
(Pengakuan)
Saat Farel sedang mengajak Aurel untuk keliling rumah sakit agar gadis itu tidak merasakan bosan berada di ruangannya. Jika ia menjadi Aurel pun masih akan sangat bosan. Raut wajah gadis itu tampak senang ketika ia mengajak untuk keluar dari ruangan.
“Farel ke sini sendirian?” tanya Aurel membuka percakapan mereka. Gadis itu tidak bisa jika harus diam saja..
Farel menganggukkan kepalanya sembari berjalan, tangannya memegang payung agar gadis itu tidak kepanasan. “Iya, aku sendiri ke sini.”
Aurel menoleh ke arah Farel yang berada di sampingnya. “Kenapa sendiri saja? Kenapa tidak bersama kak Nafa? Memangnya di mana kak Nafa?” tanya Aurel berturut-turut.
“Tidak apa-apa, kakakku sedang berjualan. Aku ke sini untuk meminta maaf juga kepadamu, karena kemarin-kemarin aku lupa sebab terlalu sibuk.”
Setiap malam, Farel selalu keluar dari rumahnya. Ia menatap bulan yang bersinar indah seperti Aurel. Farel selalu merasa bersalah jika mengingat gadis itu. Aurel selalu terluka saat ia atau Nafa dekat dengan gadis itu, seolah-olah mereka adalah penyebab Aurel terluka.
Sudah dua kali Aurel terluka saat sedang bersamanya. Dalam hati, Farel sangat merasa bersalah dengan gadis itu, ia tidak tahu Aurel akan terluka seperti ini. Ia berharap cukup dua kali ini saja gadis itu terluka karena dirinya. Aurel harus baik-baik saja ketika sedang bersamanya saat ini.
"Maaf karena kakakku, kamu menjadi terluka seperti ini," ucap Farel melanjutkan perkataannya. Ia tidak mau terus dihantui rasa bersalah kepada gadis itu, ia ingin memakan kegiatan seperti biasanya dengan tenang.
Sebenarnya Farel sudah berkali-kali bilang kepada Nafa untuk ikut bersamanya menjenguk Aurel dan menyuruh untuk meminta maaf kepada gadis itu. Tetapi Nafa menolaknya berkali-kali, kakaknya itu sungguh keras kepala. Padahal yang ia suruh adalah hal yang sangat mudah.
Farel merasa, kakaknya itu sangat membenci Aurel tidak tahu apa alasannya. Yang pasti saat melihat Aurel pada malam itu, Nafa terlihat sangat kesal dan menatap Aurel dengan amarah. Padahal saat itu Aurel hanya ingin membantu Nafa, tetapi kakaknya itu malah melukai Aurel.
Hingga, sampai di rumah Farel memarahi Nafa karena berbuat kasar kepada Aurel. Vanesa yang mendengar itu pun ikut memarahi Nafa, ia tidak menyangka dengan perilaku anaknya yang seperti itu. Padahal sebelumnya, Nafa adalah gadis yang lemah lembut.
"Tidak apa-apa, Alex. Lupakanlah kejadian saat malam itu, mungkin pada waktu itu aku pernah berbuat kesalahan yang membuat Kak Nafa kesal."
Aurel mencoba berpikir positif, karena ia tidak merasa berbuat salah kepada Nafa. Setelah ia bertemu di kampus, Aurel tidak bertemu dengan Nafa lagi.
__ADS_1
Mendengar jawaban Aurel, membuat Farel lega. Syukurlah jika Aurel tidak ada dendam kepada kakaknya. Farel takut jika nanti gadis itu berbicara kepada papanya untuk membawa kejadian ini ke jalur hukum.
Sedangkan di tempat lain, Alex sedang berada di ruangan Aurel bersama Mario. Lelaki itu sedang mengerjakan sesuatu dengan laptop di pangkuannya. Setelah bertanya tentang Farel kepada Alex, Mario meminta bantuan kepada lelaki itu untuk membantunya memindahkan data-data dari berkas ke dalam file.
