
Aurel termenung seraya menatap ke luar jendela, kepalanya tampak dipenuhi banyak hal. Antara pekerjaan dan kejadian tadi siang, kalau saja Farel tidak membuat masalah dengannya, mungkin pekerjaan gadis itu sudah selesai sejak satu jam yang lalu.
Farel masih rajin mengiriminya pesan berupa permintaan maaf karena sudah lancang dan tetap meminta Aurel untuk tidak meninggalkannya, tapi gadis itu sudah telanjur lelah menghadapi sikap Farel. Jadi, pesan-pesan tidak penting itu tak dibalas oleh Aurel.
"Kenapa melamun saja sejak tadi? Apakah menatap tanaman sangat menarik?"
Suara Alex terdengar, Aurel berbalik dan mendapati pria jangkung itu tengah berdiri di hadapannya dengan tangan memegang sebuah bingkisan dalam kantong plastik transparan. Aurel penasaran, apa lagi yang dibawa oleh Alex hari ini.
Hubungan mereka semakin dekat dari waktu ke waktu, Alex sudah sering ke rumah dengan membawa berbagai makanan kesukaan Aurel, tak jarang dia juga menemani gadis itu saat sedang membutuhkan tempat bercerita, tanpa disadari hubungan mereka mulai terjalin erat seperti dulu.
"Tidak ada, kali ini apa yang kamu bawa?" tanya Aurel penasaran sekaligus mengalihkan topik supaya Alex tidak bertanya lebih jauh tentang masalah yang dihadapinya.
Alex langsung meletakkan makanan yang dibawanya ke atas meja, menyuruh Aurel untuk menikmatinya. Kali ini dia membawa burger ukuran besar dengan berjumlah dua.
"Belakangan ini kamu tidak selera makan, jadi aku membelikan makanan kesukaanmu. Siapa tahu kamu mau memakannya, kalau tidak suka simpan saja."
Aurel tersenyum mendengar ucapan Alex yang sangat tulus. Dia menggeleng karena merasa tidak masalah dengan makanan yang pria itu bawa.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu, selesai lebih awal lagi?"
Alex mengangguk, dia mendudukkan diri di sofa, kedua orang itu mulai saling bercerita tentang banyak hal. Aurel tidak keberatan, lagi pula Alex sudah sering datang ke rumahnya, pria itu juga pernah menginap di rumah Aurel.
"Jangan lupa kalau aku adalah atasan yang kompeten. Aku sanggup melakukan semuanya dengan penuh perhitungan dan disiplin," jawab Alex menyombong diri.
Aurel mencibir. "Iya, aku percaya kamu memang atasan terbaik."
"Tapi kenapa nada bicaramu menegaskan kalau kamu tidak percaya dengan kejujuranku?"
Aurel terkekeh mendengar pertanyaan Alex. "Kamu kan sudah sering bohong, jadi aku iyakan saja supaya kamu senang."
Kini Alex memasang ekspresi masam ketika Aurel secara tidak langsung mengejeknya. Mereka berdua larut dalam perbincangan tidak penting. Meskipun begitu, kehadiran Alex di sampingnya mampu membuat Aurel sedikit melupakan kekesalannya terhadap Farel tempo hari.
Aurel berharap Farel tidak akan datang lagi untuk mengganggunya. Apa lagi menawarkan hal bodoh yang akan melemparnya pada jurang neraka. Aurel tidak sanggup melihat penderitaan anak dan istri Farel nantinya.
Hubungan yang terjalin semakin erat itu tentu saja tercium oleh orang tua Alex, mereka sempat membahas hal ini dengan Carramel, dia juga sangat setuju, semua orang merasa ini adalah salah satu peluang bagus untuk kembali menjodohkan mereka.
Carramel juga tidak keberatan untuk mengurus Mario dan Aurel, sekarang wanita itu sudah berubah menjadi lebih baik. Dia harap perjodohan anaknya kembali berjalan lancar, tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk saling terikat seperti dulu. Kedua orang tua mereka sangat menantikan momen ini.
__ADS_1
Bab 63. (Melamar dan nikah)
Alex sedang berada di perjalanan menuju rumah Aurel. Seperti biasanya, ia mampir ke toko untuk membeli bubur kesukaan Aurel. Tetapi saat ia keluar dari toko, tidak sengaja bertemu dengan Nafa. Gadis itu tampak sedang membeli sesuatu.
