Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 50 Alex Marah


__ADS_3

(Alex Marah)


Jika biasanya Aurel harus menunggu Alex keluar dari kelasnya dengan waktu lama. Kini lelaki itu berada di depan kelas Aurel. Alex duduk di kurai yang berada di depan kelas gadis itu. 


Setelah satu jam ia menunggu, akhirnya kelas Aurel selesai. Gadis itu berjalan menuju arah Alex dengan senang, ia duduk di samping lelaki itu. "Apakah kamu sudah lama menungguku?" tanya Aurel.


Alex menatap gadis itu dengan senyuman di bibirnya, tangannya membenarkan letak rambut Aurel yang berantakan. "Tidak, aku barusan saja sampai." Yang Alex katakan adalah bohong. Lelaki itu sudah menunggu Aurel selama satu jam lamanya.


"Kita pulang sekarang?" Aurel menganggukkan kepalanya. Mereka berdiri dan pergi menuju ke tempat parkir dengan Alex yang menggenggam tangan gadis itu.


"Kamu ganti mobil?" tanya Aurel ketika melihat Alex menghentikan langkahnya di depan mobil berwarna hitam. Karena mobil lelaki itu berwarna merah, oleh karena itu ia bertanya.


"Ini mobil dari papi karena aku sudah membantu pekerjaan papi," jawab Alex seraya mengeluarkan kunci mobil dari kantongnya.


Mereka memasuki mobil baru Alex. "Bagus juga. Memang kamu bantu kerja apa? Aku juga ingin, barang kali dapat pesawat pribadi." Aurel terkekeh dengan ucapannya sendiri.


Mendengar itu, Alex pun ikut tertawa kecil. Tangannya terangkat untuk mengacak-acak rambut Aurel. "Kamu tidak perlu bekerja, cukup minta dengan Om Mario saja kamu sudah mendapatkannya." 


Memang benar, Mario akan memberikan semua yang Aurel inginkan. Meskipun itu susah ditemukan atau harganya mahal, Mario akan berusaha memenuhinya.


"Tidak. Aku ingin mendapatkannya dari orang lain selain papa," balas Aurel dengan pandangan menatap ke arah jalan di depannya.


Alex menoleh ke arah Aurel sekilas. "Bagaimana jika mendapatkan semua yang kamu inginkan dari aku? Tapi syaratnya kamu harus menurut denganku," ucap Alex.

__ADS_1


Aurel menggelengkan kepalanya. “Tidak mau, aku hanya bercanda. Lagi pula aku ingin mendapatkan semua itu dari kerja kerasku sendiri, yaitu dengan bekerja.”


“Aku tidak yakin Om Mario akan memberimu izin untuk bekerja,” ucap Alex dengan yakin. Jangankan untuk bekerja, jika Mario melihat Aurel memasak saja akan di marah. Aurel adalah putri kesayangan Mario, satu-satunya harta berharga yang pria itu punya. Jadi, kemungkinan kecil untuk Aurel bisa bekerja nantinya.


“Bujuklah. Aku akan membujuk papa nanti,” jawab Aurel seolah itu adalah hal yang sangat mudah. Tidak tahu saja gadis itu jika ketika ia meminta izin nanti, Mario akan mengurungnya di rumah. Mungkin karena takut Aurel akan bekerja dengan diam-diam.


“Alex, apakah kamu terburu-buru untuk pulang?” tanya Aurel dengan menoleh kepada Alex. Ia ingin meminta tolong kepada lelaki itu untuk mengantarkan dirinya ke toko butik tempat Farel bekerja. 


“Tidak. Kenapa? Apa kamu mau ke suatu tempat?” tanya Alex balik. Biasanya jika Aurel bertanya seperti ini, gadis itu menginginkan atau ingin mengajak dirinya ke suatu tempat.


“Iya. Bisakah kamu mengantarku ke toko butik yang ada di depan? Aku ingin membeli baju,” jawab Aurel yang tentu saja disetujui oleh Alex.


“Baiklah, aku akan mengantarmu ke sana.” 


