Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 33 Terluka


__ADS_3

Kini Aurel sedang berada di perjalanan untuk menuju ke pasar malam sendirian sesuai mendengar ucapan Carramel, daripada ia bosan juga di kamar sendirian. Aurel sebenarnya tidak tahu alamatnya, tetapi ia berusaha untuk mencari tahu agar bisa pergi ke sana.


“Ini tempatnya ya, Pak?” tanya Aurel pada sopir taksi saat mobilnya sudah berhenti.


Aurel menatap sekeliling area pasar malam dari dalam mobil. Memang benar apa yang dikatakan oleh orang-orang, pasar malam ini sungguh indah. Ia dapat melihat permainan yang menjulang tinggi.


"Iya, ini tempatnya. Apakah Nona tidak pernah ke sini?" tanya sopir itu dengan heran. Memang ada orang yang tidak tahu pasar malam dan baru pertama kali ke sini? Padahal pasar malam sebagian besar pengunjungnya adalah anak remaja.


Aurel menatap sopir itu dengan tertawa kecil. Ini memang pertama kalinya gadis itu berada di sini, karena ia tidak pernah keluar rumah jika tidak bersama Alex atau pun Mario.


"Iya, Pak. Ini pertama kalinya saya ke pasar malam, ini uangnya ya, Pak. Terima kasih sudah mengantar saya ke sini." 


Aurel memberikan selembar uang kepada sopir, ia keluar dari mobilnya. Aurel menatap pemandangan yang menurutnya luar biasa di depannya, ia harus merasakan bagaimana serunya berada di tempat ini.


Gadis itu mulai memasuki pasar malam yang sangat ramai, melihat permainan secara perlahan. Ingin sekali ia menaiki permainan yang sangat tinggi itu, tetapi takut. Jika ada Alex di sini, pasti dirinya akan merasa aman.


Aurel mulai menjelajahi penjual makanan. Ia sangat tertarik dengan tempat ini, sepertinya nanti gadis itu akan sering meminta Alex untuk membawanya ke sini. Aurel singgah ke salah satu penjual makanan yang membuat ia tergiur.


Selesai mendapatkan yang diinginkan, Aurel kembali berjalan dengan membawa makanannya. Ia duduk di salah satu kursi yang sudah tersedia di sana, membuka makanannya dan memakannya dengan lahap. Ternyata seenak ini.


"Sepertinya ini akan jadi tempat favoritku," gumam Aurel dengan mulut yang penuh dengan makanan. Tangannya pun sampai berlepotan.


Setelah selesai, ia mengelap tangan dan mulutnya dengan tisu yang ia bawa. Aurel menatap ke sekelilingnya lagi. Ia harus ke mana lagi? Mencoba apalagi? Semua ini terlalu menarik, membuat ia ingin mencoba semuanya.

__ADS_1


Aurel bangkit dari duduknya, ia kembali berjalan, matanya menelusuri semua permainan secara bergantian. Ingin sekali ia mencoba memainkan permainan, tetapi Aurel takut. Karena ia ke sini sendiri tidak bersama Alex. Gadis itu takut jika akan terjadi sesuatu nantinya .


Tanpa sengaja, ia melihat Nafa yang sedang berjualan kue dengan Farel yang berada di samping Kakaknya.


Dengan senang, Aurel menghampiri mereka berdua. Akhirnya ia bertemu dengan orang yang ia kenal. Karena sedari tadi, Aurel pusing ingin ke mana karena semua orang tampak asing.


“Farel, Kak Nafa, kalian berdua berada di sini juga?” tanya Aurel saat berada di hadapan mereka dengan tersenyum.


Farel membalas senyuman Aurel, ia sedikit merasa bersalah kepada gadis itu karena telah membuat Aurel sakit. Sedangkan Nafa, ia menatap Aurel dengan tatapan sinis. Gara-gara gadis di depannya inilah Alex menjadi benci kepadanya, terlihat dari ucapan dan tatapan tidak suka Alex kepadanya pada saat mereka bertemu di kampus.


“Ke sini dengan siapa?” tanya Farel saat melihat Aurel yang berdiri sendiri dengan senyuman yang selalu terpatri di wajah gadis itu. 