“Alex?”
Sudah beberapa tahun mereka tidak bertemu. Nafa dapat melihat wajah Alex yang semakin tampan dan tegas. Dalam hati, Nafa bertekad untuk mengungkapkan perasaannya kepada Alex.
“Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Apakah aku boleh berbicara kepadamu?”
“Di sini saja. Cepat, aku tidak memiliki banyak waktu.”
Mendengar itu, Nafa memilin tangannya gugup. “Sebenarnya, aku menyukaimu. Aku sudah menyukaimu dari awal kita bertemu,” ungkap Nafa.
Alex hanya menatap Nafa dengan datar, sebelum gadis itu mengungkapkan pun ia sudah tahu. Tetapi, dari awal hingga saat ini hatinya sudah diisi oleh Aurel.
“Maaf, tetapi aku sudah mempunyai seseorang.” Setelah mengucapkan itu, Alex masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Nafa seorang diri.
Kini Alex sedang berada di rumah Aurel. Sedari tadi ia tidak pernah melepaskan pandangannya dari wajah cantik gadis itu, ia sangat merindukan Aurel di saat gadis itu menghilang. Tetapi kini kerinduan dan penantiannya yang telah lama terbalaskan, hubungan mereka membaik seperti dulu.
"Kamu tahu Aurel? Saat lima tahun yang lalu, tepatnya saat kamu pergi. Aku seperti orang yang tidak tahu arah, aku selalu menunggumu kembali. Berkali-kali aku bertanya kepada Om Mario tentang keberadaanmu, tetapi aku tidak mendapatkannya. Om Mario tidak ingin memberitahuku," ucap Alex kepada Aurel yang kini sedang memakan bubur sembari menonton televisi di sampingnya.
"Saat itu aku memang ingin sendiri dan menenangkan diri, aku ingin melepaskan semua masalah yang hinggap dikepalaku."
"Maaf, Aurel. Itu pasti karena kesalahanku, aku terlalu berperilaku kasar dan menunjukkan emosi kepadamu. Lain kali aku tidak akan melakukan itu lagi, aku berjanji." Alex mengucapkan itu dengan sungguh-sungguh, ia tidak ingin Aurel menjauh darinya lagi.
"Tidak apa-apa, Alex. Aku pun sudah tidak mempersalahkan kejadian itu lagi," jawab Aurel, tangan mungilnya masih menyuapkan sendok yang berisi bubur kesukaannya ke dalam mulut.
Aurel memakan bubur seperti anak kecil sampai ujung bibirnya terkena noda bubur itu. Tangan Alex terangkat untuk menuju bibir Aurel, ia membersihkan noda itu dengan jari telunjuknya, lalu memakan sisa bubur yang ada dijarinya.
Melihat itu, Sontak Aurel menatap Alex dengan mata melotot. “Alex, itu kan bekasku?!”
“Lalu? Bukankah itu sangat manis, Aurel?” tanya
"Kamu sudah pernah mengunjungi tempat-tempat bagus di Berlin tidak? Mau pergi denganku ke Brandenburg Gate tempat bersejarah di kota Berlin?"
"Tentu saja aku mau, sudah lama aku tidak ke sana."
Alex tersenyum mendengar jawaban Aurel, dia lega karena gadis itu mengiyakan ajakannya untuk pergi. Alex akan berusaha untuk membuat suasana malam ini berkesan bagi Aurel.
Mereka berdua berjalan-jalan di Brandenburg Gate, Gerbang Brandenburg adalah bangunan bersejarah di Berlin yang paling terkenal. Wajarlah kalau wisatawan dari berbagai belahan dunia, termasuk wisatawan Jerman sendiri kerap meluangkan waktu datang dan berfoto di tempat ini.
Alex menatap Aurel yang begitu takjub dengan keindahan kota Berlin saat malam hari, gadis itu tidak berhenti berdecak kagum. Alex merasa lega karena gadis itu menyukainya.
Sampai akhirnya, Alex mulai pada rencananya, alasan pria itu membawa Aurel ke tempat ini bukan hanya untuk mengajaknya berjalan-jalan saja, melainkan untuk sesuatu yang lain.
"Aurel, boleh aku bertanya?"
Aurel menoleh ke arah Alex, dia melihat keseriusan dari wajah pria itu. Dengan cepat Aurel mengangguk.
