
Bab 15. (Bertemu lagi)
Farel panik memikirkan semua itu, ia takut ada hal berbahaya yang menimpa ibu dan kakaknya. Farel ingin pergi untuk mencari kakaknya yang sedang bekerja, tetapi ia bingung. Karena tidak ada ada seseorang di dalam toko, Farel takut jika ia meninggalkan toko akan terjadi sesuatu yang buruk.
Farel mondar-mandir di depan pintu toko. Ia tidak tahu harus melakukan apa, sedangkan pikirannya sudah melayang memikirkan banyak hal buruk.
Ingin sekali Farel meninggalkan toko untuk melihat keadaan ibu dan kakaknya, tetapi bosnya itu belum juga pulang. Farel menatap ponsel yang berada di mejanya, tangannya menjulur untuk mengambilnya. Ia berpikir untuk menelepon kembali kakaknya, mungkin saja kakaknya tadi kehilangan sinyal dan jika ia menelepon kembali akan diangkat.
Telepon pertama dari Farel tidak diangkat, tetapi ia tidak putus asa. Farel menelepon kakaknya berkali-kali, tetap saja tidak diangkat. Bahkan sekarang nomornya sudah tidak aktif.
"Apa yang terjadi?" gumamnya dengan rasa gelisah.
Farel keluar dari toko, ia mencoba untuk mencari seseorang yang mau membantunya untuk menjaga toko, selagi ia pergi mencari kakaknya.
Namun, Farel tidak menemukan orang yang mau. Sudah hampir satu jam Farel menunggu orang lewat. Karena, setelah itu tidak ada orang yang melewati tokonya. Kini Farel hanya bisa menunggu bosnya pulang, tetapi mungkin akan lama.
Sedangkan di tempat lain, Aurel sedang jalan bersama Alex. Ia terus merengek kepada Alex untuk membelikan dirinya lagi Es Krim seperti tadi yang ia makan.
"Alex, mau Es Krim yang tadi lagi, kan belum habis sudah jatuh," rengek Aurel menggoyangkan lengan Alex sembari berjalan.
Alex menghentikan langkahnya, ia menghadap ke arah Aurel. "Kamu mau aku kembali ke gedung itu?" tanya Alex.
Pasalnya mereka sudah melangkah jauh dari gedung fakultas Hubungan Internasional. Jika mereka ingin membeli Es Krim seperti tadi, mereka harus kembali ke gedung itu. Karena, hanya di sana Es Krim itu dijual.
Mendengar pertanyaan Alex membuat Aurel bimbang. Ia memang menginginkannya lagi, tetapi jika harus membuat Alex berjalan jauh hanya untuk membelikannya Es Krim. Aurel tidak mungkin akan menyuruh Alex kembali ke sana, dan tentunya ia harus menunggu Alex dengan waktu lama.
"Aku menginginkan Es Krim lagi, tetapi tidak mau kamu lelah karena harus kembali lagi," jawab Aurel dengan pelan, ia menundukkan kepalanya.
Alex menghela nafasnya, ia menangkup kedua pipi Aurel agar menatap dirinya.
__ADS_1
"Sudah jangan sedih, aku akan menelepon temanku yang masih di sana agar membawakanmu Es Krim saat menuju parkiran."
Alex mengambil ponselnya yang berada di tas, ia membuka ponselnya untuk menelepon temannya.
"Kamu masih di kelas? Tolong jika nanti sudah selesai dan ingin ke parkiran, aku menitip untuk belikan Es Krim. Aku menunggu di kursi depan mobil."
Setelah mengucapkan itu, Alex mematikan sambungan teleponnya, ia mengajak Aurel untuk duduk sejenak di kursi.
"Lama tidak?" tanya Aurel yang dibalas gelengan kepala oleh Alex.
Mereka menunggu dengan Alex yang sedang melihat-lihat di sekitarnya, dan Aurel yang sibuk dengan ponselnya. Aurel menyenderkan kepalanya dibahu Alex, membuat Alex mati kutu.
Alex canggung dengan keadaan ini, sedangkan Aurel ia santai menggulir layar ponselnya sembari terkikik geli karena melihat sesuatu yang lucu.
"Alex, ayo kita foto!" ajak Aurel dengan semangat.