Tentu saja ia menerima permintaan tolong Mario. Beruntungnya Alex tadi sempat membawa laptop untuk kuliah. Jika tidak, ia tidak akan bisa membantu Mario. Alex harus mengambil hati Mario agar bisa memiliki Aurel. Padahal sebelum lelaki itu meminta, kedua orang tuanya tidak akan tinggal diam ketika nanti perjodohannya akan dibatalkan. James dan Kimberly sudah menganggap Aurel putrinya sendiri, mereka sangat menyayangi Aurel terlebih lagi Kimberly.
"Apakah Om sedang menjalani sebuah proyek baru?" tanya Alex tidak sengaja membaca berkas Mario.
Mario menoleh kepada Alex. Bagaimana lelaki ini bisa tahu? Sedangkan ia tidak memberitahu Alex. Ini memang hal kecil, tetapi sungguh mengejutkan bagi Mario. Karena biasanya anak remaja tidak terlalu peduli tentang masalah pekerjaan.
"Bagaimana bisa kamu mengetahui hal itu?"
"Aku tidak sengaja membaca berkas, Om. Tadi aku sempat melihat ada yang salah, Om. Apakah boleh jika aku menjelaskan? Karena, jika nominal angkanya begitu. Om hanya akan mendapat keuntungan yang sedikit," ucap Alex membuat Mario tertarik berbicara kepada lelaki itu.
"Tentu saja boleh, silakan jelaskan."
“Sangat bagus. Bagaimana bisa kamu mempunyai ide seperti itu?” tanya Mario.
Cara dan bahasa Alex yang sedang menjelaskan kepadanya, terlihat seperti seorang pemimpin perusahaan yang hebat dan berpengalaman.
“Aku sering membaca buku tentang hal itu. Dan juga, biasanya aku membantu papi untuk mengurus perusahaan.”
Benar-benar hebat. Jarang ada anak remaja yang ingin membaca buku seperti itu, jika Aurel bersama Alex. Pasti hidup putrinya akan terjamin bahagia dan terpenuhi.
“Kamu sangat hebat, cocok sekali jika bersama Aurel.” Alex tersenyum mendengar perkataan Mario.
“Terima kasih, Om. Ini datanya sudah aku selesaikan, apakah boleh jika aku pergi menyusul Aurel?” tanya Alex meminta izin. Ia tidak mungkin hanya diam saat melihat Aurel pergi bersama lelaki lain. Alex tidak akan membiarkan Farel mendapatkan kesempatan untuk merebut Aurel dari dirinya.
__ADS_1
Disisi lain, Aurel sudah lelah berkeliling. Ia mengajak Farel untuk duduk di kursi taman rumah sakit ini. Tentu saja Farel menuruti permintaan Aurel, ia tidak mau gadis itu sampai kelelahan.
“Pegang payungnya sebentar, aku akan membelikan air minum untukmu.”
Aurel memegang gagang payungnya, ia melihat Farel pergi untuk membelikannya minum. Suasananya memang sangat panas dan membuat dirinya haus.
Tidak lama, Farel kembali membawa dua botol Air mineral. Lelaki itu kembali duduk di samping Aurel. Ia membukakan satu botol untuk Aurel dan mengambil alih payungnya.
“Bagaimana? Apakah sudah segar?”
Aurel menganggukkan kepalanya. Tenggorokannya sudah tidak kering lagi. Setelah itu keheningan melanda mereka.
Mereka berdua sedang menikmati angin semilir di taman, Aurel melirik-lirik Farel, lelaki itu tampak tampan ketika dari sisi samping pun.
“Farel?”
Farel menoleh kala Aurel memanggil dirinya, matanya langsung bertubrukan dengan mata Aurel.
“Aku ingin mengungkapkan sebuah kejujuran,” ucap Aurel menjeda ucapan selanjutnya. Farel masih belum bergeming, ia menunggu kelanjutan ucapan Aurel.
“Aku menyukaimu,”
Farel terkejut mendengar ucapan Aurel, tetapi ia mencoba mengatur raut wajahnya.
“Aku menyukaimu dari saat pertama kali kamu membayarkan coklatku.”
Tanpa mereka sadari, Alex mendengar semua yang Aurel ucapkan. Ia mengepalkan tangannya, hatinya sakit mendengar pernyataan itu. Padahal dirinya yang lebih dahulu dekat dengan Aurel, tetapi gadis itu malah menyukai lelaki lain. Lalu, bagaimana dengan perjodohan yang sudah keluarga mereka siapkan?
__ADS_1