
(Tentang Penyakit Aurel)
Meja ruang tamu dipenuhi oleh kertas-kertas bertebaran. Carramel menggelengkan kepala melihat kekacauan tersebut. Tampaknya Aurel sedang sibuk sampai tidak sempat membereskan kertas-kertas tersebut.
Dia berusaha untuk membantu Aurel dengan membereskan berkas-berkas yang tercecer di meja. Namun, matanya langsung tertuju pada sebuah dokumen yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
"Apa ini?" Berkas tersebut diambilnya. "Aurel sedang sakit, ya, kenapa ada berkas rumah sakit di sini?"
Dipenuhi rasa penasaran yang terus menjalar. Sang ibu pun membuka berkas tersebut. Matanya tiba-tiba saja membulat ketika membaca vonis dokter di sana. Aurel divonis menderita Hemofilia.
Carramel tidak percaya dengan tulisan dokter di dalam kertas tersebut. Pasalnya, dia merasa anaknya itu sehat-sehat saja. Kenapa tiba-tiba dia sakit parah seperti ini? Apakah selama ini Mario menyembunyikan hal ini darinya? Kenapa dia baru tahu kalau putrinya sedang sakit?
Secepat kilat Carramel berjalan menuju ruang kerja Mario, dia ingin meminta penjelasan tentang sakit yang diderita oleh Aurel. Kenapa suaminya menyembunyikan hal tersebut?
Saat Carramel masuk ke ruangan suaminya, dia melihat Mario sedang sibuk mengumpulkan berkas-berkas penting, sama seperti Aurel. Tentu saja mereka sedang sibuk menyiapkan penerbangan ke luar negeri.
"Coba jelaskan apa ini?" Tanpa aba-aba Carramel langsung meletakkan berkas rumah sakit ke atas meja, membuat Mario terkejut akan reaksinya yang tiba-tiba. "Aurel sakit Hemofilia, sejak kapan?"
Mario tidak langsung menjawab begitu sang istri menginterogasinya dengan pertanyaan beruntun. Dia sudah mengira kalau hal ini akan terjadi, istrinya pasti akan marah besar ketika mengetahui hal ini setelah sekian lama. Mario berusaha untuk menyembunyikan, tapi ujungnya tetap saja ketahuan.
"Kamu menyembunyikan semua ini dariku? Kamu tahu apa yang kamu lakukan padaku sudah keterlaluan!"
Carramel tidak segan-segan memberondong kemarahannya di ruangan yang sudah sumpek baginya sejak awal dia masuk ke tempat ini.
"Dari mana kamu menemukan berkas itu? Apa kamu sudah meminta izin pada Aurel untuk membacanya?" Mario masih berfokus mengumpulkan berkas-berkas penting dan menumpuknya di meja, tampak tidak peduli dengan kemarahan sang istri.
__ADS_1
Seharusnya Mario menjelaskan pada Caramel apa yang sedang terjadi dan kenapa dia tidak berterus-terang sejak awal. Namun, pria itu malah berusaha untuk abai. Dia lebih memikirkan perasaan Aurel yang ingin segera pergi ke luar negeri.
"Kamu menyembunyikan penyakit putriku, kamu sudah tahu dia sakit sejak awal? Tapi kenapa tidak memberitahuku. Kau gila? Apakah kau sudah gila?! Kenapa putriku bisa menderita penyakit seperti ini?"
"Aku tidak berusaha menyembunyikannya, Aurel sendiri yang memilih untuk tidak memberitahu siapa pun. Terlebih ibunya sendiri." Mario benar-benar tidak mengangkat kepalanya seolah dia sedang tidak berbicara pada siapa pun, dan seolah tidak sedang disembur kemarahan tangan terampilnya masih sibuk bekerja. "Aku hanya berusaha mendukung apa yang putriku sedang usahakan."
"Mendukung?!" Carramel mengutip dan semakin berang.
Matanya melotot seperti siap keluar dari rongganya, dia sudah bisa memprediksi hal ini sebelumnya. "Istri macam apa yang kau perlakukan jahat begini?!"
Carramel terus menjerit seperti pasien yang kabur dari rumah sakit jiwa. Dia sudah tidak peduli pada apa pun; pada kondisi dan situasi. Dia hanya tidak terima saat membaca vonis dokter di kertas tadi, putrinya mengidap Hemofilia, dan dia sebagai ibu tidak tahu apa-apa.
Apakah pria ini memang sangat kejam, berhati dingin, dan tak tahu belas kasih?
"Dengarkan aku, Mario!" Carramel menjerit lebih keras karena Mario berhenti menghiraukannya.
