Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 32 Pasar Malam


__ADS_3

(Pasar Malam)


Hari sudah sore, Aurel sedang menunggu Alex di tempat parkir sembari duduk di kursi bawah pohon yang sudah berada di sana. Seperti biasa, Alex akan keluar kelas lebih lambat daripada Aurel. Hal itu membuat gadis itu kesal dan mengeluh.


Pernah satu kali Aurel berbicara kepada Alex saat ia sedang menunggu lelaki itu mengerjakan tugas di kelasnya, Aurel meminta Alex untuk pindah jurusan yang sama dengannya agar tidak lambat pulang. Tetapi, justru permintaan Aurel yang polos membuat Alex serta teman-temannya yang masih berada di kelas itu tertawa.


"Alex lama sekali," gerutu Aurel dengan sebal. Cuacanya sangat panas membuat ia gerah, beruntungnya Alex memberikan kipas mini untuk dirinya.


Aurel menunggu Alex dengan memainkan ponselnya menonton film drama Korea yang belum selesai ia tonton. Aurel tidak bisa menonton drama Korea, jika ada Alex di rumahnya. Karena, lelaki itu akan mengambil ponsel atau laptopnya dan menyuruhnya beristirahat saja.


Tidak terasa, sudah 30 menit Aurel menunggu Alex. Akhirnya, lelaki itu datang juga. Kini sudah jam lima sore, Aurel menatap Alex dengan wajah cemberut.


"Lama," protes Aurel dengan mematikan ponselnya. Ia berdiri menatap Alex dengan bersedekap dada.


"Maaf," ucap Alex merangkul bahu Aurel. Ia melepaskan topinya dan memakaikan pada Aurel.


"Alex beli topi baru?" tanya Aurel. Padahal tidak penting itu topi baru atau lama, yang Alex pikirkan agar kepala Aurel tidak terkena terik sinar matahari.


Alex hanya menjawab pertanyaan Aurel dengan deheman. Aurel mendongak untuk melihat wajah Alex.


"Nanti Alex beli lagi untuk Aurel, ya?" pinta gadis itu menatap Alex dengan tatapan memohon.


"Tidak masalah jika topi ini untukmu," jawab Alex. Ia tidak terlalu memikirkan barang yang ia punya, jika Aurel menginginkannya Alex bisa memberikannya.


“Aku ingin kita mempunyai barang yang sama, Alex!” rengek Aurel dengan menggandeng lengan Alex, menyenderkan kepalanya pada bahu tegap lelaki itu.


“Jadi, begitu? Aku bisa membelikan lagi untukmu, sekarang kita pulang?” tanya Alex dengan mengelus rambut Aurel.


Aurel menganggukkan kepalanya. Mereka berdua pergi ke tempat mobil Alex terparkir, Alex membukakan pintu mobil untuk Aurel masuk.


“Silakan masuk, Nona Aurel.”

__ADS_1


Alex mengucapkan itu sembari menggerakkan tangannya dan membungkuk. Aurel dibuat tertawa karena tingkah Alex, perlakuan sederhana tetapi mampu membuat hatinya senang.


“Terima kasih, Tuan Muda Alex.”


Alex terkekeh mendengar balasan Aurel. Mereka saat ini tertawa seolah mendapatkan sesuatu yang berharga dan membuat mereka bahagia. Alex mengitari mobilnya, membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.


“Aurel, sepertinya kamu dan aku cocok,” celetuk Alex.


Alex mulai menjalankan mobilnya, matanya menatap fokus jalanan di depannya. Sedangkan Aurel yang, gadis itu menoleh kepada Alex.


“Cocok? Apa karena aku cantik dan kamu tampan?” tanya Aurel dengan rasa percaya dirinya. Tetapi, mampu membuat jantung Alex berdebar-debar.


Karena, berarti Aurel sedang mengakui bahwa dirinya itu tampan? Alex tidak kuat mendengarnya. Sebenarnya banyak yang menyukainya dan mengejar dirinya bahkan sampai terang-terangan berkata bahwa dirinya tampan, tetapi tidak ada rasa seperti yang sedang ia rasakan sekarang, yang ada malah rasa tidak suka. 


Namun, berbeda jika yang mengucapkan adalah Aurel. Rasanya Alex ingin terbang karena salah tingkah.


