Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 34 Hilang


__ADS_3

Hari sudah malam, dan Mario sedang berkutat dengan berkasnya yang sudah menumpuk di meja kerjanya. Sebenarnya ia ingin cepat pulang dan bertemu dengan putrinya. Tetapi berkas terus menghalanginya untuk pulang.


"Akhirnya selesai juga," gumam Mario menatap satu tumpukan berkas yang lumayan banyak. Sudah ada tiga jam ia mengerjakan berkas sebanyak itu, karena sekarang perusahaannya makin maju dan semakin banyak pula pekerjaannya.


Namun, Mario harus tetap semangat. Ada Aurel yang harus ia bahagiakan, ia mau hidup Aurel terjamin bahagia, serba ada dan tidak susah. Jadi nanti dirinya tidak perlu khawatir akan kebutuhan putrinya.


Lamunan Mario kembali sadar ketika pintu kerjanya diketuk. Kemudian, masuklah seorang lelaki membawa tumpukan berkas di tangannya.


"Permisi, Pak. Ini ada berkas lagi yang harus bapak kerjakan dan tanda tangani."


"Taruh di sini dan kamu bisa pergi," balas Mario.


Lelaki itu menaruh tumpukan berkas di meja Mario, lalu berpamitan untuk pergi. Di dalam ruangan, Mario menatap tumpukan berkas yang baru saja datang itu dengan memijat pangkal hidungnya. Apalagi ini? Padahal ia ingin cepat pulang, tetapi pekerjaan justru datang kepadanya dengan jumlah yang sangat banyak. 


Mario mengambil kacamatanya, lalu ia pakai. Tangannya mulai bergerak dengan mata yang bolak-balik menatap laptop dan berkas yang sudah ia buka. Sesekali, ia menoleh kepada jam tangan yang terpasang di pergelangan tangannya. “Aku harus segera menyelesaikan ini agar cepat pulang.”


Dengan gerakan cepat, jari Mario bergerak dengan cepat. Hingga jarinya terasa pegal dan kebas. Mario menghembuskan nafasnya lega, ia menyenderkan punggungnya ke senderan kursi kerjanya. Akhirnya, ia selesai lagi. 


Mario membereskan laptopnya untuk pulang, ia sudah lelah berada di sini. Mario keluar dari kantornya, menaiki mobilnya dan menjalankan menuju rumah.


Tidak terasa, Mario sampai di rumahnya. Ia memasuki gerbang, dan memarkirkan mobilnya dengan rapi di samping mobil lain. Dengan semangat, Mario memasuki rumahnya dengan membawa tas kerja dan satu bingkisan berisi bubur kesukaan Aurel.


Saat Mario memasuki ke rumah, ia melihat Carramel yang sedang duduk di sofa sembari memainkan laptop di pangkuannya. Mario tahu Carramel melihatnya, tetapi wanita itu bersikap seolah-olah tidak melihat dirinya.


Terkadang Mario iri dengan temannya yang selalu disambut oleh istrinya saat pulang bekerja, dilayani dengan baik dan menikmati tugas istrinya seperti menyiapkan baju, makanan dan lain-lain. Tetapi, tidak ada yang dapat Mario harapkan dari Carramel. Wanita itu akan tetap pada pendiriannya untuk memprioritaskan karirnya.

__ADS_1


Mario menghembuskan nafasnya, tidak tahu kenapa ia bisa menikah dengan wanita seperti Carramel. Mario mulai menaiki tangga untuk menuju ke kamar Aurel. 


Dengan perasaan senang, Mario mengetuk pintu Aurel. Ia sudah rindu dengan putrinya itu, karena sedari kemarin malam ia sudah meninggalkan Aurel di rumah dengan Alex. Tetapi sekarang lelaki itu sudah pulang.


Merasa ketukannya tidak dijawab, Mario mengetuk pintunya lagi dengan lebih keras dari sebelumnya. Tetapi tetap saja tidak ada jawaban dari dalam. Apakah Aurel sudah tidur? Atau masih di kamar mandi? Tidak mungkin jika Aurel sudah tertidur jam delapan malam. Karena biasanya gadis itu akan merengek jika disuruh tidur lebih cepat dan meminta dirinya untuk menemani menonton televisi sembari memakan bubur.


