Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 55 Putus


__ADS_3

Farel mendengus kesal ketika mendengar suara lelaki itu, ia tahu itu suara Alex. Apalagi Alex berbicara kepada Aurel dengan lembut dan kata-kata yang manis, itu saja cukup membuat Farel panas dan kesal. Aurel masih saja berhubungan dengan Alex, padahal ia sudah semaksimal mungkin selalu ada untuk gadis itu agar tidak membutuhkan Alex. Tetapi tetap saja Aurel berhubungan dengan Alex.


"Apakah kamu sedang bersama Alex?" tanya Farel untuk memastikan. Mungkin saja itu adalah sepupu lelaki Aurel? Bisa jadi, bukan?


"Iya, dia baru saja menjemputku untuk berangkat bersama. Ya sudah, aku matikan teleponnya ya."


Setelah mengucapkan itu, Aurel langsung memutuskan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Farel terlebih dahulu. Melihat itu tentu saja Farel merasa kesal. Ia akan mencoba berbicara dengan Aurel besok.


Farel tentu saja tidak terima dengan Aurel yang seakan-akan menduakannya. Bagaimana ia tidak marah? Aurel itu sudah memiliki hubungan dengannya, seharusnya jika ada seorang lelaki yang mengajaknya apa pun gadis itu harus menolaknya. Jangankan untuk menolak, bilang kepada ia saja tidak.


"Apakah dia sedang mempermainkanku?" gumam Farel dengan penuh rasa kesal. Aurel bersikap layak mereka tidak memiliki hubungan dan gadis itu dengan bebasnya berdekatan dengan lelaki lain. Farel beranjak dari duduknya, ia berjalan ke meja kasir untuk melanjutkan pekerjaannya.


Keesokan harinya, seperti biasa pagi ini Farel sedang bekerja di toko butik. Tetapi rasa kesal atas kejadian kemarin masih tertata rapi di hatinya. Lelaki itu sedikit tersinggung saat Mario datang kepada dirinya dan mengatakan untuk menjauhi Aurel, yang berarti ia harus memutuskan hubungan dengan Aurel.


Tidak lupa juga Mario menyusun dengan rapi ucapannya yang terselip kalimat seperti merendahkannya. Tindakan Mario memang terlihat santai, tidak kasar ataupun buru-buru dan mendesak Farel. Tetapi ucapan pria itu yang dikemas dengan baik, berhasil membuat Farel tersinggung. Seolah ia tidak pantas untuk Aurel, dan juga ia tidak bisa memenuhi semua kebutuhan gadis itu dengan kondisi seperti ini.


Jika Mario ingin Farel memiliki harta banyak sepertinya untuk syarat agar bisa bersama Aurel, maka Farel tidak mampu. Mendapatkan pekerjaan seperti ini saja ia sudah bersyukur, karena mencari pekerjaan memang sangat sulit. Apalagi dirinya tidak memiliki riwayat pendidikan yang cukup tinggi.


Farel duduk di kursi dengan tenang saat toko sudah sepi. Tiba-tiba saja ponselnya berdering, nama Aurel tertera di sana. Farel membiarkan saja ponselnya berdering tanpa berniat untuk menerimanya. Ia masih kesal jika mengingat kemarin, gadis itu dengan tidak merasa bersalah mengatakan bahwa ia ingin pergi bersama dengan Alex. Bagaimana dirinya tidak merasa marah dan kesal?


Namun, ponselnya terus berdering berkali-kali membuat Farel dengan terpaksa menerima teleponnya.


“Ada apa?” tanya Farel ketika ia sudah menerima teleponnya.

__ADS_1


Di seberang sana Aurel mengernyit heran mendengar pertanyaan Farel. “Apakah kamu sedang sibuk? Aku hanya ingin meneleponmu dan berbicara seperti biasanya,” jawab Aurel dengan jujur. Sebelumnya, mereka memang sering berbicara lewat telepon. Walaupun yang mereka bicarakan tidaklah penting.


“Apakah ada hal penting yang ingin kamu sampaikan kepadaku?” tanya Farel tidak menjawab pertanyaan Aurel. Apa gadis itu belum mengerti kesalahannya juga?


“Kamu sepertinya sangat sibuk. Apa boleh aku mampir ke tempat kerjamu?”


