
Hari ini Aurel tidak masuk kuliah karena ia tidak ada kelas. Aurel hanya bisa diam dirumah dengan menonton televisi dan memakan banyak makanan yang sudah disediakan oleh Mario.
Mata Aurel fokus menatap layar yang menampilkan film kesukaannya, dengan mulut dan tangannya yang masih bekerja.
Sebelum berangkat bekerja, Mario sempat berpesan kepada Aurel untuk jangan pergi dari rumah. Aurel hanya mengangguk dengan lesu, ia tidak berani membantah ucapan Mario.
Kini Aurel menatap televisi yang menyala di depannya dengan bosan.
"Bosan sekali," gumam Aurel menaruh Snack yang berada di tangannya ke meja.
Aurel membuka ponselnya untuk menelepon Alex. Tetapi sayangnya Alex tidak menerima teleponnya membuat Aurel kesal. Padahal Aurel ingin mengajak Alex untuk ke rumahnya dan bermain game bersama, tetapi Alex tidak menerima teleponnya.
Aurel membuka Youtube untuk mencari beberapa resep makanan untuk ia buat di dapur. Setelah banyak video yang ia tonton, akhirnya ia menemukan resep makanan yang mudah.
Aurel pergi ke dapur dengan membawa ponselnya. Baru saja Aurel memegang bahan-bahannya, tetapi tangannya dicekal.
"Non, nona mau buat apa? Biar Bibi Jane yang buatkan," ucap Bibi Jane dengan bertanya.
"Aurel ingin membuatnya sendiri, Bibi." jawab Aurel, karena ia bingung ingin melakukan kegiatan apa.
"Tidak boleh, nona. Nanti Tuan akan marah jika Tuan tahu,"
"Ya sudah. Aku tidak jadi menginginkan sesuatu, aku akan ke ruang tamu saja."
Aurel pergi ke ruang tamu kembali, ia duduk di sofa dengan rasa kesal. Jika semuanya tidak diperbolehkan, lalu apa yang boleh ia lakukan?
Di saat seperti ini, Aurel menginginkan coklat. Ketika memikirkan coklat, ia menjadi teringat saat Aurel membeli coklat di Supermarket dan lupa membawa uang. Kala itu ada lelaki yang membayarkan coklatnya.
"Farel," gumamnya.
Aurel masih mengingat nama lelaki itu, karena mereka pernah berkenalan. Lelaki itu bernama Farel, Aurel menjadi ingin bertemu dengan lelaki itu lagi.
Aurel membuka media sosialnya untuk mencari dengan nama Farel, mungkin saja Farel memiliki media sosial. Setelah Aurel mencari di berbagai aplikasi, hasilnya nihil. Tidak ada media sosial bernama Farel dengan foto lelaki itu. Apakah lelaki itu tidak memiliki media sosial? Lalu, bagaimana ia bisa bertemu lagi dengan lelaki itu?
__ADS_1
Aurel bertemu dengan Farel saat ia berada di Supermarket, jika ia pergi kesana lagi apakah ia akan bertemu dengan Farel lagi? Tidak ada salahnya bukan untuk mencoba pergi kesana?
Aurel pergi ke kamar, ia mengambil uang untuk membeli coklat seperti biasanya. Sebenarnya membeli coklat sekarang ini bukan tujuannya. Tetapi, mungkin saja ia akan bertemu Farel saat membeli coklat. Setelah selesai mengambil uang, Aurel pergi tanpa berpamitan dengan siapapun.
Aurel pergi ke Supermarket yang menjadi tempat pertamanya bertemu dengan Farel. Ia masuk ke dalam Supermarket dan kembali mengambil dua buah coklat, lalu menuju ke kasir untuk membayar. Aurel berharap dapat bertemu dengan Farel dalam situasi ini, tetapi nihil. Sampai Aurel selesai membayar coklat pun, tidak ada tanda-tanda Farel akan datang.
Aurel pergi keluar dari Supermarket, ia duduk di kursi di samping pintu sembari makan coklat yang sudah dibelinya. Aurel akan tetap disini sampai ia bertemu dengan Farel.
"Ini sangat enak," gumam Aurel merasakan manisnya rasa coklat di mulutnya. Ia menyuapkan coklatnya berkali-kali ke dalam mulutnya.
Hingga sampai beberapa jam Aurel berada di sana, ia tidak melihat Farel. Aurel menghembuskan nafasnya lelah.
