
Setelah Aurel tertidur pulas, Alex melepaskan pelukannya pada pinggang gadis itu. Ia memindahkan tangan Aurel yang berada di lehernya dan menggantikannya dengan guling.
Alex berjalan menuju sofa dan tidur di sana sepanjang malam. Ia tidak pulang ke rumahnya malam ini, ia meminta izin untuk menginap di rumah Aurel dan kedua orang tuanya pun mengizinkannya.
Jika Alex tidur satu ranjang dan tanpa sengaja Mario melihatnya, pasti nanti Mario akan marah. Alex takut jika nanti Mario akan mengancam untuk menjauhkan Aurel dari dirinya.
Mereka tidur di satu ruangan tetapi di tempat yang berbeda. Dengan ditemani sang rembulan sang menyaksikan kisah romantis mereka.
Tak terasa, hari sudah berganti, sinar matahari masuk dari celah-cela kamar Aurel. Alex terbangun akibat sinar matahari yang terlalu silau, ia menghampiri ranjang Aurel. Di sana, Aurel masih tertidur dengan pulas sambil memeluk erat gulingnya.
“Selamat pagi, Aurel.”
Alex mengecup dahi Aurel sejenak, ia memandangi wajah Aurel yang sedang tertidur. Bahkan, saat sedang tidur pun gadis ini terlihat sangat cantik di matanya. Alex melihat jam dinding yang menunjukkan jam tujuh, ia segera pergi ke kamar mandi dengan handuk miliknya. Ia sempat menyuruh seseorang untuk mengambil tasnya yang berisi baju dan handuk.
Sedangkan Aurel, gadis itu masih tertidur dengan nyenyak dengan memeluk guling dengan erat, seolah guling itu adalah orang. Tetapi, tidur nyenyaknya harus terganggu akibat mimpinya yang buruk. Seketika Aurel terbangun dari tidurnya dengan nafas tidak beraturan.
“Alex?!” pekiknya mencari keberadaan Alex.
Matanya menelusuri seluruh isi kamarnya. Di sofa, terdapat tas yang mungkin saja milik Alex. Berarti Alex masih di sini?
“Alex!” teriak Aurel lagi.
Meskipun ia sudah bangun dari tidurnya, mimpi seram itu masih terbayang-bayang di pikirannya. Ingin sekali Aurel berlari keluar dari kamar, tetapi tidak bisa karena kakinya masih terasa sakit. Ia hanya bisa duduk di kasur dengan air mata yang mengalir.
Alex yang mendengar teriakan Aurel, langsung keluar dari kamar mandi. Tanpa sadar ia hanya menggunakan handuk yang mengekspos perutnya.
“Ada apa Aurel? Apakah ada yang sakit?” tanya Alex dengan panik menghampiri Aurel.
Aurel yang melihat itu terbengong. Alex yang hanya menggunakan handuk menampakkan perutnya yang berbentuk kotak-kotak, serta rambutnya yang masih basah. Itu semua menambah kadar ketampanan Alex. Ketakutan Aurel hilang tidak tahu ke mana.
Aurel menutup mata dengan kedua tangannya, berusaha agar tidak melihat pemandangan itu. Pipi Aurel memerah karena sempat melihatnya.
Alex menatap Aurel dengan heran, mengapa gadis itu menutup wajahnya? Apakah ada yang salah dengan penampilannya? Alex melihat dirinya sendiri, sontak ia terkejut. Pantas saja Aurel menutup wajahnya.
__ADS_1
“Maaf, Aurel. Aku lupa belum mengenakan baju,” ucap Alex dengan kikuk. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Cepat pakai bajunya, Alex!” suruh Aurel dengan mengintip di sela-sela jarinya.
Melihat itu, Alex tersenyum. Ia mendapatkan ide untuk menjahili Aurel. Perlahan, Alex mendekat ke arah Aurel, ia duduk di samping Aurel.
Merasa Alex duduk di sampingnya, Aurel membuka matanya. Ia mengira lelaki itu sudah memakai bajunya, tetapi belum.
“Alex! Sudah kubilang, cepat pakai bajumu!” ucap Aurel menyuruh dengan perasaan kesal.
Apakah Alex tidak tahu jika dirinya sedang salah tingkah karena melihat lelaki itu tidak memakai baju? Bahkan, rona merah di pipi Aurel bertambah.
