Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 39 Karena Coklat


__ADS_3

Karena Coklat


Tiga hari setelah Aurel mendapatkan donor darah dari Alex, kini keadaan gadis itu sudah lebih baik dari sebelumnya. Stamina badannya pun sudah kembali.


Alex selalu menjaga Aurel setiap hari, walaupun terkadang ia harus pergi ke kampus. Memang sih itu melelahkan, tetapi lelah Alex akan hilang jika ia sudah bertemu dengan Aurel, sang pujaan hatinya. 


Saat ini, pagi-pagi Alex sudah berada di rumah sakit, lebih tepatnya sudah berada di ruangan Aurel. Bahkan Mario yang sedang menyuapi Aurel pun terkejut dengan kedatangan lelaki ini.


"Loh, Alex? Kok sudah ke sini pagi-pagi begini?" tanya Mario dengan heran. Ia memang menyuruh Alex untuk bergantian menjaga Aurel, karena ia pun harus pergi ke kantor juga. Tetapi, tidak pagi-pagi seperti ini juga.


"Tidak apa-apa, Om. Sebelum berangkat kuliah, Alex ingin menjenguk Aurel dahulu. Bolehkah Alex yang melanjutkan untuk menyuapi Aurel?" tanya Alex memberikan penawaran.


"Boleh."


Mario memberikan piringnya kepada Alex, dan menyuruh Alex untuk duduk di dekat brankar Aurel agar memudahkan lelaki itu untuk menyuapi putrinya.


"Alex, Om tinggal untuk pergi ke kantor bisa?" 


"Bisa, Om. Alex akan menjaga Aurel, Om tenang saja." Alex menjawab sembari menyuapi Aurel, ia tersenyum kepada gadis itu.


Mario mendekat ke arah Aurel, ia mengecup kening putrinya dan mengelus rambut putrinya sejenak. “Papa pergi ke kantor dulu, ya?” pamit Mario yang diangguki oleh Aurel.


Mario menoleh kepada Alex. “Alex, jika nanti kamu ingin berangkat kuliah. Berangkat saja, Om sudah menyuruh Bibi Jane untuk ke sini. Mungkin sebentar lagi Bibi Jane akan datang.”


“Baik, Om.”


Setelah berpamitan, Mario melangkahkan kakinya untuk keluar ruangan dan menuju kantornya. Ada banyak berkas yang menumpuk di meja kerjanya.


"Alex, aku sudah kenyang." Aurel mengelus perutnya yang menandakan bahwa ia sudah benar-benar kenyang. Padahal menurut Alex, Aurel belum kenyang jika dilihat dari perutnya. Bagaimana tidak? Perut Aurel sangatlah ramping.


"Hei, apakah kamu sedang mengejekku? Jangan menatap perutku seperti itu," cecar Aurel dengan marah ketika Alex benar-benar memperhatikan perutnya.


"Tidak,  bukan begitu maksudku. Apakah kamu tidak ingin makan sedikit lagi?" tanya Alex menawarkan.


"Tidak. Jika kamu mau, makan saja sendiri." Aurel terlanjur kesal dengan perilaku Alex tadi. Sangat menyebalkan!

__ADS_1


“Kenapa pula aku? Bukankah yang sakit adalah dirimu,”


“Sudahlah diam, aku sedang tidak ingin berbicara denganmu.”


Mendengar ucapan Aurel dengan nada merajuk, membuat Alex terkekeh geli. Lucu sekali gadis ini, lagi-lagi Alex kembali terjatuh ke dalam pesona Aurel. Alex menyukai apa pun yang gadis itu lakukan. Tidak tahu apa yang gadis itu perbuat, hingga ia bisa tergila-gila dengannya.


Pintu ruangan Aurel terbuka, menampakkan Bibi Jane yang baru saja datang dengan membawa bingkisan.


"Bibi, apa isi bingkisan itu? Dan dari siapa?" tanya Aurel dengan rasa penasarannya.


"Dari Tuan besar, Nona. Ini berisi bubur kesukaan Nona," jawab Bibi Jane yang berhasil membuat Aurel senang. Suasana hati Aurel sangat mudah berubah.


"Benarkah? Aku ingin mencobanya!" seru Aurel dengan penuh semangat. Rasa kesalnya kepada Alex langsung hilang begitu saja. Bubur masih tetap menjadi makanan favorit Aurel karena teksturnya yang sangat lembut.


“Baik, Nona. Bibi akan segera membuatkan,’ ucap Bibi Jane lalu pergi membuatkan bubur untuk Nonanya.


