Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 31 Sembuh


__ADS_3

(Sembuh)


Sekarang ini, Alex sedang menuntun Aurel berjalan atas permintaan gadis itu sendiri. Ia sudah merasa sembuh karena kakinya sudah tidak bengkak dan sakit lagi, tetapi sedikit keram jika digunakan untuk berjalan karena lama ia tidak berjalan.


“Jangan memegang tanganku, Alex. Aku ini tidak sakit parah atau pun lumpuh hingga harus dituntun seperti ini,” cibir Aurel.


Ketika ia ingin berjalan, pasti Alex memegang lengannya karena takut jatuh. Padahal, ia bisa berjalan sendiri walaupun dengan pelan dan kaku.


“Jangan pernah berbicara seperti itu, Aurel.”


“Aku takut jika nanti kamu terjatuh,” lanjut Alex masih dengan tangan yang direntangkan seolah siap menangkap Aurel jika gadis itu terjatuh.


Aurel mencebikkan bibirnya kesal. Jika seperti ini, bagaimana ia bisa leluasa berjalan. Alex seperti seorang penjahat yang sedang mengintainya.


“Aku sudah sembuh, Alex!” seru Aurel dengan berlari menjauh dari Alex.


“Aurel jangan berlari!”


Alex ikut mengejar Aurel yang berlari menjauh darinya, ia khawatir jika nanti Aurel akan terjatuh. Mereka berdua berlari saling mengejar seperti anak kecil.


“Aurel, tetap di sana. Jangan berlari,” ucap Alex ketika mereka sudah berhenti dengan Aurel yang berada di seberang meja di depannya.


Saat Alex pergi ke sana, Aurel dengan raut wajah konyolnya berlari menjauh sambil tertawa. Gadis itu sangat suka mengerjai Alex seperti ini.


“Tangkap saja jika bisa,” ucap Aurel dengan sedikit berteriak, ia menjulurkan lidahnya kepada Alex yang sedang menatap datar dirinya.


“Lihat saja, aku akan menangkapmu.”


Aurel berlari dengan kencang kala Alex mengejar dirinya. Sekarang, gadis itu ketakutan. Ia seperti sedang dikejar monster, takut jika ia akan ditangkap. 


“Alex!” pekik Aurel terkejut karena tiba-tiba saja Alex menangkapnya dengan memeluk dari belakang. Ia memberontak berusaha untuk keluar dari dekapan Alex, tetapi lelaki itu mengeratkan pelukaan pada pinggangnya. Lelaki itu meletakkan kepalanya di bahu Aurel.


“Nakal!” gumam Alex yang dapat didengar Aurel. Gadis itu membalasnya dengan tertawa kecil.


Dunia seakan memberi akses untuk Aurel dan Alex berduaan dengan mesra. Aurel berhenti tepat di depan kolam renang dengan Alex yang melingkarkan tangannya untuk memeluk Aurel dari belakang. Ditambah dengan angin yang membuat mereka sejuk, hingga rambut Aurel terbang mengenai wajah Alex.


Lelaki itu memejamkan matanya kala wajahnya diterpa rambut Aurel. Ia menggulung rambut Aurel, hingga mengekspos lehernya. Alex menempelkan bibirnya di leher Aurel. Merasakan hal yang dilakukan Alex, gadis itu memejamkan matanya menahan kegelian.


Perlahan, Alex mengh_isap leher Aurel membuat gadis itu berteriak karena terkejut.

__ADS_1


“Alex!” 


Aurel membalikkan badannya ke belakang, ia menatap Alex dengan tatapan permusuhan. Tangan Aurel berkacak pinggang. Alex memiliki tubuh yang sangat tinggi, ketika Aurel ingin menatap lelaki itu maka ia harus melihat ke atas. 


“Dasar pendek!” 


Selepas mengatakan itu, Alex mengacak rambut gadis itu, lalu pergi. Aurel menyusul Alex dengan sedikit berlari.


Mereka berdua berada di halaman depan, tepatnya di samping mobil Alex. Lelaki itu menatap Aurel karena ingin berpamitan untuk pulang. “Aku pulang dulu, nanti aku akan menyusulmu untuk pergi ke kampus.”


Aurel cemberut, “Memang kamu tidak bisa di sini saja sampai kita berangkat?” tanya Aurel dengan rasa tidak rela.


“Apakah kamu takut jika nanti rindu denganku? Padahal dari semalam kita sudah bersama, kamu tidak bosan denganku?” tanya Alex dengan terkekeh.


Ekspresi lucu Aurel membuat lelaki itu ragu untuk pulang, ia ingin berada di sini dan memeluk Aurel sepanjang hari.


“Aku tidak bosan, Alex!” rengek Aurel menarik-narik ujung baju Alex, agar tetap berada di sini bersama dirinya.


