Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 48


__ADS_3

(Kissmark)


Setelah kejadian itu, Aurel masih saja mendiamkan Alex. Ia bersikap seolah tadi tidak terjadi apa-apa bersama lelaki itu. Bahkan sekarang mereka jarang bermain bersama, Alex sudah tidak pernah pergi ke rumah Aurel setelah mengobati gadis itu. Ia tidak enak melihat Aurel yang terus-terusan menghindarinya, lebih baik ia tidak usah ke sana, bukan?


Mario dibuat heran dengan mereka berdua. Biasanya mereka akan menempel hingga susah dipisahkan, tetapi dari kemarin mereka tidak bertemu dan Aurel pun terlihat tidak masalah dengan itu.


"Aurel, kenapa Alex jarang sekali ke sini?" tanya Mario kepada Aurel yang sedang memakan bubur. 


Saat ini mereka berada di ruang tamu dengan Mario yang memangku laptop. Ingin pergi ke kantor, tetapi ia tidak ingin meninggalkan Aurel sendirian.


"Tidak tahu, suka-suka dia saja," jawab Aurel dengan acuh tak acuh. Gadis itu sedang sibuk memakan bubur kesukaannya.


Mario menghela nafasnya mendengar jawaban yang tidak ia harapkan dari Aurel. Sebenarnya apa yang terjadi dengan putrinya dan Alex? Apakah hubungan mereka merenggang karena berantem? Ia harus membuat mereka akrab seperti semula lagi.


"Aurel, dengarkan Papa dahulu." Aurel menaruh mangkuknya di meja, ia duduk menghadap Mario. "Papa akan kerja, tetapi akan sampai malam. Mungkin akan pulang lusa, apakah kamu berani sendiri di rumah?" tanya Mario. Pasti Aurel tidak akan berani


Mendengar itu, Aurel langsung melayangkan protes. "Pa!" protesnya dengan merengek. Mario pasti paham jika ia takut ditinggal sendirian di rumah, Bibi Jane juga sedang izin tidak bekerja untuk beberapa hari.


Mario terkekeh melihat putrinya memprotes, mana mungkin ia akan pergi meninggalkan Aurel sendirian di rumah.


"Jangan protes dulu, Papa belum menyelesaikan ucapannya. Jadi, karena Papa malam ini akan lembur dan pulang besok, Papa sudah memberi pesan Alex untuk menemanimu. Mungkin sebentar lagi dia akan datang," ucap Mario sembari melihat pintu keluar. Ia sengaja melakukan ini agar hubungan mereka lekas membaik dan tidak renggang seperti ini.


Mendengar ucapan papanya, sontak Aurel terkejut. Malam ini Alex akan berada di sini? Meskipun itu sudah pernah beberapa kali, tetapi kali ini Aurel canggung karena mereka sedang berselisih. 

__ADS_1


Namun, jika Alex tidak di sini ia akan takut sendirian di rumah. Ia merasa bimbang dan pilihannya itu serba salah. Tetapi, ya sudahlah. Mau bagaimana lagi? Lagi pula Mario pun sudah memberikan Alex pesan, mau menolak juga sudah tidak bisa.


“Nah itu Alex sudah datang,” ucap Mario saat melihat pintu terbuka menampakkan seorang lelaki dengan tubuh tinggi dan wajah tampan datang membawa tas dan sebuah bingkisan.


“Om,” sapa Alex saat sudah dekat dengan mereka. 


“Duduk, Alex.” Alex duduk di dekat Aurel menuruti perintah Mario, ia menaruh bingkisannya di meja. Aurel memejamkan matanya sejenak ketika mencium bau parfum Alex, sudah lama ia tidak mencium aroma ini. Lantaran sedang bermusuhan dengan lelaki itu.


“Seperti yang Om tulis dipesan, kamu bisa malam ini di sini untuk menemani Aurel? Om harus menyelesaikan pekerjaan, soalnya Bibi Jane sedang izin bekerja.”


Alex menganggukkan kepalanya dengan mantap. “Bisa, Om.”


“Kalau begitu, Om pamit sekarang, ya? Aurel baik-baik dengan Alex, ya.” Mario berdiri, ia mengusap rambut bergelombang putrinya dan mencium kening Aurel.


