Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 20 Rasa Kesal


__ADS_3

Rasa Kesal


Setelah mengobati Aurel, kini mereka sedang berbincang-bincang untuk memperkenalkan diri agar tidak canggung.


“Jadi, Aurel dan Alex ini masih kuliah, ya?” tanya Vanesa setelah lama mengobrol dengan mereka.


Aurel dan Alex menyambut baik semua pertanyaan dari Vanesa. Menurut mereka, Vanesa adalah seorang Ibu yang lembut dan baik hati. 


Melihat sikap dan perlakuan lembut dari Vanesa, membuat Aurel iri dengan kehidupan Nafa. Meskipun Nafa tidak memiliki banyak uang atau hidup dengan serba kekurangan, setidaknya dia masih mempunyai seorang Ibu dengan kasih sayang yang melimpah. 


Sedangkan dirinya? Aurel mempunyai ibu, tetapi ia kehilangan peran dan kasih sayang seorang ibu. Aurel mulai membandingkan hidupnya dengan Nafa, ia ingin sekali memiliki ibu yang perhatian seperti Vanesa.


Alex menggenggam tangan Aurel yang berada di pahanya, seolah tahu bahwa Aurel sedang rapuh. Ia paham betul apa yang ada di pikiran Aurel saat ini.


Aurel menoleh ke arah Alex ketika tangannya digenggam. Alex tersenyum kepadanya, seolah tahu isi pikirannya. Aurel membalasnya dengan senyuman dan anggukan.


"Iya, Bu. Saya jurusan Hubungan Internasional dan Aurel jurusan Tata Busana," jawab Alex mewakili Aurel.


Vanesa menatap mereka berdua dengan takjub. Andai ia bisa membiayai kuliah anak-anaknya, pasti mereka akan sukses seperti Alex dan Aurel.


"Jadi, jika Ibu memerlukan baju kebaya atau model baju lainnya. Saya bisa bantu Ibu," sahut Aurel dengan nada lembut.


Nafa di sana hanya diam mendengarkan percakapan mereka dengan baik. Ia sungguh iri dengan kehidupan mereka yang mampu melakukan apa yang mereka inginkan, tanpa harus usaha keras berhari-hari.


Sejujurnya, setelah Nafa lulus SMA, ia ingin sekali melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliahan. Tetapi, setelah bapaknya meninggal, ia serta keluarganya harus bekerja habis-habisan untuk membiayai hidup mereka.


Jangankan untuk kuliah, untuk membeli kebutuhan aja susah. Jurusan Tata Busana, Nafa ingin sekali mengambil jurusan itu. Ia sangat menyukai mendesain dan menjahit. 


Dahulu, Nafa mempunyai mesin jahit. Tetapi, harus di jual karena ia sedang membutuhkan uang. Memang tak rela, tetapi harus bagaimana lagi?


Vanesa sempat terpaku mendengar jurusan yang dipilih oleh Aurel. Karena, Nafa pernah bercerita kepadanya dulu. Bahwa Nafa sangat ingin kuliah di jurusan Tata Busana, putrinya itu sangat pintar dalam membuat baju.


Pernah Vanesa dibuatkan baju oleh Nafa, hingga sampai saat ini ia menjaga baju itu dengan baik.

__ADS_1


"Baiklah, Ibu akan memberitahumu nanti jika butuh," jawab Vanesa dengan candaan.


Tidak mungkin ia akan menggunakan jasa Aurel. Pasti akan sangat mahal, mengingat Aurel dan Alex berkuliah di kampus yang terkenal dan terbaik di provinsinya. Vanesa tidak akan mampu untuk membayarnya, untuk membuat atau membelikan makanan enak untuk anaknya saja ia tidak mampu.


Percakapan berakhir, setelah itu hening. 


Tidak ada yang membuka obrolan kembali, membuat mereka kembali canggung.


Namun, suara perut Aurel mengalihkan perhatian mereka. Aurel memperlihatkan giginya yang rapi itu, ia merasa lapar karena belum makan sejak pergi dengan Alex.


Alex terkekeh, sifat Aurel begitu konyol. Dan menurutnya, sangat menggemaskan. Alex terlalu panik tadi karena lengan Aurel berdarah, hingga melupakan bahwa saat bersamanya Aurel belum makan apapun.


Alex mengacak rambut bergelombang Aurel. "Maaf, aku lupa memberimu makan."