Mario mendengkus dan mengangkat pandangannya pada wanita itu, serta merta menjauhkan kertas dari hadapannya. "Bagaimana lagi. Tidak ada pilihan lain, kan?"
Aurel yang hendak masuk ke dalam ruang kerja papanya langsung mengurungkan niat begitu mendengar teriakan nyaring ibunya. Tampaknya mereka bertengkar karena membahas penyakit Aurel.
Aurel tidak menyangka ibunya akan mengetahui hal ini, dan seperti dugaannya. Beliau marah besar dan melampiaskan hal itu pada papanya. Pertengkaran suami istri tersebut lagi-lagi membuat Aurel ketakutan. Terlebih dia mendengar semuanya.
"Sekarang kamu mau mengirim putriku ke luar negeri? Kamu sudah tahu dia sakit, tapi tetap membiarkannya pergi? Ayah macam apa kamu ini, Mario?"
Carramel menghardik suaminya dengan kata-kata pedas, dia mulai tidak sabar dengan sikap Mario yang terus saja mengacuhkannya. Seolah penyakit Aurel bukanlah masalah besar dan Mario bebas mengirimnya ke luar negeri, tidak bagi Carramel. Dia sangat marah ketika mengetahui hal ini.
Membayangkan putrinya yang sakit dan harus tinggal di negara orang saja sudah cukup membuatnya tersiksa. Apakah Mario benar-benar gila dan sudah kehilangan otak?
__ADS_1
"Jangan berisik, Aurel bisa mendengarmu, ini semua keinginan Aurel, kita sebagai orang tua hanya bisa mendukungnya. Jangan membuatnya tambah sakit!"
Mario akhirnya ikut bersuara, tidak tahan dengan istrinya yang terus berteriak sejak tadi. Seolah menyalahkan Mario dan dia tidak becus menjadi suami, padahal dia hanya berusaha untuk mendukung Aurel dengan caranya sendiri.
"Justru keputusanmu yang bisa membuatnya semakin sakit. Kenapa kamu tidak bicarakan denganku sebelumnya? Apakah kamu tidak pernah berpikir bahaya macam apa yang akan dialami oleh Aurel jika pergi ke luar dengan keadaan seperti ini?"
Carramel terus saja marah-marah dan menyalahkan suaminya. Sementara itu, anehnya, meski sedang diserang kemarahan, Mario masih sanggup mempertahankan sikap normal. Tidak gentar, tidak pula mencekik istrinya.
"Yang berhak menentukan jalan hidupnya adalah Aurel sendiri. Itu sudah keputusannya. Kamu sudah tahu dia sakit, berarti itu bukan rahasia lagi," kata Mario membangkitkan perkara baru sekaligus memancing keributan.
"Apa maksudmu?"
Mereka berdebat seolah hanya tersisa mereka di ruang kerja ini.
Aurel tidak tahan dengan keributan yang terjadi di ruangan tersebut. Dia mengurungkan diri untuk menemui ayahnya dan memilih untuk pergi ke kamar kemudian mengunci pintu. Dia ketakutan karena sang mama marah-marah dan salah satu alasan mereka bertengkar adalah dirinya sendiri.
Muak berhadapan dengan suami yang egois, akhirnya Carramel memilih untuk menemui Aurel di kamarnya. Carramel mengetuk pintu bahkan memutar kenop beberapa kali. Namun, sayang. Gadis itu menguncinya dari dalam.
"Sayang, buka pintunya. Mama mau bicara. Ayo kita bicara baik-baik."
Aurel bergeming, dia tidak memedulikan seruan mamanya dari luar, dia ingin sendiri. Padahal dia sudah berusaha menyembunyikan hal ini, tapi ibunya lebih dulu menemukan apa yang dia sembunyikan.
Carramel sedih karena putrinya tak kunjung keluar dari kamar. Padahal beliau hanya ingin bicara dengan putrinya dan membahas sakit yang selama ini dideritanya. Namun, Aurel benar-benar tidak butuh bicara.
Pagi harinya, setelah menghabiskan waktu istirahat, Aurel menatap lurus kamarnya yang sudah dirapikan sedemikian rupa. Dia juga sudah mengemas pakaian miliknya sejak semalam.
Aurel benar-benar sudah membulatkan tekadnya untuk pergi dari rumah ini, meninggalkan semua kenangan yang pernah menyertainya selama bertahun-tahun. Mungkin tidak mudah, tapi Aurel akan berusaha untuk terbiasa.
__ADS_1
Pagi itu, sekitar jam enam kurang lebih sepuluh menit. Aurel keluar dari kamarnya seraya menyeret koper, dia benar-benar pergi dari rumah.