Setelah berpamitan kepada Aurel dan juga Alex, Mario mengambil tas kerjanya dan berangkat ke kantornya. Selepas Mario pergi, keheningan melanda di antara Alex dan Aurel. Tidak ada yang mau membuka suaranya terlebih dahulu.


Alex mengeluarkan laptop dari tasnya, ia mengerjakan tugas kuliahnya. Sedangkan Aurel, ia melanjutkan acara makan buburnya. Sejujurnya, gadis itu mencium aroma sangat enak dari bingkisan yang dibawa oleh Alex. Tetapi ia menahannya. Tidak mungkin jika ia akan memintanya, bukan?


Merasakan Aurel bergerak-gerak seperti cacing kepanasan, Alex pun menatap gadis itu. Tampaknya Aurel menginginkan makanan dari bingkisan yang ia bawa, tetapi gadis itu malu untuk mengungkapkannya. Sangat lucu sekali, karena sedari tadi mata Aurel terus tertuju pada bingkisannya.


Alex menaruh laptopnya di meja, ia mengambil bingkisan yang ia bawa. Membuka wadahnya dan menyodorkan kepada Aurel. 


"Apa?" tanya Aurel dengan raut wajah bingung, tak urung hatinya senang juga. Ia tergiur dengan makanan itu.

__ADS_1


"Ambil, aku tahu kamu menginginkannya." Karena Aurel tidak juga mengambil, Alex menaruh Box makanan itu di paha Aurel dan kembali melanjutkan tugasnya di laptop.


Aurel mengulum senyuman. Ia menaruh mangkuk bubur yang sudah kosong, perlahan tangannya mengambil makanan yang Alex bawa dan memakannya. Meskipun mereka sedang tidak akur, Alex tetap perhatian padanya. Itulah yang membuat Aurel tidak bisa marah lama dengan lelaki itu.


“Apakah kamu tidak mau makan ini?” tanya Aurel akhirnya membuka suaranya dengan mulut yang masih mengunyah.


“Tidak. Aku sedang mengerjakan tugas untuk besok,” jawab Alex dengan mata yang masih fokus ke laptop, tangannya bergerak cepat.


Aurel menganggukkan kepalanya, ia memiliki inisiatif untuk menyuapi Alex. Lelaki itu yang membeli makanan, tetapi lelaki itu tidak mencobanya sedikit pun. Tentu saja Aurel merasa tidak enak.


“Buka mulutmu,” ucap Aurel menyodorkan potongan makanan itu ke depan bibir Alex. Dengan menurut, Alex membuka mulutnya. Lagi pula ini momen yang ia rindukan bersama Aurel.


“Makan saja. Aku akan memakannya juga jika tugasku sudah selesai.” Alex ingin tugasnya cepat selesai, lalu ia bisa berdua dengan Aurel. Meski hubungan mereka sedang merenggang, tetapi Alex menantikan momen ini. Ia akan mengalah dan meminta maaf karena sudah memberi hukuman pada Aurel saat itu. Karena kejadian itulah yang membuat gadis itu marah kepadanya. Alex hanya ingin memperbaiki hubungan mereka agar bisa menjadi seperti dulu.


Aurel mengangguk, meski tidak yakin jika Alex sudah selesai makanan ini akan tetap ada. Di tengah-tengah mereka berdua. Tiba-tiba lampunya padam, hal itu sukses membuat Aurel berteriak ketakutan dan memeluk Alex yang berada di sampingnya.


“Alex, takut!” Bahkan laptop Alex kini sudah gadis itu ambil dan taruh di meja.


Alex menatap Aurel yang sekarang berada di pangkuannya. Meski gelap, masih ada cahaya remang-remang dari laptop Alex. “Tidak usah takut, ada aku di sini.”


Mereka saling bertatapan, Alex semakin mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka menempel. Perlahan, Alex melu_mat bibir Aurel dengan pelan. Gadis itu menerimanya bahkan membalasnya, tangan Aurel meremas bahu Alex dengan memejamkan matanya.


Lama-kelamaan, luma_tan Alex semakin cepat dan kasar hingga Aurel sendiri susah mengimbangi. Bibir Alex menuju ke bawah, tepatnya ke leher Aurel. Menghirup aromanya dengan kuat, Alex menyesap leher gadis itu membuat Aurel mendesah kesakitan.

__ADS_1


__ADS_2