Di dalam hatinya Alex merasa senang karena Aurel seperti selalu ingin berada di dekat ya. Tetapi, jika ia tidak pulang nanti maminya akan marah. Karena sudah dua hari ia tidak pulang ke rumahnya.


“Aku tetap akan pulang. Mungkin dua jam lagi aku akan ke sini untuk menjemputmu, dua jam itu tidak lama. Kamu bisa menungguku, bukan?”


“Dua jam itu sangat lama,” jawab Aurel dengan lemas seakan tidak berdaya.


“Lima menit,”


Mendengar jawaban gadis itu, Alex tertawa lagi. Jika terus begini, ia tidak rela untuk meninggalkan Aurel yang sedang lucu-lucunya.


“Aku ingin pulang sekarang. Berada di sini, aku nanti tidak jadi pulang karena terus ditahan kamu.”


Alex mengecup kening Aurel, ia berpamitan untuk pulang. Dengan rasa tidak rela, Aurel menganggukkan kepalanya. Ia tetap di halaman depan sampai mobil Alex tidak terlihat.


Kemudian, Aurel masuk ke dalam rumah dengan lesu. Sangat sepi sekali rumah ini, karena Alex sudah pulang dan papanya belum pulang dari bekerja. Jangan tanyakan ibunya, Aurel sudah paham dengan Carramel yang sangat sibuk dengan karirnya.


Aurel pergi ke dapur, di sana terdapat Bibi Jane yang sedang mengelap meja.


“Bibi Jane,” panggil Aurel dengan berjalan mendekat.


“Iya, Nona? Apakah Nona Aurel menginginkan sesuatu?”

__ADS_1


Aurel mengangguk dengan semangat, ia ingin membuat kue yang lembut untuk dibawa ke kampus. Ia akan memakannya bersama dengan Alex.


“Bibi, aku menginginkan kue yang teksturnya lembut. Apakah Bibi bisa membuatkannya? Aku akan membantu Bibi,” jawab Aurel dengan nada cerianya.


“Bisa, Nona. Tetapi biarkan saya saja yang membuatnya, Nona Aurel menunggu saja di ruang tamu.”


“Tidak, Bibi. Aku ingin membantu!”


“Tuan akan marah jika ia melihat, Nona.”


Aurel menghembuskan nafasnya. “Baiklah, jika aku tidak boleh membantu. Setidaknya aku boleh berada di sini untuk melihat Bibi membuat kuenya.”


“Silakan Nona duduk di sini sembari menunggu kue.” Bibi Jane menarik salah satu kursi makan. 


Tidak terasa dua jam telah berlalu, sekarang ini Aurel sedang berada di mobil dengan Alex yang sedang menyetir. Sedari tadi, Aurel tidak berhenti berbicara. Bercerita atau pun bertanya kepada Alex.


“Alex, aku membawa kue. Nanti kita makan bersama, ya?” pinta Aurel.


Dengan senang hati Alex menuruti. “Kamu beli kue? Di mana?” tanyanya.


Aurel menggelengkan kepalanya, “Tidak, ini bukan beli. Tetapi aku meminta Bibi Jane untuk membuat kue yang lembut. Aku sebenarnya ingin membantu, tetapi Bibi Jane tidak mengizinkanku,” jawab Aurel dengan cemberut.


Padahal ia ingin membuatkan kue untuk Alex sebagai rasa terima kasihnya, karena Alex sudah menemaninya beberapa hari saat ia sedang sakit.


“Bibi Jane sudah benar. Jika kamu menginginkan sesuatu, kamu bilang saja. Tidak perlu membuatnya sendiri,”


Mereka turun dari mobil kala sudah sampai kampus. Saat ini mereka sedang duduk di kursi untuk memakan kue yang dibawa Aurel.


“Enak, bukan? Sangat lembut dan aku menyukainya,” ucap Aurel setelah menyuapi Alex kue.


“Ya, benar. Ini sangat enak dan lembut.”


“Alex? Aurel?”


Mereka berdua menoleh kala ada yang memanggilnya. Di sana, terdapat Nafa yang sedang membawa keranjang kue.


“Kak Nafa?” gumam Aurel.


“Kebetulan sekali kita bertemu lagi. Oh iya, aku membuat resep kue baru. Maukah kalian mampir ke rumah untuk mencobanya?”

__ADS_1


Di saat Aurel ingin menjawab, Alex lebih dulu menjawab tawaran Nafa. “Tidak, terima kasih. Aku takut nanti Aurel akan terluka lagi.”


Setelah mengucapkan itu, Alex pergi menarik lengan Aurel untuk menuju ke kelas mereka masing-masing. Meninggalkan Nafa yang mengepalkan tangannya akibat ucapan Alex.


__ADS_2