Bukannya menuruti perintah Aurel, Alex terkekeh. Menurutnya, tingkah Aurel sangatlah lucu.
“Kamu ini sangat lucu, aku jadi gemas padamu.”
Tidak tahu bagaimana kondisi pipi Aurel sekarang, yang pasti gadis itu merasakan pipinya bertambah panas. Alex menarik tangan gadis itu agar tidak menutupi wajah cantik yang berhasil membuat dirinya jatuh cinta.
Alex mendekat ke arah ranjang, ia duduk di dekat Aurel. Gadis itu terlihat mengalihkan pandangannya lantaran malu.
“Percaya diri sekali,” cibir Aurel mendengar pertanyaan Alex.
Gadis itu tidak menoleh ke arah Alex, ia tetap memandang jendela kamarnya yang di luar terdapat pemandangan menyejukkan hatinya.
Alex yang melihat itu sontak kesal. Ia bangun dari duduknya dan berjalan menutup jendela. Lelaki itu menutup kain jendelanya. Setelah itu, Alex kembali duduk di samping Aurel dengan lebih dekat dari tadi. Hingga, tidak ada jarak di antara mereka.
Tangan Alex terangkat untuk menangkup kedua pipi Aurel agar gadis cantik ini menatapnya. Dengan terpaksa, Aurel menatap Alex tepat di mata lelaki itu. Hati Aurel berdebar dengan cepat.
“Coba kamu lihat wajahku baik-baik, apakah tidak tampan?” tanya Alex dengan serius.
Padahal semua yang Aurel bilang adalah kebohongan. Alex sangatlah tampan hingga membuat gadis itu membeku dan tidak bisa bicara apa-apa. Apalagi dengan kondisi Alex sekarang yang tidak memakai, itu membuat jantung Aurel berdenyut tidak normal.
“Aurel?” panggil Alex.
__ADS_1
“Ya?”
“Kamu cantik,” jawab Alex menatap mata Aurel dengan lekat.
Dapat Alex lihat pipi Aurel yang sudah ada rona merah, dan itu berhasil membuat Alex gemas. Kenapa Aurel bisa selucu ini? Pikirnya.
Perlahan, Alex mendekatkan wajahnya ke wajah Aurel. Refleks gadis itu menutup matanya, ia dapat merasakan tangan Alex yang sedang menyingkirkan rambutnya yang menutupi wajah.
“Kenapa menutup mata? Apakah aku seseram itu dimata dirimu?”
Pertanyaan Alex membuat Aurel kembali membuka matanya. Saat ingin menjawab, Alex lebih dulu menyatukan bibir mereka dan melu_matnya sebentar.
Gadis itu membeku mendapatkan serangan tiba-tiba dari Alex. Hingga saat lelaki itu melepaskan luma_tannya pun Aurel masih terbengong. Ia terlalu syok dengan perilaku Alex yang sangat tiba-tiba.
Alex mengelap sisa saliva yang ada di sekitar bibir Aurel. “Masih sama seperti dahulu, sangat manis.”
Aurel tersadar kala Alex mengecup pipinya, ia melemparkan kaos lelaki itu yang berada di ranjang.
“Alex!”
“Cepat pakai bajunya atau ... aku akan marah padamu,”
Dengan segera, Alex memakai kaosnya. Jangan sampai Aurel marah kepada dirinya hanya karena masalah sepele ini.
“Sudah, aku boleh memelukmu?” tanya Alex meminta izin.
Aurel terlihat seperti berpikir. Ia tidak yakin jika Alex hanya akan memeluknya, lelaki ini sangat mencurigakan.
Melihat Aurel menatapnya dengan menyelidik, Alex segera melanjutkan ucapannya. “Aku berjanji hanya memeluk saja.”
“Baiklah.”
Aurel memeluk Alex, satu tangannya melingkar ke pinggang lelaki itu. Alex membalas pelukan itu dengan senang, tidak tahu mengapa pelukan Aurel adalah hal kesukaannya. Hangat rasanya. Salah satu tangan Aurel mengelus perut Alex.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, kegiatan mereka dari awal disaksikan oleh Mario. Sebenarnya Mario hanya ingin membangunkan Aurel dan mengantarkan makanannya, tetapi ia malah disuguhi hal seperti itu.