
Tentang Farel
Farel menatap Alex yang marah padanya. Padahal niat ia ke sini baik, untuk menjenguk Aurel. Tetapi biasanya kalau menjenguk orang yang sedang sakit itu lebih sopannya membawa buah tangan. Pernah Farel melihat Aurel membeli coklat, ia berpikir bahwa gadis itu sangat menyukai coklat. Jadi, ia membawakan Aurel coklat.
"Memang kenapa? Bukankah Aurel menyukai coklat?" tanya Farel dengan mengangkat bingkisannya. Ia menoleh kepada Aurel dengan raut wajah meminta jawaban.
Melihat itu, dengan polosnya Aurel menganggukkan kepalanya. "Benar. Aurel menyukai coklat, makanan itu enak sekali."
Alex menoleh kepada Aurel yang menunjukkan raut wajah senang. Alex meraup kasar wajahnya, ia menghembuskan nafasnya dengan gusar. Sungguh dirinya tidak bisa menolak apa yang gadis itu minta jika Aurel memasang raut wajah seperti itu.
Alex mendekat ke Aurel kembali, ia akan berbicara dengan baik kepada Aurel. "Aurel, dengarkan aku. Kamu tidak ingin sakit lagi, bukan?"
Aurel menjawab pertanyaan Alex dengan menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin diinfus lagi, rasanya sakit ketika ditusuk oleh jarum. Ia juga tidak ingin meminum obat lagi, sangat pahit dilidah. Sudah cukup kali ini saja.
“Jika tidak mau sakit, jangan terlalu banyak dan sering makan coklat. Kamu mau mendengarkanku, bukan?” tanya Alex lagi mencoba untuk membujuk Aurel agar mau mendengarkan dirinya. Jika tidak, Alex takut jika nanti Mario tahu pasti ia akan di marah karena tidak bisa menjaga Aurel dengan baik.
Cukup kali ini saja ia ceroboh. Jika diulang, Alex khawatir jika Mario akan berbicara kepada orang tuanya untuk membatalkan perjodohan mereka. Ia sudah terlanjur melabuhkan hatinya kepada Aurel, gadis cantik yang berhasil menarik hatinya sejak awal.
Dengan wajah lesu Aurel menganggukkan kepalanya dengan lesu, padahal ia masih ingin memakan coklat. Sudah lama ia tidak memakan makanan yang sangat manis itu. Tetapi ia harus menurut kepada Alex. Jika tidak, lelaki itu bisa melaporkan pada papanya. Ia takut jika nanti Mario akan marah. Pasalnya Mario jika sudah marah itu akan membuat Aurel takut dan tidak akan mengulanginya lagi. Jadi, lebih baik menghindar, bukan?
Aurel sendiri juga menginginkan dirinya cepat sembuh agar bisa keluar dari rumah sakit. Tetapi, diam-diam Aurel akan memakan coklat sedikit, jika sedikit mungkin tidak berefek, kan?
“Tetapi, terima saja coklat dari Farel. Tidak enak bila kita menolak,” ucap Aurel berbisik ke Alex.
Memang tidak enak jika ia harus menolak buah tangan Farel. Mungkin saja lelaki itu sudah susah payah untuk membelikan coklat atau bahkan itu dari uang gajinya? Setidaknya menerima pemberian Farel tanpa memakannya itu lebih baik. Pikir Alex.
“Farel, apakah itu untukku?”
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Aurel, dengan senang Farel menganggukkan kepalanya. Ia mendekat ke arah brankar Aurel.
“Iya, ini untukmu. Semoga suka, ya.” Farel memberikan bingkisan yang berisi coklat itu.
Aurel menerimanya dengan senang hati. Mendengar nama makanan ini saja membuatnya ingin segera memakannya. Meskipun tidak boleh, nanti Aurel akan berbicara kepada Mario. Pasti diperbolehkan jika hanya sedikit.
“Suka sekali, terima kasih.” Aurel menaruh bingkisan itu di meja yang berada di dekatnya.
“Apakah aku boleh duduk di sini?” tanya Farel meminta izin untuk duduk di kursi sebelah kiri Aurel. Karena ia sadar, ia tidak terlalu dekat dengan Aurel.