Terdapat raut penyesalan di wajah Alex. Aurel tersenyum lebar, "Tidak apa-apa, Alex. Tetapi, bisa kah aku memakan sesuatu sekarang?" tanya Aurel kepada Alex.


Karena barang belanjaannya tadi Alex lah yang membawanya, tidak tahu ditaruh mana oleh Alex.


"Tentu saja. Aku akan keluar sebentar untuk mengambilnya," ucap Alex.


Sebelum Alex beranjak dari kursi, Vanesa menghentikan Alex.


"Tunggu, Alex. Ibu sampai lupa jika masih mempunyai makanan,"


"Ah tidak usah, Bu. Nanti Ibu akan repot, lagi pula aku tadi sudah membelinya saat sedang di Supermarket. Aku akan segera kembali," balas Alex beranjak pergi.


Vanesa menghela nafasnya, anak itu benar-benar sangat keras kepala. Padahal hanya menyiapkan makanan yang ada itu tidak akan membuatnya kerepotan, tetapi lelaki itu masih tetap pergi untuk mengambil m makanannya di mobil yang sudah ia beli.


Alex kembali dengan membawa kertas plastik berukuran besar, ia menaruh plastik itu di bawah meja.


"Bu, bisakah aku meminta air panas? Untuk membuat bubur dan susu,"


Sebenarnya Alex tidak enak meminta tolong di rumah orang yang baru saja mereka kenal. Ia takut merepotkan pemilik rumah, tetapi bagaimana lagi?

__ADS_1


"Tentu saja, mari ikut denganku ke dapur."


Alex pergi ke dapur mengikuti Vanesa dengan membawa bungkusan bubur dan susu.


"Memang dengan itu Aurel akan kenyang?" tanya Vanesa melihat bahwa buburnya tidak banyak. Ia tidak yakin saat Aurel memakannya akan kenyang.


"Ini sudah cukup dengan Aurel, Bu. Hanya untuk mengganjal perut agar tidak lapar," jawab Alex dengan lembut. 


Tidak mungkin bukan Alex akan mengomongkan apa adanya tanpa bahasa yang baik? Ia takut nanti Vanesa akan tersinggung jika ia berbicara ceplas-ceplos.


"Jika sudah selesai, kamu ke depanlah dulu. Ibu akan menyusul nanti," ucap Vanesa.


Mendengar itu, lantas Alex menganggukkan kepalanya dengan menurut. Alex menurut, setelah selesai menuangkan air panas, ia berpamitan untuk kembali ke depan.


Vanesa mengambilkan mereka piring yang berisi kue buatan dirinya dan putrinya. Ia membawa piring itu ke depan.


Di sana, Alex sedang menyuapi Aurel dengan telaten. Vanesa menaruh ke meja piring yang berisi kue itu, lalu duduk kembali.


Setelah selesai, Alex menaruh mangkuk dan gelas yang sempat ia pinjam dan membersihkannya sekaligus. Melihat Alex kembali duduk di sampingnya, membuat Aurel kembali memainkan tangan besar Alex.


Nafa yang melihat itu panas. Ia mengambil piring berisi kue, lalu menyerahkannya kepada Aurel.


"Aurel, cobalah. Ini kue buatan kami," ucap Nafa dengan tersenyum.


Aurel membalas senyuman itu. Ia pernah merasakan kue itu waktu kue Nafa terjatuh, ingin ia menolak karena memang tidak bisa memakan apa pun yang keras, tetapi tidak enak.


Jika Aurel tidak menolaknya, ia juga tidak biasa memakan kue seperti ini.


Aurel tersenyum, ia dengan pelan menggelengkan kepalanya. "Maaf, Nafa. Aku tidak biasa memakan yang seperti ini," jawab Aurel dengan sesal.


Dapat Aurel lihat raut wajah Nafa yang tadinya tersenyum lebar itu mulai menghilang, bergantikan raut wajah kesal. Aurel menjadi semakin bersalah melihat itu.


Aurel tidak enak menolak tawaran Nafa, ia tidak enak kepada Vanesa yang telah bersikap baik kepada dirinya. Tetapi, dirinya malah tidak menghargai mereka.

__ADS_1


Sedangkan Vanesa hanya tersenyum, ia memaklumi Aurel karena tahu bahwa Aurel dari orang berada.


__ADS_2