Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 24 Mengikuti Farel


__ADS_3

Farel berjalan sangat cepat, ia takut nanti akan di marah oleh majikannya sebab ia lama sekali mengambil berkasnya. 


Sebenarnya Farel sangat lelah, apalagi sudah dua kali ia bolak-balik dari toko dan rumah dengan berjalan di bawah terik matahari yang sangat panas. Ingin sekali Farel mengeluh, tetapi ia bisa apa selain menjalankannya dengan pasrah?


Bagaimana cara Farel mengubah nasibnya? Ia tidak ingin seperti ini terus. Ia ingin mendapatkan banyak uang agar hidup keluarganya tidak begitu susah dan dapat tercukupi.


Kaki Farel melangkah lebih cepat lagi, dirinya sudah tidak tahan panas begini. Dengan tangan yang memegang erat berkasnya, Farel sedikit berlari. Toko butik tempatnya bekerja masih sangat jauh letaknya.


Saat ia sedang berlari, Farel melihat ada bayangan yang mengikutinya. Sontak ia menengok ke belakang, di sana terdapat Aurel yang berlari dengan nafas tak teratur. Gadis itu ikut berhenti, kemudian menatap dirinya dengan senyuman konyolnya.


“Aurel?” gumam Farel dengan raut wajah terkejut.


Bagaimana bisa Aurel berada di sini? Bukankah lelaki yang di samping Aurel tidak memperbolehkan Aurel ikut dengannya?


“Halo, Farel!” seru Aurel dengan melambaikan tangannya.


Aurel berjalan dengan sedikit berlari ke arah Farel. Setelah berada di samping lelaki itu, Aurel menatap Farel dengan tersenyum membuat kedua pipinya muncul lubang yang membuat dirinya semakin cantik dan lucu.


“Kenapa bisa di sini?” tanya Farel mengernyitkan dahinya bingung.


Aurel tertawa kecil mendengar itu. “Karena, aku ingin ikut dengan Farel ke toko butik tempat Farel bekerja!” jawab Aurel dengan nada ceria seakan ia mendapatkan sesuatu yang sangat indah.


Bahkan, Farel pun bingung. Kenapa Aurel sangat bahagia dan ceria? Seolah kesenangan tidak bosan masuk ke dalam lingkup kehidupan gadis cantik ini. Menatap Aurel dengan dekat seperti ini, membuat jantung Farel berdetak lebih cepat. Gugup? Itulah yang Farel rasakan. Tetapi ia berusaha untuk menutupi kegugupan itu, ingin sekali ia mendekap tubuh mungil gadis ini lantaran sangat gemas dengan kelakuannya.


“Bukankah lelaki yang bersamamu itu sudah melarang kamu untuk ikut?” tanya Farel lagi.


“Alex? Tanpa Alex tahu, aku diam-diam pergi untuk mengikutimu.”

__ADS_1


“Astaga! Untuk apa? Lebih baik kamu kembali sebelum lelaki itu marah kepadamu dan juga padaku.” ucap Farel dengan menyuruh. 


Tentu saja Farel panik, ia tidak mau disangka mempengaruhi pikiran Aurel. Ya, walaupun ia sendiri akan senang jika gadis itu berada di sampingnya. Tetapi, tetap saja dia tidak mau Alex marah. Karena, Alex lebih berkuasa dibanding dirinya yang tidak memiliki apa-apa dan gelar apa pun. Farel takut jika nanti ia dan keluarganya mendapatkan ancaman.


“Kenapa? Padahal sudah susah-susah aku pergi agar Alex tidak tahu,” cibir Aurel dengan cemberut kesal.


Alex bukanlah tipe orang yang gampang untuk dibohongi. Aurel harus berhati-hati, jika ia ingin pergi dari Alex. Sudah Aurel bilang, karena Alex akan seram jika lelaki itu sedang marah. Dan di saat dirinya sudah berhasil, Farel menyuruhnya kembali? Sungguh menyebalkan!


“Aku tidak memintamu untuk ikut bersamaku.” balas Farel dengan sok tidak peduli.