Tidak mungkin Aurel pergi ke sini sendirian tanpa pengawasan Alex, bukan? Lama kenal dengan Aurel, membuat Farel sedikit paham dengan hidup gadis itu. Aurel adalah gadis manja yang mempunyai keluarga posesif, serta tidak lupa dengan Alex yang selalu menjaganya.


Mana mungkin Aurel diizinkan pergi sendiri tanpa pengawasan dari keluarga atau Alex? Farel tidak yakin.


“Kak Nafa ingin berjualan kue, ya? Aku bantu, ya?” tanya Aurel. Tanpa menunggu Nafa menjawab, Aurel sudah lebih dulu mendekat dan ingin membawa salah satu keranjang kuenya.


Namun, belum sampai Aurel mengangkat keranjang itu, Nafa sudah lebih dulu menepis tangan Aurel. 


“Kenapa?” tanya Aurel dengan bingung, ia menyadari saat Nafa menatapnya dengan penuh kebencian dan amarahnya. Apakah dirinya membuat Nafa marah? Aurel tidak merasa, karena ia hanya ingin membantu Nafa.


“Aku tidak membutuhkan bantuanmu,” balas Nafa dengan sinis. Amarahnya langsung muncul ketika melihat Aurel, gadis itu selalu membuat dirinya kesal.

__ADS_1


Farel hanya diam. Ia tahu kakaknya sangat kesal dengan Aurel, dan juga ia tahu bahwa kakaknya itu suka dengan Alex. 


“Kenapa? Tidak apa-apa Kak Nafa, aku hanya ingin membantumu saja,” jawab Aurel keras kepala. Ia mencoba ingin membantu Nafa, apakah salah? Alex pernah berkata kepadanya jika harus membantu jika ada orang atau teman yang sedang kesusahan.


Aurel mengulurkan tangannya ingin mengambil salah satu keranjang. Tetapi, Nafa mendorong bahu Aurel hingga gadis itu terjatuh. Nafa sudah terlanjur kesal dengan Aurel, kenapa ia merasa kesal setiap bertemu dengan gadis itu? Aurel terlalu memiliki hidup yang sempurna. 


Aurel meringis, ia merasakan sakit pada bagian lengannya. Nafa kenapa, sih? Padahal dirinya hanya ingin membantu. Tetapi gadis itu malah mendorongnya hingga terluka. 


Aurel mengalihkan pandangannya ke lengannya yang berdarah. Ia panik ketika melihat darah mengucur deras, karena lengannya sobek. Dengan badan bergetar, Aurel menggapai lengannya yang sobek dan mengelapnya menggunakan tisu yang ia bawa.


Akan tetapi, itu tidak berhasil. Darah terus keluar dengan derasnya karena penyakit yang dimilikinya, darahnya susah membeku. Perlahan, air mata Aurel keluar. Ia panik, takut sekaligus kesakitan. Ketiga rasa itu bercampur aduk menjadi satu.


Melihat darah yang tidak berhenti keluar dari lengan Aurel, Farel langsung mendekat ke arah Aurel yang sedang terduduk di tanah. Ia membantu Aurel untuk duduk di kursi, menghapus air mata Aurel.


“Farel, darahnya tidak ingin berhenti keluar,” lirih Aurel mengadu kepada Farel. Gadis itu membenamkan kepalanya di bahu Farel dan menangis di sana.


Farel bingung ingin melakukan apa. Ia harus menenangkan Aurel atau mengobati lukanya dahulu? Jika menenangkan Aurel, ia takut nanti gadis itu akan kehabisan darah. Jika mengobati, ia tidak memiliki peralatannya.


“Sudah jangan menangis, aku akan mencari peralatannya dahulu.”


Farel mengambil tisu yang Aurel bawa, ia letakkan tepat diluka Aurel untuk menghambat darah itu sementara. Farel menyuruh Aurel untuk memegang tisu itu, selagi ia pergi untuk mencarikan peralatan untuk mengobati Aurel. 


Selepas Farel pergi, Aurel hanya diam membisu. Matanya memandangi tisu yang berada di atas lukanya, sekarang tisu itu sudah penuh dengan warna merah akibat darah lukanya yang tidak berhenti.

__ADS_1


__ADS_2