“Tidak, hari ini aku sangat sibuk. Jika kamu ingin bertemu denganku, kita harus atur jam pertemuan kita. Bagaimana jika pada malam, lokasinya di pantai yang kemarin?” tanya Farel. Karena ia hanya ada waktu senggang pada saat malam. Mau atau tidaknya Aurel, ia juga tidak terlalu peduli atau memaksa.


Namun, jika Aurel benar-benar ingin bertemu dengannya. Pasti gadis itu akan setuju.


“Baiklah. Aku akan menemuimu pada saat itu,” jawab Aurel.


Farel sedikit puas dengan jawaban Aurel yang tidak membuatnya kecewa. Ia memutuskan sambungan teleponnya ketika gadis itu sudah menjawab. Ini tujuannya, bukan?


Setelah sampai, Aurel segera menuju ke arah Farel yang mungkin sudah menunggu dirinya dengan lama.


“Maaf aku telat,” ucap Aurel ketika sudah sampai tepat di depan lelaki itu. Ia duduk di samping Farel, jarak mereka sangat dekat dan bisa dikatakan hampir tidak ada jarak.


Sesaat tidak ada yang membuka suaranya kembali. Sunyi. Itulah yang menggambarkan suasana mereka saat ini. Hanya ada suara air yang mengisi kesunyian ini. Hingga pada akhirnya, Farel membuka suara untuk melontarkan kata-kata yang masih mengganjal di dalam hatinya.


“Aurel,” panggil Farel tanpa menoleh ke samping. Matanya tetap menatap ombak yang berada di depannya.


“Iya?”

__ADS_1


 “Aku tidak suka melihat kamu dekat dengan Alex, apalagi kamu mengatakan menyukaiku. Tetapi justru kamu tidak bisa menjaga jarak dari lelaki lain,” jawab Farel terus terang.


Aurel sedikit terkejut mendengar itu, Farel terlalu terus terang mengatakan bahwa lelaki itu tidak menyukai dirinya yang terlalu dekat dengan Alex. Padahal Farel tahu bahwa sebelumnya, ia dengan Alex pun sudah sangat dekat.


“Aku sudah berusaha untuk menjaga jarak dengan Alex, Farel. Apa kamu tidak melihatnya?” Setelah memiliki hubungan dengan Farel, Aurel tidak sedekat dahulu dengan Alex.


“Aku ingin kita mengakhiri hubungan ini,” ucap Farel tiba-tiba. Selain mempermasalahkan jarak antara Aurel dan Alex, Farel juga sedang memikirkan ucapan Mario kemarin.


“Kenapa? Apakah aku melakukan kesalahan?” tanya Aurel dengan menghadap ke arah Farel. Matanya menatap Farel seolah-olah meminta penjelasan.


“Kamu akan terus terluka jika bersamaku, dan kamu tidak akan bahagia jika bersamaku. Jadi .... “ Farel menjeda ucapan. Ia menatap Aurel tepat di mata gadis itu, tatapan itu terasa dalam.


“Ayo kita akhiri hubungan ini,” ajak Farel melanjutkan ucapannya.


“Kenapa? Aku tidak mau!”


“Aku tidak suka denganmu. Kamu terlalu manja, hanya terluka dikit saja harus membuat kelabakan. Sangat lemah!” cerca Farel membuat hati Aurel sakit.


Mendengar hinaan yang dilayangkan Farel, Aurel langsung pergi dari hadapan lelaki itu dengan menangis. Kali ini Aurel menyesal telah menyetujui permintaan lelaki itu untuk bertemu.


Selepas Farel memutuskan Aurel, kini gadis itu menjadi lebih pendiam dari biasanya. Bahkan mengurung diri di kamar, kini Aurel merasa dia tidak pantas untuk siapa pun setelah mendengar ucapan Farel yang begitu menyakitkan.


Aurel juga mendiamkan Mario serta Alex. Ia masih memikirkan ucapan Farel. Apakah dirinya memang terlalu manja? Dan juga lemah? Aurel merasa dirinya menyusahkan semua orang, ia memang tidak pantas untuk siapa pun dan tidak memiliki keahlian satu pun.

__ADS_1


__ADS_2