
(Restoran)
Farel menatap Aurel yang membuka tasnya untuk mengambil tisu, gadis itu mengelap dahinya yang penuh dengan keringat. Farel tidak bisa melakukan apa-apa, karena uangnya sudah habis dan tersisa sedikit uang milik ibunya.
Aurel memegang perutnya yang baru saja bergetar karena lapar. Ia melihat-lihat ke sekitarnya, matanya berbinar kala melihat ada restoran yang berada tidak jauh dari tempat ia saat ini. Aurel meneguk ludahnya melihat poster makanan yang terpampang di jalanan. Sepertinya makanan di sana sangat enak.
"Farel, ayo kita ke sana!" ajak Aurel menunjuk sebuah restoran. Farel mengikuti objek yang ditunjuk oleh gadis itu, seketika ia menolak ajakan Aurel dengan mentah-mentah.
"Tidak perlu ke sana, kita bisa pulang dan makan di rumah saja." Tentu saja Farel menolak niat baik Aurel yang hanya mau makan. Karena uangnya telah habis untuk membayar mobil taksi, ia sudah tidak mempunyai uang lagi kecuali uang ibunya yang tinggal sedikit juga.
"Ayolah, Farel! Aku sudah lapar!" Aurel terus saja merengek kepada Farel untuk pergi ke restoran itu.
Gadis itu bingung, apakah Farel tidak merasakan lapar? Sedangkan dirinya yang baru saja datang dan pulang saja sudah lapar. Aurel tampak tidak bisa menahan perutnya untuk makan di rumah saja.
Dengan rasa lapar yang sudah melambung tinggi, Aurel menarik tangan Farel untuk pergi ke restoran itu. Meskipun sudah berkali-kali lelaki itu menolak, tetapi Aurel tetap menarik masuk ke dalam restoran.
Mata gadis itu menelusuri yang ada di dalam restoran. Setelah menemukan objek yang ia cari, Aurel kembali menarik tangan Farel untuk duduk di kursi yang kosong. Dengan rasa ragu-ragu, Farel duduk di kursi yang berhadapan dengan Aurel.
"Kita akan makan di sini?" tanya Farel dengan ragu. Karena ia tidak pernah makan di tempat seperti ini, biasanya ia hanya makan di rumah atau membeli makanan di pinggir jalan.
Aurel menganggukkan kepalanya, ia merasa aneh dengan pertanyaan Farel yang terdengar ragu-ragu. Memang apa salahnya makan di tempat ini? Aurel sudah mencobanya dan makanannya pun sangat enak.
"Iya, memang kita mau makan di mana? Lagi pula kita juga sudah masuk," jawab Aurel menatap Farel dengan heran.
Benar juga jawaban Aurel, hanya saja Farel belum pernah pergi ke tempat seperti ini sebelumnya. Oleh karena itu, ia masih merasa asing dan ada rasa tidak nyaman.
Aurel terlihat sedang memanggil, lalu datanglah seorang pelayan yang membawa buku menu. Aurel memesan beberapa makanan yang menurutnya sangat enak, tidak lupa ia menawari Farel.
"Kamu ingin pesan yang mana?" tanya Aurel menunjukkan buku menu kepada Farel.
__ADS_1
Farel melihat menu-menu yang tertulis dengan saksama, ia bingung karena ia tidak pernah memakan menu yang tertulis.
"Terserah kamu saja," jawab Farel dengan tersenyum kikuk, karena takut jika ia memesan yang tidak enak.
"Pesan yang sama saja dengan punya saya ya, Kak." Aurel menyerahkan buku menu itu kepada pelayan kembali.
"Silakan ditunggu, makanan kalian akan segera datang."
Aurel menganggukkan kepalanya, kemudian pelayan itu pergi dari meja mereka. Gadis itu menatap Farel yang terlihat canggung.
"Farel, kamu tidak apa-apa?" tanya Aurel dengan memegang tangan Farel yang berada di atas meja. Tangan lelaki itu pun terasa sangat dingin.
“Aku tidak apa-apa,” jawab Farel melepaskan genggaman Aurel pada tangannya di meja.