"Aku harus menunggu berapa lama lagi agar dapat bertemu dengannya?" tanya Aurel memandang ke arah depan dengan lesu.
Di lain tempat, Mario pulang dari kantor dengan cepat. Ia ingin sampai rumah untuk menemani Aurel. Mario merasa bersalah telah meninggalkan Aurel, karena Aurel baru saja sembuh.
Sesampainya di rumah, Mario langsung menuju ke kamar Aurel. Di ranjang tidak ada Aurel. Mario mencoba untuk berpikir positif, mungkin saja Aurel sedang di kamar mandi. Ia menunggu di sofa sambil mengerjakan pekerjaannya.
Setelah lama Mario mengerjakan pekerjaannya, Aurel tidak juga keluar dari kamar mandi. Membuat Mario berpikir, selama itukah putrinya berada di kamar mandi? Mario berjalan ke arah kamar mandi, ia mengetuk pintu kamar mandi.
Tidak ada sahutan suara dari dalam kamar mandi. Mario membuka pintu kamar mandi yang ternyata didalamnya tidak ada Aurel. Seketika Mario panik, ia mencari Aurel di seluruh rumahnya dengan berteriak memanggil Aurel. Tetapi hasilnya nihil. Mario tidak menemukan Aurel di semua sudut rumah.
"AUREL!" teriak Mario di setiap ia membuka pintu ruangan. Berharap Aurel ada di salah satu ruangan di rumahnya.
Berkali-kali Mario mencari Aurel, tetapi tidak ada hal yang menunjukkan keberadaan Aurel.
Aurel hilang? Ini salah dirinya karena sudah meninggalkan Aurel di rumah.
Mario kembali ke kamar Aurel, mengambil ponselnya yang berada di atas meja. Tidak ada pilihan lagi, ia akan menelepon Alex untuk meminta tolong mencari Aurel.
"Alex?!" panggil Mario dengan nada paniknya ketika Alex sudah menerima sambungan telepon mereka.
Di seberang, Alex mengernyitkan alisnya bingung. Kenapa nada Mario seperti panik dan buru-buru?
__ADS_1
"Ada apa, Om?" tanya Alex dengan penasaran. Biasanya jika Mario menelepon dirinya, pasti ada sesuatu yang tidak beres.
Mario menetralkan nafasnya dahulu sebelum menjawab pertanyaan Alex.
"Alex, tolong kamu cari Aurel, ya. Setelah Om pulang dari kantor, Aurel sudah tidak ada di dalam kamarnya."
"Hah?" Refleks Alex terkejut. Aurel hilang?
"Alex akan mencari Aurel secepat mungkin, Om." jawab Alex yang kini yang sudah panik.
Pantas saja tadi Aurel meneleponnya, apa mungkin Aurel bosan di rumah hingga meneleponnya? Dan ingin Alex untuk berada di rumah Aurel? Karena Alex tidak menerima teleponnya, berakhir Aurel pergi keluar rumah sendiri. Jika iya karena itu, Alex menyesal tidak menerima telepon dari Aurel.
Alex mematikan sambungan telepon dengan Mario. Ia langsung keluar dari kampus, tidak peduli Alex masih ada kelas lagi. Alex lebih memilih untuk mencari Aurel, karena Aurel adalah prioritas utamanya.
"Jika tidak di rumah, di mana Aurel berada?" gumamnya bertanya-tanya. Saat Alex ingin menaiki dan menjalankan mobilnya, tetapi ban mobilnya bocor.
Alex menendang ban mobilnya dengan segala emosi. Ia berteriak dengan amarahnya.
"Arghhh!"
Jika begini, bagaimana ia harus mencari Aurel? Dengan jalan kaki? Terdengar sangat konyol, bagaimana bisa Aurel akan cepat ditemukan jika ia mencarinya dengan berjalan kaki?
Alex mencoba untuk menghampiri salah satu temannya yang membawa kendaraan. Ia menepuk pundak temannya.
"Bawa mobil atau motor tidak?" tanya Alex langsung mengungkapkan tujuannya.
"Bawa motor,"
"Boleh pinjam?" tanya Alex lagi, yang dijawab anggukan.
Tanpa banyak bertanya, teman Alex langsung memberikan kunci motornya.
"Terima kasih."
__ADS_1
Setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan, Alex langsung pergi untuk mencari Aurel dengan kendaraan temannya.