Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 27 Marah


__ADS_3

Seusai Aurel sadar, Alex baru saja mengabari Mario. Ia tidak ingin mengabari Mario gadis itu masih pingsan, ia takut Mario akan marah. Ya walaupun nanti juga akan marah, tetapi setidaknya tidak sampai marah besar karena melihat anaknya sudah sadar.


“Halo, ada apa Alex?”


Suara Mario membuat Alex menegang, jujur saja ia ragu untuk memberitahukan hal ini. Takut jika nanti, Mario akan marah besar. Tetapi, Alex tidak ingin menjadi orang tidak bertanggung jawab.


“Om Mario, Aurel kambuh karena terlalu kelelahan,” jawab Alex yang berhasil membuat Mario di seberang terkejut.


Padahal baru saja tadi pagi ia melihat Aurel yang sudah ceria karena ingin pergi jalan-jalan bersama Alex. Tetapi, sore ini? Ia mendapatkan kabar Aurel kambuh, bagaimana bisa tidak terkejut.


“Bagaimana bisa Aurel kelelahan? Saya akan segera pulang sekarang.”


Setelah mengucapkan itu, Mario memutuskan sambungan telepon mereka. Di kantornya, Mario langsung membereskan berkas-berkas pekerjaannya, lalu pulang menuju rumah.


Alex pergi ke dapur untuk mengambilkan Aurel makan, lalu kembali masuk ke dalam kamar, ia duduk di samping Aurel yang sedang menonton film yang berada di televisi kamarnya.


“Aurel,” panggil Alex dengan mengelus rambut Aurel. Aurel hanya menjawab dengan deheman karena sibuk menonton.


“Makan dulu, yuk!” ajak Alex.


Aurel langsung menggelengkan kepalanya dan menutup mulutnya. Ia tidak mau makan, mulutnya terasa pahit dan pasti makanannya akan terasa pahit juga.


“Ayolah, kamu ingin cepat sembuh bukan?” tanya Alex dengan membujuk Aurel.


“Iya, tetapi nanti dimulutku akan terasa pahit, Alex!” protes Aurel dengan merengek.


“Kamu mau aku mencobanya dulu?” Alex memasukkan sesuap bubur ke mulutnya. Rasanya sedikit gurih dan tidak terlalu hambar.


“Ini sangat enak, kamu yakin tidak mau makan?” tanya Alex lagi. Aurel tetap saja menggelengkan kepalanya.


Alex menghela nafasnya melihat itu, ia tidak punya pilihan lain lagi. Alex kembali memasukkan sesuap bubur ke dalam mulutnya. Kemudian ia menarik tengkuk Aurel untuk menyatukan bibir mereka, Alex langsung mendorong bubur itu ke mulut Aurel.


“Bagaimana? Enak, bukan?” 

__ADS_1


Aurel hanya diam. Ia masih syok dengan kejadian yang baru saja terjadi, mulutnya menelan bubur yang sudah berada di dalamnya.


“Alex!” pekik Aurel dengan memukul bahu Alex berkali-kali.


Namun, pukulan itu sama sekali tidak berefek padanya. Alex menangkap kedua tangan mungil Aurel yang masih terus memukulnya, kemudian ia dekatkan ke mulutnya. Alex menciumnya sekilas.


“Jangan memukulku seperti itu, nanti tanganmu sakit.”


Aurel dibuat melayang dengan perlakuan dan perkataan Alex yang sangat manis. Rona merah hadir di pipi Aurel.


“Aurel!”


Sontak Alex melepaskan tangan Aurel saat mendengar teriakan itu, ia terkejut. Mario masuk ke dalam kamar putrinya, ia duduk di dekat Aurel membuat Alex menyingkir.


Aurel ditarik ke dalam pelukan Mario. “Papa khawatir denganmu, lain kali kamu tidak boleh kelelahan atau Papa tidak akan mengizinkanmu ke mana-mana lagi, oke?” tanya Mario.


Aurel langsung melayangkan protes. “Aurel janji tidak akan kelelahan lagi, tetapi jangan larang Aurel untuk keluar. Aurel akan kebosanan jika berada di rumah terus.”


“Baiklah, apa Papa perlu menyewa beberapa penjaga untuk mengawasimu?” 


“Jika tidak ingin, maka kamu harus benar-benar menjaga dirimu dengan baik.”


Aurel menganggukkan kepalanya, ini lebih baik daripada ia harus dikawal ketika keluar dari rumah.


