
(Menjenguk Aurel)
Sejak pagi Farel terlihat tidak tenang dengan aktivitas yang dijalaninya. Apa pun yang ia lakukan tidak ada yang berjalan dengan benar. Pikirannya terus tertuju pada gadis itu. Apalagi setelah mendengar bahwa Aurel masuk rumah sakit, semakin saja otaknya dipenuhi dengan namanya.
Farel tahu betul, yang dirasakannya ini bukanlah rasa khawatir seorang pria kepada perempuannya. Akan tetapi, lebih kepada rasa bersalah karena menganggap dirinya menjadi penyebab insiden yang menimpa Aurel.
Karena itulah, Farel memutuskan untuk mengunjungi gadis itu. Terlebih lagi ia harus meminta maaf atas ulah sang kakak.
Tanpa berpikir panjang, Farel beranjak dari tempatnya. Mengambil dompet dan kunci motornya, lalu melajukan motor menuju rumah sakit tempat Aurel dirawat. Sebelum itu, ia berniat memberikan bingkisan untuk Aurel. Entah apa, Farel sendiri belum tahu.
Mentari hampir menenggelamkan diri ke peraduannya ketika Farel menginjakkan kaki di sebuah rumah sakit di tengah kota. Di tangannya terdapat sebuah buket bunga dan sebatang coklat yang baru saja dibelinya ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Tidak ada yang spesial dari kedua benda itu, tetapi tidak mungkin jika dirinya menjenguk orang sakit tanpa membawa apa-apa. Rasanya sangat tidak etis jika begitu. Karena itulah, Farel membawa ini untuk Aurel agar setidaknya membuat gadis itu senang.
Alasannya datang kemari tidak lebih dari sekadar sebagai penebus rasa bersalahnya. Aurel sampai dilarikan ke rumah sakit karena ulah kakaknya. Jadi, ini hanyalah sebagai bentuk kemanusiaan, bukan sebuah kepedulian apalagi pengungkapan rasa cinta. Semoga saja gadis remaja itu tidak menyalahartikan kedatangannya.
"Pasien atas nama Aurellia Dee Mahardika ada di ruangan apa, ya, Sus?" tanya Farel kepada resepsionis rumah sakit.
"Pasien atas nama Aurellia Dee Mahardika ada di Ruang Melati 2 lantai 1, ya, Pak," jawab suster itu setelah beberapa lama memeriksa data rumah sakit.
"Baik, terima kasih."
Lantas kemudian Farel melangkahkan kaki menuju ruangan yang dimaksud. Namun, belum sempat sampai di ruangan itu, terdapat tangan yang menahan pundaknya. Sehingga, mau tidak mau, laki-laki itu pun berhenti.
"Mau ngapain kamu?"
Merasa mengenal suara bariton itu, Farel seketika berbalik. Didapatinya Alex yang kini berada di hadapannya. "Mau apa aku ke sini, itu bukan urusan kamu!" katanya berseru.
__ADS_1
"Kamu mau jenguk Aurel, kan?" tanya Alex dengan nada mengintimidasi.
"Bukan urusan kamu!" Bagai kaset rusak, Farel kembali menjawab pertanyaan Alex dengan jawaban yang sama. Menurutnya, Alex tidak berhak mengurusi urusannya. Pun dengan orang lain.
"Jelas urusanku kalau ini tentang Aurel." Alex menginterupsi. Kali ini bukan hanya tangannya yang menahan gerakan Farel, tetapi juga mencoba untuk mendorong laki-laki itu.
"Aku mau jenguk Aurel, bukan mau bertengkar sama kamu, Lex." Farel menepis tangan Alex yang berada di bahunya menggunakan lengannya. Kemudian berniat melanjutkan langkahnya menuju ruangan Aurel, tetapi Alex masih saja menahannya.
"Nggak bisa, Aurel kayak gini itu semua gara-gara kakak kamu, jadi kamu nggak bisa lihat Aurel. Bukannya sembuh yang ada Aurel malah nambah sakit nanti!" Alex tetap pada pendiriannya. Ia tidak suka jika ada laki-laki lain yang dekat dengan Aurel—sebagai lebih dari seorang teman— kecuali dirinya.
Lelah menghadapi remaja satu ini, Farel menghela napasnya kasar. Ia masih menahan untuk tidak berbuat kasar karena ini tempat umum, tetapi ia juga enggan menuruti kemauan laki-laki satu itu.