"Bukankah kamu tadi berkata bahwa sudah kenyang?" tanya Alex menatap Aurel dengan alis terangkat. Rasa heran menyelimuti hati Alex. Apakah gadis itu sebenarnya belum kenyang?


Aurel tertawa kecil mendengar pertanyaan Alex. "Aku sudah kenyang jika makan. Tetapi, kalau mengemil aku masih kuat."


Tidak lama, Bibi Jane kembali membawa mangkuk berisi bubur yang Aurel minta. Alex berdiri membiarkan Bibi Jane untuk duduk di kursi itu. Alex mengambil tasnya yang berada di meja samping Aurel.


"Aurel, aku berangkat kuliah dulu, ya? Jangan nakal di sini, Bibi Jane akan menjagamu."


"Aku tidak nakal," balas Aurel tidak setuju dengan ucapan Alex.


Lagi-lagi Alex terkekeh mendengar nada tidak terima dari Aurel. Ia mengacak gemas rambut Aurel. “Baiklah. Aku pergi dulu,” ucap Alex mengecup kening Aurel sekilas.


“Bibi, kabari aku jika ada apa-apa,” lanjut Alex memberi pesan kepada Bibi Jane.


“Baik, Tuan Muda.”


Alex keluar ruangan untuk pergi ke kampusnya. Jika biasanya ia berangkat berdua bersama Aurel dengan menaiki mobil miliknya, maka sekarang ia berangkat sendiri. Alex menoleh ke kursi sebelahnya. Biasanya sekarang ini Aurel duduk di sana dengan memberinya pertanyaan-pertanyaan yang tidak masuk akal. Tetapi sekarang ini suasana dalam mobilnya itu sangatlah sunyi. 


Baru saja berpisah, tetapi Alex sudah merindukan gadis itu lagi. Ia ingin cepat-cepat sampai di kampus, belajar lalu kembali ke rumah sakit lagi agar bisa bertemu dengan gadis itu. Tetapi sekarang ini, ia bahkan belum sampai di kampusnya.

__ADS_1


Alex memberhentikan mobilnya di tempat parkir biasanya. 


Tidak terasa, beberapa jam telah berlalu. Alex menyampirkan tas ke pundak dan keluar dari kelasnya dengan langkah cepat. Ia masuk ke dalam mobilnya, mengendarai dengan kecepatan rata-rata. Tidak sabar rasanya ingin bertemu dengan Aurel lagi. Di tengah-tengah jalan, Alex melihat ada yang berjualan boneka. Ia berhenti untuk membeli satu boneka itu untuk Aurel.


Selepas mendapatkan boneka itu, Alex memasukkan bonekanya ke mobil dengan sedikit kesulitan karena berukuran besar. Pasti Aurel akan senang dengan ini. Pikir Alex.


Sesampainya di rumah sakit, Alex memberhentikan mobilnya. Ia menuju ke ruangan Aurel, dengan membawa boneka yang tadi ia beli.


“Aurel!”


Mata Aurel berbinar melihat Alex membawa boneka dengan ukuran yang sangar besar.


“Itu untukku, bukan?” tanya Aurel dengan melambaikan tangannya, seolah menyuruh Alex memberikan boneka itu kepadanya.


“Tentu saja. Jika bukan untukmu, untuk siapa lagi?”


Dengan senang, Aurel memeluk boneka yang baru saja Alex berikan. Boneka yang ukurannya hampir sama dengan dirinya. 


“Kamu suka?”


“Aku sangat menyukainya. Terima kasih, Alex!” jawab Aurel dengan nada riang, ia memeluk boneka itu dengan sangat erat. Alex cukup puas melihat respons Aurel yang senang, ia duduk di kursi samping brankar Aurel.


“Di mana Bibi Jane?” tanya Alex ketika melihat Aurel sendirian di ruangan.


“Bibi Jane sedang ke kantin,” jawab Aurel yang masih fokus dengan boneka barunya.


Di saat mereka sedang bercanda riang. Seseorang masuk membuat Alex terganggu.


“Permisi, Aurel.”


Di sana terdapat Farel dengan membawa bingkisan yang tidak tahu apa isinya. “Aku ke sini untuk menjengukmu, aku membawakanmu coklat.”


Alex menghampiri Farel, ia menatap lelaki itu dengan tatapan tajam. “Sudah kubilang, jangan memberikan Aurel coklat!”


Sudah kedua kalinya Alex berbicara kepada Farel, tetapi lelaki itu seolah enggan mendengarkannya dan memilih untuk mengulanginya. Tentu saja itu membuat Alex geram.

__ADS_1


__ADS_2