Padahal dalam hatinya, ia bahagia karena Aurel diam-diam pergi hanya karena dirinya. Memang benar, ucapan yang keluar dari mulut akan berbeda dengan yang ada di dalam hati.


“Tidak mau, aku ingin ikut denganmu.”


Farel kembali melanjutkan langkahnya dan bersikap acuh. Berjalan untuk menuju toko butik tempat ia bekerja itu masih jauh. Farel tidak mau Aurel lelah berjalan, itulah salah satu alasan Farel menyuruh Aurel kembali selain takut jika nanti Alex akan marah.


Apakah Farel berangkat bekerja seperti ini terus? Maksudnya dengan berjalan kaki, dan di bawah terik matahari yang sangat panas? Itu pasti akan membuatnya sangat lelah setiap hari, Aurel tidak akan kuat jika begini setiap hari.


Aurel mencekal lengan Farel yang masih saja berjalan. Farel sontak menghentikan langkahnya.


“Farel, aku lelah!” rengek Aurel dengan menarik-narik tangan Farel.


Dengan malas, Farel membalikkan badannya menghadap ke arah Aurel lagi. Bisa ia lihat tatapan melas Aurel.


“Sudah kubilang, tidak usah ikut dan kembalilah. Tetapi, kamu tidak menurutiku, bukan?” tanya Farel dengan rasa kesal.


Jika dibilang lelah Farel pun sudah merasakannya, bahkan lebih dari Aurel. Tetapi, apa boleh buat? Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menjalankannya dengan perasaan pasrah. Jika Aurel? Mungkin gadis ini sudah mendapatkan semua yang ia mau, sehingga tidak bisa berada di keadaan seperti ini.

__ADS_1


“Farel, gendong! Antar Aurel pulang ke rumah lagi, yuk!”


Farel melototkan matanya mendengar ucapan Aurel. Apakah gadis ini sedang bercanda? Ia sudah bolak-balik kedua kali, dan sekarang? Farel tidak kuat jika harus menggendong Aurel ke rumahnya lalu kembali lagi ke toko. 


“Tidak, lebih baik aku melanjutkan perjalananku daripada harus repot-repot menggendongmu untuk kembali.”


Salah siapa gadis itu mengikuti dirinya? Farel tidak meminta itu semua. Menuruti permintaan gadis itu, hanya akan membuatnya telat untuk sampai ke Toko. Farel melanjutkan langkahnya kembali, ia tidak memedulikan lagi rengekan gadis itu.


“Farel, ayolah. Aku sudah sangat lelah.” Aurel mencoba untuk mengikuti langkah Farel yang semakin cepat.


Tetapi, Aurel berhenti kala ia merasakan pusing di kepalanya. Badannya menjadi dingin, Aurel memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri itu. Ia tidak lagi melangkahkan kakinya untuk menyusul Farel.


Karena tidak mendengar rengekan serta  cekalan Aurel pada bajunya, Farel menjadi heran. Tetapi, ia tidak melakukan apa-apa selain melambatkan langkahnya. Apakah gadis itu tertinggal sebab langkahnya yang terlalu cepat?


Namun, tetap saja Farel tidak merasakan bahwa gadis itu mengikutinya lagi. Dengan sedikit rasa khawatir di hatinya, Farel menoleh ke belakang.


Di sana, terlihat Aurel yang diam sembari memegang kepalanya bagaikan patung. Farel menghampiri Aurel dengan perlahan, ia ingin bertanya kepada Aurel yang hanya diam.


Hingga, dekat dan semakin dekat. Farel dapat melihat wajah Aurel yang pucat dengan mata yang menatapnya dengan sayu. Ia berlari saat tubuh gadis itu limbung.


“Aurel!”


Beruntung Farel menangkap Aurel ke pelukannya, sebelum gadis itu jatuh ke tanah. Farel menepuk-nepuk wajah Aurel yang sudah tak sadar.


“Aurel, bangun!”


Tetap saja Aurel tidak bangun, dan tentunya sangat membuat Farel bingung dengan keadaan ini. Ia harus bagaimana? Meminta tolong kepada siapa untuk membawa Aurel ke rumah sakit?

__ADS_1


__ADS_2