"Kamu nggak ada hak ngelarang aku, Lex," balas Farel. Namun, itu tidak cukup untuk membuat Alex berhenti menahannya untuk bertemu Aurel.
"Lalu, apa hak kamu buat ketemu Aurel? Saudara, bukan. Sahabat, bukan. Pacar apalagi." Nada bicaranya seolah meremehkan, tetapi Alex tidak pernah peduli dengan hal itu. "Mending kamu pulang aja, deh!" serunya.
"Saya mau menjenguk Aurel, Om," jawab Farel mengambil kesempatan.
Mario yang menangkap maksud baik remaja yang berada sejurus di hadapannya itu pun tersenyum tipis. "Ya sudah, silakan. Kamar Aurel ada di ujung sana," katanya seraya menunjukkan sebuah ruangan.
"Tapi, Om ...." Alex berniat memprotes keputusan Mario, tetapi diurungkannya. Ia tidak mau ayah dari gadis yang disukainya malah hilang kepercayaan terhadap dirinya.
"Nggak apa-apa, Lex. Sepertinya Aurel juga jenuh," balas Mario tahu maksud Alex.
"Baik, terima kasih, Om."
Langsung saja Farel melangkah cepat menuju ruangan yang dimaksud. Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk melihat Aurel. Apakah luka gadis itu parah hingga harus dilarikan ke rumah sakit? Semoga saja tidak.
__ADS_1
"Gimana keadaan kamu, Rel?" tanyanya setelah mengucap salam. Sekarang ia sudah berada di samping brankar rumah sakit yang gadis itu tempati.
"Nggak apa-apa, cuma luka dikit, kok." Aurel membalasnya dengan senyum sumringah. Jelas sekali terlihat ada cinta di matanya ketika menatap Farel. "Makasih, ya, udah mau jenguk aku."
"Iya, jangan kepedean, deh. Ini hanya sebagai penebusan rasa bersalahku. Karena ulah kakak aku kamu jadi kayak gini. Aku minta maaf atas nama kakakku, ya."
Pada indra pendengaran Aurel, perkataan itu seolah sebagai tanda kepedulian, meskipun kenyataannya tidak demikian. Karena sebenarnya kedatangan Farel ke sini murni karena rasa bersalahnya.
"Nggak apa-apa, kok, Rel. aku malah seneng bisa ketemu kamu di sini jadinya," balas Aurel dengan tidak menghilangkan senyumnya. Rasanya dijenguk oleh orang yang disuka memang selalu berbeda, seolah begitu ampuh menyembuhkan.
"Eh, ini buat kamu. Semoga suka, ya!" seru Farel seraya memberikan buket bunga dan sebatang cokelat pada Aurel.
Sementara itu, Aurel tidak bisa menutupi rasa senangnya setelah menerima pemberian Farel. "Seriusan buat aku? Makasih Farel!"
Remaja yang belum sepenuhnya membaik itu pun hendak meraih vas bunga yang berada di atas meja sebelah ranjangnya. Namun, lengannya terlilit oleh infus yang menjaring tangannya.
"Mau ngapain?" tanya Farel tidak habis pikir dengan ulah gadis di hadapannya. Walau begitu, ia tetap membantu membenarkan selang infus yang sempat mengganggu pergerakan Aurel.
"Mau ngambil vas bunga ini." Aurel mengambil benda yang dimaksud setelah mengurai selang infus yang tadi sempat menghalang pergerakannya. Kemudian membuka buket yang diberikan Farel dan meletakkannya di vas bunga. Mengganti bunga sebelumnya dengan pemberian Farel agar laki-laki itu senang. Lantas setelahnya meletakkan kembali benda itu ke tempat semula.
Tanpa sadar, Farel menguarkan senyumnya. Ia tidak pernah menduga akan reaksi Aurel yang se-excited itu menerima pemberiannya. Namun, ketika menyadari senyumnya, buru-buru ia menormalkan mimik wajahnya.
"Bagus banget bunga pemberian kamu, jadi semakin cantik ruangan ini. Sekali lagi makasih, ya!" ungkapan itu terus saja keluar dari bibir Aurel. Ia jadi bersyukur dengan keadaan yang menimpanya sehingga membuat Farel menjadi peduli dengannya.
"Sama-sama."
__ADS_1