“Tidak. Kita cocok, aku menjadi majikanmu dan kamu menjadi pelayanku,” jawab Alex dengan bercanda agar tidak begitu terlihat bahwa ia sedang salah tingkah.


Aurel cemberut mendengarnya, padahal ia sudah antusias untuk mendengar ucapan Alex selanjutnya.


“Marah saja, kenapa marah harus bilang-bilang?” tanya Alex dengan heran. Ia tidak peduli jika Aurel akan marah gara-gara hal yang sepele, karena itu tidak akan bertahan lama. Kecuali, ada hal besar yang ia lakukan dan membuat Aurel marah.


“Menyebalkan sekali!” gumam Aurel dengan sebal. Alex akan sangat mengebalkan jika lelaki itu jahil.


“Sudah, jangan marah-marah terus. Lihat, kamu sudah sampai.”


Aurel mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Dan benar saja, mereka sudah sampai di depan pagar rumahnya. Tetapi, kenapa Alex tidak memasukkan mobilnya ke dalam pagar sekalian?


“Kenapa tidak memasukkan mobilnya?” tanya Aurel dengan menatap Alex.


“Aku hanya memberitahumu, ini baru mau aku masukkan.”

__ADS_1


Alex memasukkan mobilnya ke dalam pagar rumah Aurel yang baru saja dibukakan oleh satpam. Mereka turun dari mobil Alex.


“Ayo kita masuk!” ajak Aurel dengan menarik tangan Alex. Tetapi, Alex tidak bergerak untuk masuk. Ia hanya diam di tempatnya. 


"Aku tidak ikut masuk, karena aku akan pulang. Mami menyuruhku untuk pulang," ucap Alex dengan menjelaskan.


Aurel melepaskan cekalan tangannya di lengan Alex, ia menatap Alex dengan raut wajah lesu. Jika Alex pulang, berarti ia akan kembali kesepian.


"Berarti nanti aku akan kesepian. Karena tidak mempunyai teman untuk mengobrol, tertawa, bercanda. Apakah kamu tidak bisa menginap lagi?" tanya Aurel dengan penuh harapan.


Alex mengusap puncak kepala Aurel. "Aku besok akan ke sini lagi, jangan sedih."


"Ya sudah. Hati-hati di jalan, ya." Raut wajah Aurel tetap suram saat mengucapkan itu kepada Alex.


Aurel melambaikan tangannya saat mobil Alex keluar dari gerbang. Setelah sudah tidak terlihat, Aurel membalikkan badannya untuk masuk ke dalam rumah dengan langkah lemas. Pada akhirnya, ia akan sendirian lagi.


Sembari menunggu malam tiba, Aurel pergi ke kamarnya. Di sana, ia akan menonton film. Ya walaupun mungkin tidak seantusias dulu lagi. Tidak tahu kenapa, Aurel merasa bahwa dunia mengharuskan dia untuk kesepian.


“Aku bosan,” gumam Aurel merebahkan badannya di ranjang. Ia sudah melakukan apa pun, tetapi tetap saja bosan. Tidak ada yang menarik di matanya.


Aurel menutup matanya sejenak. Lebih baik tidur, bukan? Apalagi ini sudah masuk ke waktu malam. Tetapi, ia harus membuka matanya kala pintu kamarnya diketuk. Dengan langkah gontai ia berjalan ke arah pintu untuk membukanya.


“Ada apa, Bibi?” tanya Aurel.


“Nona Aurel, makanan sudah siap. Silakan turun ke bawah untuk makan,” ucap Bibi Jane menyuruh Aurel dengan sopan.


“Nanti saja, Bibi. Aurel sedang mengantuk,” jawab Aurel ingin masuk ke dalam kamar kembali, tetapi dihentikan oleh ucapan Bibi Jane.


“Jika tidak, tuan akan marah Nona.”


Aurel menghela nafasnya, ia tahu papanya itu belum pulang dari bekerja. Oleh karena itu, ia sangat kesepian. Dengan terpaksa, ia turun ke bawah untuk makan. Di sana sudah ada Carramel yang sedang makan dengan tenang.

__ADS_1


“Tidak baik jika anak gadis terus di kamarnya. Daripada begitu, lebih baik kamu pergi ke pasar malam seperti remaja yang lain.”


Baru saja turun, Aurel sudah mendengarkan ucapan yang keluar dari mulut Carramel. Tetapi ia tidak marah, dengan semangat ia makan dan pergi ke pasar malam sendirian.


__ADS_2