Alex menjalankan mobilnya menuju ke toko butik yang Aurel pinta. Gadis itu menatap jalanan di depannya dengan senang, akhirnya ia bisa bertemu dengan Farel lagi. Ia merindukan lelaki itu sekaligus ingin meminta maaf karena kejadian itu, tidak tahu ke mana perginya Farel setelah ia dijemput oleh Alex.


Alex tidak tahu jika toko butik yang Aurel ingin kunjungi adalah toko butik tempat Farel bekerja. Jika saja lelaki itu tahu, pasti dia akan sangat marah mengetahui Aurel yang dengan polosnya menghampiri tempat Farel bekerja untuk meminta maaf. Itu bukanlah salah gadis itu, tetapi tidak tahu apa yang telah terjadi kepada Aurel hingga ia menjadi seperti ini.


Alex menghentikan mobilnya saat sudah sampai di tempat parkir butik itu. “Apakah toko butik ini yang kamu maksud?” tanya Alex, matanya menjelajahi luar butik itu.


Alex melihat banyak orang yang berkunjung ke toko butik itu. Pantas saja, toko butik itu sangat bagus. Meski tidak besar, tetapi memiliki tampilan yang unik dan rapi. “Kamu ingin membeli baju?” tanya Alex kepada Aurel.


Aurel menganggukkan kepalanya. Selain ingin membeli baju, ia juga ingin bertemu dengan Farel. “Iya, aku ingin membeli beberapa baju. Aku pernah melihat baju bagus di toko butik ini, tetapi tidak sempat membelinya. Karena saat itu aku sedang buru-buru,” jawab Aurel dengan berbohong. Ia mengarang dan merangkai kalimat yang akan ia ucapkan dengan baik, sehingga Alex tidak curiga kepadanya. 

__ADS_1


“Baiklah. Ayo kita turun,” ajak Alex.


Namun, tangan lelaki itu dicekal oleh Aurel membuat Alex menutup kembali pintu mobil. “Ada apa?” tanya Alex dengan bingung.


Aurel terlihat sedang berpikir untuk mencari alasan lain. “Lebih baik kamu tetap di sini, aku tidak akan lama berada di dalam sana.”


Alex sedikit bingung dengan ucapan Aurel, tetapi ia iyakan saja. Mungkin Aurel ingin berbelanja sendiri agar lebih leluasa? Ia akan tetap menjaga gadis itu dari jarak jauh.


“Oke. Tetapi gunakanlah ini untuk membayar,” ucap Alex menyerahkan sebuah kartu. Melihat itu, Aurel segera menolak. Ia tidak akan membeli banyak baju, mungkin hanya beberapa saja.


“Tidak perlu, Alex. Aku masih memiliki uang,” tolak Aurel. Ia menjadi tidak enak kepada lelaki itu, apalagi setelah membohongi Alex.


Alex mengambil tangan Aurel, meletakkan kartunya. “Gunakan ini, jangan membantah. Aku akan menunggumu di sini.”


Mau tidak mau Aurel harus menggunakan kartu Alex, setidaknya untuk beberapa baju itu. Ia turun dari mobil dan mulai memasuki toko. Aurel mengambil beberapa baju, kemudian ia bawa ke kasir. 


Farel melayani Aurel layaknya pembeli dengan baik, tetapi lelaki itu terlihat mendiamkan dan menghindar dari Aurel. “Farel, apakah kamu marah kepadaku?” tanya Aurel setelah membayar belanjaannya. 


Farel tidak menjawab, ia lebih menghindari Aurel dengan melayani pembeli yang lain. Sementara di luar, Alex dapat menangkap siluet lelaki yang ia kenal. Seketika matanya melotot, ia segera keluar dari mobilnya dan memasuki toko.


“Ayo pulang. Aku tahu sekarang, kamu meminta ke sini bukan untuk belanja. Tetapi untuk menemui lelaki itu,” ucap Alex menarik tangan Aurel untuk keluar dari toko itu. Aurel memberontak, ia berusaha untuk melepaskan cekalan tangannya.


“Tidak mau!”

__ADS_1


Namun, tenaga Aurel kalah dengan Alex yang sangat kuat. Alex menyuruh Aurel pulang dengan paksa.


__ADS_2