
Aurel membaca pesan yang baru saja dikirimkan oleh Farel. Pria itu mengajaknya jalan ke luar seperti yang sudah-sudah. Aurel mulai risi, pasalnya ini bukan pertama kalinya Farel mengirim pesan tersebut dan mengajaknya keluar.
Apakah pria itu tidak ingat kalau dirinya sudah menikah dan memiliki anak? Aurel tidak mau menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Farel. Seharusnya dia ingat kalau pria itu sudah punya istri.
Kepulangannya ke Berlin justru membuat Aurel sedikit tertekan akan sikap Farel terhadapnya. Ini sudah tiga bulan Aurel berada di Berlin, dan Farel masih terus berusaha untuk mendekati Aurel.
Puncaknya, Farel mengajak Aurel untuk berhubungan secara diam-diam di belakang istri dan anaknya. Mendengar hal tersebut amarah Aurel akhirnya tak terbendung lagi.
Aurel menyanggupi ajakan Farel untuk bertemu, tapi tidak untuk menerima tawaran tersebut, melainkan memberi pria itu pelajaran atas apa yang telah dia katakan sebelumnya.
"Breng_sek kamu, Farel. Apa kamu tidak pernah memikirkan perasaan istri dan anakmu? Bisa-bisanya kamu nekat melakukan hal nista seperti ini. Jika ingin mati, matilah sendiri jangan ajak-ajak aku!"
__ADS_1
Sumpah serapah keluar dari mulut Aurel, dia tak berhenti memaki pria itu yang dengan lancang mengajaknya untuk berhubungan kembali. Jika saja Farel masih sendiri, mungkin ajakan itu akan Aurel pertimbangkan lebih dulu, tapi sekarang posisinya Farel adalah seorang suami dan ayah, Aurel tidak setega itu untuk merebut kebahagiaan orang lain.
"Seharusnya sejak awal kita tidak bertemu seperti ini. Aku menyesal sudah menemuimu. Beraninya kamu mengkhianati istri dan anakmu. Kamu memang sudah gila, Farel!"
Aurel tidak bisa menghentikan mulutnya untuk memaki Farel habis-habisan. Sementara itu Farel hanya bisa terdiam, membiarkan Aurel terus mengoceh dan melontarkan sumpah serapah padanya.
"Kenapa tidak? Aku hanya ingin kita seperti dulu lagi, Aurel. Apa kamu tidak rindu bagaimana kita dulu? Jangan hiraukan perasaan istriku, selama kita diam, semua akan baik-baik saja."
Farel mengatakan hal itu tanpa rasa bersalah, Aurel tidak habis pikir mendengarnya. Apa yang sudah merasuki pria itu sampai-sampai dia nekat membuat perjanjian bodoh seperti ini? Farel pasti sudah bosan hidup.
__ADS_1
"Baik-baik saja katamu?" Aurel mendesis. "Baik-baik apanya? Wanita baik tidak akan pernah sudi menjalin hubungan dengan pria beristri. Aku tidak semurah itu, Farel. Sudah, lupakan saja. Lebih baik kita tetap seperti ini."
Aurel benar-benar kehabisan kesabaran, sementara itu Farel menatap Aurel dengan ekspresi terluka. Dia tahu wanita itu akan menolak keputusannya, tapi Farel juga tidak bisa melepaskan Aurel. Dia masih sangat mencintainya.
"Apakah kamu tidak bisa memberiku kesempatan sekali saja?" tanya Farel lagi.
"Kesempatan apa? Kesempatan untuk menjadi selingkuhanmu? Aku tidak berminat! Apa jadinya kalau seorang desainer terkenal di London digosipkan menjadi selingkuhan pria beristri? Kamu mau menghancurkan karir dan usaha yang kubangun bertahun-tahun? Jangan mimpi!"
Tanpa mendengar penjelasan Farel, Aurel memilih untuk segera angkat kaki dari sana, meninggalkan Farel sendiri yang dirundung perasaan serba salah. Dia merasa kalah karena tidak bisa membuat Aurel kembali.
__ADS_1
Aurel masih punya nurani, dia tidak akan merebut apa yang bukan miliknya, musuh perempuan adalah perempuan lainnya. Dia tidak akan pernah memaafkan Farel setelah apa yang terjadi hari ini.