu terlihat sangat senang," 


"Alex akan mengajakku liburan, karena besok kuliah free. Apakah boleh?" tanya Aurel meminta izin kepada papanya. Meski ia tahu, besok pun Alex akan meminta izin juga.


"Tentu saja boleh, apa pun untuk putri Papa," jawab Mario dengan senang.


Sepertinya, niatnya untuk menjodohkan putrinya dengan Alex akan segera terkabul. Melihat sekarang mereka sudah sangat dekat.


Sesuai ucapan Alex semalam. Pagi ini, Alex benar-benar menjemput Aurel dan meminta izin pada Mario. Sekarang ini, mereka berdua sedang berada di mobil.


"Ingin liburan ke mana?" tanya Alex kepada Aurel yang berada di sampingnya, gadis itu terlihat sedang menonton film di ponselnya.


"Bagaimana jika ke pantai? Tetapi berhenti di Supermarket dulu, aku akan membeli camilan."


Alex mengangguk. Ia menghentikan mobilnya di depan Supermarket, mereka berdua turun dari mobil untuk membeli camilan.


Di saat sehabis belanja, ada gadis yang menahan tangan Alex. Mereka berhenti di samping gadis itu.


"Alex? Kamu yang di kampus itu, bukan?" 

__ADS_1


"Kakak yang jual kue itu, ya?" 


Alex tidak menjawab atau pun bertanya, tetapi Aurel. Alex menepis tangan Nafa yang dengan lancangnya memegang lengannya. Nafa mendengus kesal ketika yang menjawab adalah Aurel.


__ADS_2