Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 35 Mengobati


__ADS_3

(Mengobati)


Farel kembali menuju Aurel dengan berlari. Tangannya membawa perban, guna untuk menghambat darah Aurel sebelum di bawa ke rumah sakit. Dapat lelaki itu lihat, tisu yang ia suruh untuk menghambat luka itu sekarang sudah berganti menjadi warna merah.


"Aku obati dulu, ya. Kamu bisa berteriak jika ini sakit," ucap Farel mulai mengeluarkan perban dari kotak.


Aurel tidak menjawab, ia hanya menatap Farel yang sedang memegang lengannya untuk mengobati lukanya dengan sangat pelan-pelan. Tidak ada suara seperti rintihan, teriakan atau pun erangan yang keluar dari mulut Aurel.


Farel sudah memakaikan perbannya ke lengan Aurel yang berdarah, tetapi darah itu menembus perban dan membuat ia panik. Farel tidak ingin jika nanti kakaknya akan diberi hukuman karena telah melukai Aurel. Ia tahu bahwa setelah keluarga Aurel mendengar berita bahwa gadis itu terluka, maka mereka tidak akan menerimanya dengan diam.


Mereka pasti akan mencari Nafa untuk diberi hukuman yang berat. Meskipun tidak terlalu dengan Aurel, ia tahu bahwa keluarga gadis itu adalah orang yang berbahaya. Apalagi sampai mendengar Aurel terluka. Farel tidak mau sampai hal itu terjadi.


Farel melepas perbannya dan memasangnya dengan yang baru. Ia pikir jika perban pertama memang darah akan menembus karena lukanya masih baru dan jika digantikan dengan perban yang baru tidak akan menembus lagi. Tetapi ternyata pikirannya salah. Sudah berkali-kali ia mengganti perban dan darahnya masih menembus.


Masalah ini membuat Farel bingung. Jika terus menembus seperti ini ia harus bagaimana? Apakah perbannya kurang tebal? Farel mencoba untuk mengganti lagi perbannya, kali ini lebih tebal.


Namun, tidak butuh waktu lama. Darah kembali menembus perban itu. Farel menatap luka itu dengan bingung. Segala cara sudah ia coba agar darah dapat berhenti keluar, tetapi semuanya gagal. Jika terus-terusan begini, maka lama-lama Aurel akan kehabisan darah.


Farel terdiam sejenak, ia berpikir untuk mencari cara yang lain. Perban yang ia bahwa bahkan sudah habis, tidak tersisa sedikit pun. Ia harus menggunakan cara apalagi agar darah Aurel dapat berhenti?


Sedangkan disisi lain. Mario dan Alex menatap pasar malam itu dari pinggir jalanan. Mario tidak yakin dengan ajakan Alex yang ingin mencoba mencari ke dalam pasar malam. Di dalam sana sangat ramai, jika Aurel berada di sana pasti mereka akan sulit untuk menemukan Aurel. Dan juga, mengingat Aurel tidak pernah berkunjung di tempat ramai seperti ini.

__ADS_1


"Apakah kamu yakin, Alex?" tanya Mario menoleh ke Alex. Tetapi, tidak mungkin lelaki itu mengajaknya ke dalam jika tidak yakin. Kenapa ia bisa melontarkan pertanyaan yang konyol seperti ini?


Alex menganggukkan kepalanya. "Sangat yakin. Meskipun Aurel tidak pernah datang ke pasar malam, tetapi tempat ini memiliki sangat unik. Dan Aurel suka dengan apa pun yang menurutnya unik dan seru."


Ucapan Alex membuat Mario paham. Ternyata Alex mengenal baik hal kesukaan Aurel, ini adalah awal yang bagus untuk perjodohan mereka.


“Baiklah. Mari kita cari di dalam,” ajak Mario setuju, tidak ada pilihan lain lagi.


Mereka mulai berjalan memasuki daerah pasar malam. Sesampainya di dalam, mereka langsung disuguhi oleh pemandangan yang indah serta suara yang sangat berisik.


"Kita berpencar lagi? Aku ke sani dan kamu ke sana," ucap Mario menunjuk arah yang berlawanan. 