"Aku mau serius sama kamu, Aurel. Dengan ini aku minta jawaban dari kamu. Bersediakah kamu menikah denganku?"
Jantung Aurel tiba-tiba saja berdegup lumayan kencang ketika Alex mengatakan hal tersebut. Alex mengeluarkan sebuah cincin dari saku jasnya dan menyodorkan benda tersebut ke hadapan Aurel.
__ADS_1
"Bagaimana, apakah kamu menerimaku?"
Alex menatap Aurel lagi, meminta kepastian. Pria itu sabar menunggu jawaban, sedangkan Aurel sibuk mencari alasan. Aurel tiba-tiba saja merasa terharu dengan apa yang dilakukan oleh Alex, semua di luar dugaannya.
"A-aku ...." Aurel tiba-tiba saja tergagap.
"Ya?"
Alex tampak begitu sabar menanti jawaban Aurel. Meskipun jawaban gadis itu tampak meragukan, sepertinya Aurel malu berhadapan dengan Alex, sehingga dia tampak sangat gugup. Bagaimana mungkin Aurel tidak terharu.
"Iya, aku bersedia."
Alex tersenyum bahagia ketika Aurel menerima lamarannya. Tidak sia-sia pria itu mempersiapkan momen ini, serta merta Alex memeluk Aurel, mereka berdua berpelukan haru. Akhirnya saat-saat mendebarkan itu datang juga.
"Mulai sekarang aku akan menjagamu dengan sepenuh hatiku, terima kasih sudah bersedia menerimaku kembali, Aurel."
Alex bersyukur dan berterima kasih di sela-sela pelukan mereka, sejak saat itu Alex berjanji akan membahagiakan Aurel apa pun caranya, dia tidak akan membuat gadis itu terluka seperti yang dulu-dulu. Semoga saja Alex mampu mewujudkannya.
Hari pernikahan resmi digelar. Teman, orang tua, dan sanak saudara semuanya menghadiri pernikahan Aurel dan Alex. Di atas altar, Alex berdiri dengan gagahnya mengenakan jas berwarna putih. Rangkaian bunga tersusun indah memeriahkan acara pernikahan.
Tetamu yang hadir tiba-tiba terfokus pada sang mempelai wanita yang baru saja datang didampingi oleh Mario. Setiap satu langkah yang ia pijak, matanya menatap semua pasang mata yang tertuju padanya. Ada yang memandangnya sambil tersenyum merekah. Ada yang sambil berbisik dengan rekan mereka. Ada yang menggeleng kagum memuji kecantikan mempelai wanita di sana. Aurel menebar senyuman kecil yang tulus pada mereka. menampakkan auranya keseluruhan.
Suasana sakral itu disaksikan juga oleh Farel, pria itu menatap kedua pengantin yang berdiri di atas altar dengan perasaan terluka. Dia merasa kalah karena tidak mampu memenangkan Aurel. Namun, Farel sadar diri, dia tidak pantas untuk bersanding dengan gadis itu.
Hari pertama Alex dan Aurel menjadi suami istri. Mereka masih tampak canggung. Namun, bahagia. Aurel merasa benar-benar dicintai setelah apa yang dia lewati bersama pria itu.
"Mau aku buatkan teh hangat?" tawar Aurel duduk di tepi ranjang.
"Nanti saja. Memangnya kamu tidak capek seharian ini? Bukankah seharusnya kita melakukan hal itu."
Mendengar kata 'itu' membuat kepala Aurel langsung dipenuhi hal-hal buruk. Tidak sepenuhnya buruk, lagi pula mereka sudah berstatus sebagai suami istri. Jadi, apa yang harus dia takutkan? Hanya saja, mendengar kata itu dari Alex membuat Aurel malu sendiri.
Melihat ekspresi Aurel yang memucat, Alex segera meralat ucapannya barusan. "Maksudnya seharusnya kita istirahat, Aurel. Kamu memikirkan apa?"
“Ah tidak ada,” jawab Aurel dengan canggung. Meskipun ia sudah terbiasa dengan lelaki itu, setelah menikah tentu saja rasa gugup dan canggung memasuki relung hatinya. Apalagi saat Alex berada dekat dengannya.
“Aurel, terima kasih telah menerimaku.”
Alex mengecup kening Aurel dengan penuh kasih sayang, ia memeluk Aurel yang kini sudah menjadi istrinya.
__ADS_1