Farel seperti sedang berpikir. Lelaki itu memikirkan total harga makanan yang mereka pesan tadi, apakah nanti uangnya akan cukup? Ia pikir pasti harga makanan itu tidak mahal, uangnya pasti akan cukup.
Tidak lama, pelayan datang membawa nampan yang berisi makanan dan menaruhnya dengan sangat hati-hati di meja. Farel menatap makanan yang berada di depannya, berapa uang yang mereka habiskan untuk membeli makanan ini?
Aurel mengambil makanan Farel, lalu ia menyodorkan ke hadapan lelaki itu. "Ayo, makan!"
"Apa yang kamu lakukan?" Tidak tahukah gadis itu jika dirinya merasa canggung dengan suasana ini?
"Aku menyuapimu, karena kamu hanya diam sedari tadi," jawab Aurel dengan jujur. Tangannya masih melayang dengan menyodorkan sendok yang berisi makanan.
Farel melahap makanan yang disodorkan oleh Aurel.
Aurel mendekatkan piring makanan milik Farel agar lelaki itu mau memakannya. "Makan atau aku yang akan menyuapimu?"
Farel memakan makanannya karena Aurel terus memaksanya. Ia dapat melihat gadis itu makan dengan lahapnya, sepertinya Aurel memang sangat lapar.
__ADS_1
Tidak terasa, makanan mereka sudah habis. Farel menatap piring mereka yang sudah kosong, tangannya masuk ke dalam kantong celananya untuk mengambil uang.
"Sudah? Kita pulang sekarang?" tanya Farel kepada Aurel yang sedang menghabiskan minumannya. Aurel menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
"Kak, mau bayar." Farel melambaikan tangannya kepada salah satu pelayan. Terlihat pelayan itu berjalan ke arahnya dengan memegang sebuah buku.
“Ini totalnya ya, Kak.” Farel mengikuti arah yang ditunjuk oleh pelayan. Seketika ia terkejut, Farel mengedipkan matanya beberapa kali.
Lelaki itu dibuat syok karena total makanannya jutaan, ia kira uangnya akan cukup karena makanan ini tidak mahal. Tetapi kini hasilnya, total harga makanan yang mereka pesan sangat mahal.
“Ini tidak bisa dikurangi ya, Kak?” tanya Farel mencoba untuk menawar, uang yang ia pegang masih jauh berada di bawah total harga makanan yang mereka makan.
Pelayan itu tersenyum dengan kikuk, karena sebelumnya ia tidak pernah menemui pelanggan seperti Farel. Tidak ada yang pernah menawar di sini.
“Tidak bisa, Kak. Total harganya memang ini,” jawab pelayan.
Farel menghela nafasnya dengan kasar, ia harus bagaimana kali ini? Uang yang ia bawa saja tidak ada setengah dari total harga makanan mereka. Apalagi di sini ramai, ia akan sangat malu jika tidak cukup uangnya.
Melihat percakapan antara Farel dan pelayan restoran membuat Aurel bingung. Apalagi dengan Farel yang menawar harga.
“Apakah uangmu tidak cukup?” tanya Aurel secara tiba-tiba. Suara Aurel terdengar di telinga orang yang sedang makan di restoran karena suasananya sunyi.
“Apakah bisa bayar dengan kartu?” tanya Aurel kembali dengan menatap pelayan restoran itu.
“Bisa, Nona.”
Aurel membuka tasnya, mengeluarkan sebuah kartu dari tasnya. Kemudian ia menyodorkan kepada pelayan itu. “Bayar dengan ini saja, Kak.”
Perlakuan Aurel tentu saja dilihat dengan jelas oleh orang yang ada di sekitarnya. Seketika beberapa orang secara terang-terangan tertawa dan mencibir Farel, karena sebagai lelaki tentu saja seharusnya Farel yang membayar, bukan Aurel.
__ADS_1
Desas-desus mereka tertawa menghina Farel terdengar jelas hingga ke telinga lelaki itu. Mereka memandang Farel dengan remeh.