“Boleh,” jawab Aurel. Baru saja Farel ingin mendudukkan dirinya di kursi itu, tetapi tidak jadi karena ucapan Alex.
“Tidak boleh!”
“Alex!” Aurel menatap Alex dengan penuh peringatan. Tetapi Alex mengabaikan Aurel yang sedang menatapnya dengan tajam. Ia sudah terlanjur geram dengan perilaku Farel yang seperti tidak berdosa, dalam hati Alex terus menyumpah serapahi Farel. Karena lelaki itu, Aurel menjadi mengabaikan dirinya dan lelaki itu juga mengganggu mereka yang sedang bermesraan.
Alex mendengus kesal. "Rasa kesal langsung datang kepadaku ketika melihat wajahnya itu," gumam Alex dengan penuh rasa kesal. Ia duduk di kursi sebelah kanan yang dekat dengan Aurel, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi itu. Alex bersedekap dada, matanya menatap Farel dengan tatapan tajam.
Ditatap seperti itu oleh Alex, membuat Farel bingung harus mengekspresikan seperti apa. Ia hanya bisa diam sesekali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena suasana begitu canggung.
"Kenapa masih berdiri? Duduk saja tidak apa-apa," ucap Aurel ketika melihat Farel terus saja berdiri. Ini pasti karena perkataan Alex yang tadi, lelaki itu menjadi canggung dan tidak enak untuk duduk sebelum disuruh.
Farel menurut. Ia duduk di kursi yang Aurel tunjuk, tidak ada niatan untuk menolak. Lagi pula kakinya cukup pegal jika terus berdiri seperti ini.
Farel melihat Aurel yang hanya diam sesekali melihat ke arah Alex. Apakah gadis itu selalu berada di ruangannya? Apa tidak bosan?
"Aurel, apa kamu tidak bosan?" tanya Farel mencoba bertanya.
__ADS_1
“Sebenarnya aku bosan jika hanya tidur dan makan saja,” jawab Aurel. Hatinya menghangat, apakah Farel akan mengajaknya untuk keluar?
“Bagaimana jika aku mengajakmu untuk berkeliling rumah sakit ini agar tidak bosan?” tanya Farel menawarkan. Barang kali Aurel menerima tawarannya, ia pun tidak memaksa Aurel jika gadis itu tidak mau.
“Boleh!” jawab Aurel dengan riang. Akhirnya ia bisa keluar dari ruangan ini juga.
Melihat itu, Alex ingin memberikan protesnya. Tetapi ia harus menahannya karena pintu ruangan mereka terbuka menampakkan Mario yang sepertinya baru saja pulang dari kantornya. Mario mendekat ke arah Aurel, ia mengecup kening putrinya.
“Papa,” panggil Aurel ketika Mario sedang berjalan menuju sofa untuk menaruh tas kerjanya.
“Iya?”
“Boleh tidak jika Aurel pergi keluar ruangan? Hanya berkeliling di sekitar rumah sakit saja.” Aurel mengatakan itu sembari menatap papanya dengan senyuman lebarnya.
Mario tidak kuasa melihat senyuman putrinya yang seperti sangat senang.
“Boleh, dengan siapa?”
“Farel.”
Mario menoleh ke samping kiri Aurel, di sana terdapat lelaki yang sedang duduk. Ia dapat mengingat lelaki itu, karena pernah bertemu pada saat malam itu.
“Boleh, asalkan jangan lama-lama dan kamu harus janji kalau kamu harus kembali dengan keadaan yang baik-baik saja.”
Mendengar itu membuat Aurel senang bukan main. Mereka berpamitan dengan Mario lalu pergi keluar.
Selepas melihat mereka keluar, Mario menoleh ke Alex yang terlihat kesal. “Alex, siapa lelaki itu? Dan memiliki hubungan apa dengan Aurel?”
__ADS_1
“Lelaki itu bernama Farel. Aurel dan Farel hanya saling mengenal saja, Om.” Dalam hati, Alex mengaminkan ucapannya itu. Karena Aurel hanya miliknya dan hanya cocok ketika bersanding dengan dirinya.