
Aurel sampai di sebuah butik, dia ingin bertemu dengan seseorang yang sudah lama tidak ditemuinya. Berbekal keyakinan dan rasa rindunya, Aurel pergi untuk menemui Farel.
Pertemuan yang tidak bisa disangka, setelah cukup lama Aurel menunggu. Akhirnya mereka bertemu. Aurel mengalihkan tatapan dari layar ponsel, agak menengadah hanya untuk mendapati sesosok lelaki bertubuh tegap, bahkan senyumnya saja bisa Aurel kenali meski hanya berjarak satu meter darinya.
"Maaf, apakah kursi di sebelahmu sudah ada yang mengisi?"
"Oh, tidak. Kursi ini kosong."
Lelaki itu tersenyum sedikit, sampai kedua matanya menyipit. Dia mengenakan setelan yang sederhana, Farel tersenyum semakin lebar ketika melihat Aurel, sudah lama sekali mereka tidak bertemu.
Meskipun begitu, tidak ada yang berubah dari Aurel. Dia tetaplah perempuan yang Farel kenali sebagai orang-orang yang pernah mengisi ruang di dalam hatinya.
"Apa kabar? Lama tidak bertemu," sapa Farel pada Aurel, mereka saling menyapa satu sama lain.
"Kabarku baik, kamu sendiri?"
__ADS_1
Di saat yang sama, seorang anak perempuan datang, berlari-lari kecil ke arah Farel dan langsung disambut oleh pria itu , Aurel kebingungan, siapa gerangan anak cantik tersebut dan apa hubungannya dengan Farel.
"Oh, aku belum memperkenalkan dia padamu. Ini putriku."
Matanya melebar seketika Farel menjelaskan bahwa anak tersebut adalah putrinya. Aurel terkejut saat mengetahui kalau pria itu ternyata sudah menikah. Rasanya seperti mimpi ketika Aurel mendengar penjelasan itu
"Tidak mungkin. Kamu pasti bercanda, kan?!"
"Aku serius, dia putriku." Farel beralih pada putrinya. "Ayo sapa dia."
Gadis kecil yang tak lain adalah putri Farel langsung beralih ke arah Aurel dan tersenyum manis. Wajahnya sangat mirip dengan Farel, tidak diragukan lagi, dia memang putrinya.
"Tante cantik sekali," kata bocah kecil itu tiba-tiba. Mendengar pujian dari anak kecil Aurel tersenyum senang. Biasanya anak kecil lebih jujur dari orang dewasa.
Berbeda dengan Farel, setelah mendengar celetukan polos putrinya, hatinya tiba-tiba saja langsung bergetar. Benar, Aurel memang cantik, sama seperti dulu dan selalu begitu.
__ADS_1
"Terima kasih, kamu juga sangat cantik." Aurel mengusap kepala gadis kecil itu, melihat interaksi antara mereka entah kenapa membuat hati Farel menghangat.
Beberapa waktu telah berlalu, Alex keluar dari mobil setelah sampai di rumah Aurel, dia sengaja datang tanpa bilang terlebih dahulu pada orang rumah tersebut. Pria itu juga sudah mengetahui tentang kepulangan Aurel dari London, dengan segera dia menemui Aurel untuk melepaskan rasa rindunya.
Tidak banyak yang Alex bawa, dia hanya membawa buket bunga untuk gadis itu sekaligus sebagai permintaan maaf karena pernah membentaknya sampai melempar ponsel ke lantai. Semoga saja Aurel memaafkannya.
Setelah kepergian Aurel ke luar negeri, Alex melanjutkan pendidikan S2-nya sampai selesai, sekarang dia menjabat sebagai CEO di perusahaan milik ayahnya. Alex memilih untuk fokus berkarir selama menunggu Aurel pulang, dia merasa harus menebus rasa bersalahnya dengan hal tersebut.
"Semoga saja dia ada di rumah," kata Alex pelan. Dia berusaha meyakinkan diri bahwa gadis itu pasti akan menerimanya kembali.
Alex sudah sampai di depan pintu rumah Aurel, dia kembali menyiapkan diri untuk bertemu gadis itu. Entah apa pun respon Aurel nanti, Alex harap gadis itu mau menerimanya kembali.
Alex membunyikan bel, tidak butuh waktu lama pintu rumah tersebut terbuka. Namun, bukan pembantu rumah yang membukakan pintu seperti biasa, melainkan Aurel secara langsung.
"Alex?" seru Aurel saat melihatnya datang.
__ADS_1