Baiklah. Mario akan menunggu selama lima menit, jika Aurel belum keluar juga, ia akan masuk ke dalam. Mario menyandarkan punggungnya ke tembok dengan memejamkan matanya, tangannya masih memegang tas kerja dan bingkisan untuk Aurel.


Lima menit sudah berlalu, tetapi tidak ada tanda-tanda pintu kamar Aurel akan terbuka. Mario berdiri tegap seperti semula, tangannya memegang gagang pintu kamar Aurel untuk membukanya.


"Aurel?" panggilnya dengan menelusuri seluruh isi kamar.


Aurel tidak ada di kamarnya. Ke mana gadis itu pergi? Apakah dengan Alex? Tetapi tidak mungkin. Lelaki itu tidak berani mengajak Aurel untuk pergi malam hari, karena ia sudah memberi peringatan. Alex pun menjalankan aturan Mario dengan bertanggung jawab.


Mario duduk di sofa depan televisi. Tetapi, hal itu tidak juga membuat Carramel menengok. Wanita itu tetap memandang laptop. Mario menaruh tas kerja dan bingkisannya di meja.


“Bibi!” teriaknya memanggil Bibi Jane.


Carramel sedikit terganggu dengan teriakan Mario, wanita itu hanya menoleh sekilas lalu melanjutkan kegiatannya. Benar-benar tidak peduli sama sekali dengan keluarga.


“Iya, Tuan?” 


“Aurel di mana, Bibi? Kenapa tidak ada di kamarnya? Apakah dia sedang bermain bersama dengan Alex?” tanya Mario dengan bertubi-tubi.


Bibi Jane bingung ingin menjawab bagaimana. Ia pun tidak tahu Aurel berada di mana. Karena selepas ia dari kamar Aurel, dirinya disibukkan dengan pekerjaan. Carramel dapat melihat raut bingung dari wajah Bibi Jane.

__ADS_1


“Aku menyuruh Aurel untuk pergi keluar jalan-jalan,” jawab Carramel dengan tiba-tiba. 


Sontak Mario terkejut dengan jawaban Carramel. Apa wanita itu tidak waras? Dia malah menyuruh Aurel pergi ke pasar malam sendirian, tanpa pengawasan dari dirinya. Sangat mencontohnya Ibu yang sangat buruk.


“Apa kamu tidak waras?” tanya Mario balik dengan berdiri. Tangannya terkepal.


Carramel menatap Mario dengan alis terangkat. “Kenapa? Bukankah anak remaja seharusnya sudah berkumpul di luar bersama teman-temannya? Bukan hanya di rumah saja, itu akan membuatnya tidak tahu hal luar.


“Arghhh!” erang Mario mengacak rambutnya. Bagaimana bisa Carramel melakukan hal seperti ini? Tentu saja ini akan membuat penyakit hemofilia Aurel bisa kambuh karena terlalu lelah. Ia tahu banyak hal berbahaya di luar sana.


“Kamu ini kenapa? Bukankah pergaulan itu penting juga untuk Aurel? Jika dia tidak bergaul, maka ia tidak akan mempunyai teman.”


Bagaimana cara Mario menyadarkan Carramel? Bahwa di luar sana, tidak seperti yang wanita itu lihat. Jika Carramel mungkin sudah biasa keluar dan bersosialisasi dengan orang lain. Sedangkan Aurel? Gadis itu masih sangat lugu untuk mengenal dunia luar.


Mario mengambil ponselnya untuk menelepon Alex. “Halo, Alex? Bisakah kamu ke sini? Untuk membantuku mencari Aurel.”


Kini Mario dan Alex sedang mencari Aurel dengan menaiki mobil. Mereka berhenti di tempat yang ramai, barang kali Aurel berada di antara orang ramai ini. Mereka turun dari mobil dan lebih memilih mencari dengan berjalan kaki.


“Kita berpencar di sini, dua puluh menit kembali di sini lagi.” Alex dan Mario pergi ke arah yang saling berlawanan. 


Dua puluh menit sudah berlalu, mereka kembali ke tempat yang sama. 


“Aku tidak menemukan Aurel di sana,” ucap Alex. Mario pun tidak menemukan.


Namun, pandangan Alex terpaku pada pasar malam dengan jumlah mainan yang sangat banyak dan menjulang tinggi.

__ADS_1


__ADS_2