Tanpa menunggu persetujuan dari Alex, Aurel sudah lebih dulu mendekatkan wajahnya dengan Alex dan memotretnya. Aurel menatap foto itu dengan tersenyum, sangat bagus. Aurel yang sedang tersenyum lebar dan Alex tanpa ekspresi dengan tatapan matanya yang tajam.
"Terima kasih," ucap bosnya ketika sudah keluar dari mobilnya. Tetapi, ia cukup heran dengan Farel yang tiba-tiba ada di luar toko dan membukakan pintu mobilnya. Apakah Farel sedang menunggunya?
"Ada apa, Farel? Kenapa kamu di luar?"
Mendengar pertanyaan bosnya, Farel menjawabnya dengan gugup. Tangannya saling meremas satu sama lain, ia takut jika nanti bosnya tidak mengizinkan dirinya pergi.
"Saya mau minta izin, bos. Tadi kan, saya telepon dengan kakak saya, tetapi tiba-tiba saja sambungan teleponnya dimatikan. Tidak tahu ada apa, biasanya tidak seperti ini. Saya izin untuk mencari kakak saya yang sedang bekerja, takutnya nanti terjadi apa-apa, Bos." ucap Farel dengan berharap bosnya akan memberikannya izin.
Bos Farel seperti sedang berpikir. Jika Farel tidak ada di toko, apakah ia harus melayaninya sendiri? Bagaimana jika pada saat ramai? Pasti dirinya akan kewalahan.
Akan tetapi, kasihan juga dengan Farel. Pasti ia sangat khawatir dengan keadaan kakaknya yang tiba-tiba mematikan sambungan teleponnya. Bos Farel dibuat bimbang akan kedua pilihannya.
__ADS_1
"Ya sudah, tetapi setelah ini kamu langsung pulang saja, tidak usah ke sini lagi," balas bosnya.
Mendengar itu, Farel terdiam. Dirinya dipecat, kan? Pikirnya. Ia menjawab ucapan bosnya dengan panik, "Saya dipecat, Bos? Saya cuma mau izin kali ini doang, Bos."
"Tidak, kamu tidak dipecat. Maksud saya, sehabis mencari kakak kamu, tidak usah ke sini lagi. Langsung pulang saja, lagi pula beberapa jam lagi waktunya kamu pulang."
Farel menghembuskan nafasnya lega. Ia kira dirinya dipecat, jika Farel tidak bisa bekerja di sini, akan bekerja di mana lagi untuk menghidupi keluarganya?
"Oke, terima kasih, Bos. Boleh saya pergi sekarang?" tanya Farel berpamitan.
Ketika bosnya sudah mengangguk, Farel langsung pergi untuk mencari kakaknya. Pertama, ia pergi ke tempat yang sering kakaknya kunjungi. Tetapi, kakaknya tidak ada di sana.
Farel mencari kakaknya dengan berlari-lari di bawah terik matahari yang panas, hingga keringat mengucur deras di wajahnya. Meskipun tak bertemu, Farel tetap mencari, ia tidak menyerah. Bahkan kaos putihnya sekarang sudah basah karena keringat dan sedikit kotor.
Karena lelah, Farel berhenti berlari dan memilih mencari dengan berjalan.
"Farel!"
Langkah Farel berhenti ketika mendengar suara seseorang memanggil namanya. Ia mencari pemilik suara itu. Dari jarak yang jauh darinya, seorang gadis melambaikan tangannya. Gadis itu tersenyum dengan salah satu tangannya yang sedang memegang Es Krim.
Farel mendekati gadis itu. "Aurel? Sedang apa di sini?" tanya Farel ketika sudah berada di depan Aurel.
"Farel sendiri sedang apa di sini?" tanya Aurel mengulangi pertanyaan Farel.
Farel mendengus kesal. "Ditanya malah bertanya balik," cibirnya.
Aurel dapat melihat kaos Farel yang sudah basah dan sedikit kotor, ia dapat mencium aroma badan Farel yang bau akibat berlama-lama di bawah panasnya terik matahari.
"Baju Farel kok kotor? Dan juga, kenapa Farel bau keringat?" tanya Aurel dengan polosnya yang membuat Farel kesal.
__ADS_1
Tanpa menjawab pertanyaan Aurel, Farel melenggang pergi begitu saja meninggalkan Aurel.