“Alex, kenapa kamu tidak bisa menjaga Aurel dengan baik hingga seperti ini? Bukankah sebelum pergi kamu sudah berjanji padaku untuk membawa pulang Aurel dalam keadaan baik-baik saja?”


“Maaf, Om.” Alex tidak tahu lagi akan menjawab apa selain meminta maaf. Karena ia sadar ini juga kesalahannya, ia terlalu ceroboh dalam menjaga Aurel.


Andai saja saat itu mereka tidak meladeni Nafa yang mengajak mengobrol, pasti Aurel tidak akan terluka seperti ini dan mereka sekarang pasti sedang bersenang-senang. Ini semua memang salah dirinya.


“Om tahu kamu adalah lelaki yang bertanggung jawab dan dapat di percaya. Oleh karena itu, Om mengizinkan kamu membawa Aurel pergi. Tetapi, lihatlah sekarang. Kamu tidak melakukan janjimu,” tukas Mario dengan penuh emosi.


Tidak peduli jika yang di depannya adalah Alex, Mario akan melawan siapa pun yang berani menyakiti putrinya. Aurel adalah satu-satunya harta berharga bagi Mario, ia ingin terus membuat Aurel tertawa dan ceria.

__ADS_1


“Jika seperti ini, aku tidak segan-segan akan menjauhkanmu dari Aurel.” 


Sontak Alex terkejut. Jika Mario memarahinya atau memukulinya, Alex akan menerimanya karena ini adalah kesalahannya. Tetapi, ia tidak bisa menerimanya jika Mario akan menjauhkan Aurel darinya. 


Bagi Alex, Aurel adalah dunianya. Hidupnya akan hampa jika tidak ada Aurel di sisinya.


“Jangan, Om! Jangan jauhkan Alex dari Aurel, setelah ini Alex janji akan menjaga Aurel dengan baik. Dan kejadian ini tidak akan terulang lagi,” ucap Alex dengan memohon.


Mario terlihat seperti berpikir. Mungkin akan lebih bagus jika ia memberikan kesempatan kedua untuk Alex, biarlah ini menjadi pelajaran untuk Alex. Lagi pula, mereka akan segera dijodohkan, bukan?


“Baik. Tetapi, jika kejadian seperti ini terjadi lagi. Om akan membawa Aurel pergi jauh darimu.”


Alex mengangguk mantap. Ia tidak akan membiarkan Aurel kembali terluka karena dirinya. Alex akan menjaga Aurel dan memperlakukannya dengan baik.


“Om percaya denganmu.”


Mario menepuk pundak Alex dua kali, lalu pergi keluar kamar. Alex menghembuskan nafasnya lega, ia kembali duduk di samping Aurel.


“Aku tidak mau jauh dari Alex,” ucap Aurel yang langsung memeluk lengan Alex dengan badan bergetar, ia menelungkupkan kepalanya di bahu tegap Alex.


Aurel takut dengan ucapan Mario yang akan membuat mereka jauh, ia tidak mau sampai kehilangan Alex. Hanya kepada Alex ia bisa bercerita hingga lega.


Alex mengelus rambut Aurel, ia melepaskan pelukan Aurel pada tangannya. Alex menghapus air mata gadis itu, lalu memeluknya dengan erat. 


“Jangan menangis, aku tidak suka jika ada air mata yang mengalir di pipimu. Om Mario tadi hanya bercanda saja, ia tidak mungkin menjauhkanmu dari aku.”


Alex berusaha menenangkan Aurel, tangannya mengelus punggung Aurel. Alex mencium kening Aurel. Gadis itu terlihat nyaman di pelukan Alex yang memberinya kehangatan, ia bersandar di dada Alex.


Mereka diam sejenak, tidak ada suara apa pun. Tangisan Aurel sudah berhenti, kini ia mulai mengantuk karena menangis.


“Aku mengantuk, bisakah kamu menemaniku tidur? Di sampingku?” 


Meskipun ragu, Alex tetap menganggukkan kepalanya. Ia membantu Aurel merebahkan badannya, lalu ia tidur di samping Aurel dengan tangannya yang menjadi bantalan gadis itu.

__ADS_1


Aurel memeluk leher Alex memuat lelaki itu membeku sejenak. Ia gugup berada di posisi seperti ini, Alex mulai melingkarkan tangannya pada pinggang Aurel. 


__ADS_2