Alex menjawabnya dengan mengangguk. Mereka mulai berpencar untuk mencari Aurel lagi. Dengan teliti, mereka memperhatikan orang secara bergantian dan melihat ke arah wahana yang terbuka. Sesekali bertanya kepada beberapa orang dengan memperlihatkan foto Aurel. Tetapi hasilnya nihil. Mencari di dalam pun Aurel masih belum ditemukan.


Mario mengalihkan pandangan ke isi pasar malam. Matanya menelusuri isi tempat itu.


"Ayo kita ke sana," ucap Mario dengan tiba-tiba, jari dan matanya menunjuk satu jalan di depannya. Tidak tahu mengapa hatinya mengatakan bahwa ia harus mencari di sana.


Sebenarnya Alex bingung, kenapa Mario mengajaknya untuk mencari melewati jalan di depannya. Tetapi ia tetap mengikuti pilihan Mario, mereka mulai berjalan melewati jalan itu dengan Alex melihat arah kiri dan Mario melihat arah kanan.


Di saat sedang berjalan, tiba-tiba saja Mario mencekal tangan Alex untuk berhenti. Sontak Alex menghentikan langkahnya, ia menghadap ke arah belakang. Di sana, Mario sedang diam tetapi matanya tertuju pada suatu objek yang ia lihat. Bisa Alex lihat raut wajah Mario yang lama-kelamaan berubah menjadi marah. Alex mengalihkan pandangannya untuk melihat objek yang Mario lihat.

__ADS_1


Di sana, terdapat Aurel yang sedang duduk di kursi dengan lengan dibalut perban. Tetapi perban itu penuh dengan darah dan Farel yang mencoba mengobati lengan Aurel. Terlihat lelaki itu bingung harus bagaimana dengan masalah ini.


Mario melepaskan cekalan tangannya pada Alex. Ia menghampiri Aurel yang sedang bersama seorang lelaki. Apakah lelaki itu yang membuat lengan putrinya terluka? Mario tahu bahwa Aurel mempunyai penyakit hemofilia yang menurun dari dirinya.


"Aurel!" panggil Mario dengan wajah khawatir sekaligus marah. Aurel dan lelaki itu menoleh kepada dirinya, wajah gadis itu terlihat sangat pucat. Alex mengikuti Mario di belakang pria itu.


Farel berdiri agar Mario bisa duduk di samping Aurel. Ia memang tidak tahu siapa pria ini, tetapi Aurel terlihat kenal dengan pria yang memanggilnya.


"Alex, ambilkan suntikan dan cairan yang ada di mobil. Darah Aurel tidak bisa berhenti begitu saja," ucap Mario dengan menyuruh. Ia membawa putrinya ke dalam pelukannya.


"Papa," lirih Aurel dengan pelan saat dalam pelukan papanya. Ia menahan rasa sakit yang menjalar dari lengannya. Keringat mulai keluar dari dahinya.


"Sebentar, ya. Alex akan segera kembali membawa obat untukmu."


Farel mendengar semua perbincangan mereka. Kini ia sudah tahu dan paham, bahwa pria itu adalah Papa Aurel. Farel dapat melihat dengan jelas sepertinya Alex sudah akrab dengan Mario.


Mario menoleh kala Alex sudah datang dengan suntikan dan cairan yang ia minta dengan tergesa-gesa. Cairan itu bisa membantu untuk membekukan darah Aurel.


Saat cairan itu sudah disuntikkan, darah Aurel belum juga membeku. Hal itu tambah membuat mereka panik. Karena biasanya jika gadis itu terluka dan mengeluarkan darah, jika disuntikkan dengan cairan itu maka akan membeku.


“Alex, ayo kita bawa Aurel ke rumah sakit.”

__ADS_1


Mario menggendong Aurel dengan perasaan yang campur aduk. Ia berjalan menuju mobil dengan Alex yang menyetir mobil. Selama di perjalanan, Mario tidak berhenti untuk menatap Aurel yang sangat pucat dan terlihat seperti kesakitan.


__ADS_2