Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 23 Pergi Diam-diam


__ADS_3

Seusai makan bersama, kini mereka kembali ke depan untuk mengobrol. Baru pertama kali Aurel bermain ke rumah orang asing, ternyata tidak buruk juga. Aurel sempat berpikir bahwa orang di luar sana adalah orang jahat, karena hanya Mario dan Alex yang Aurel kenal baik. Selepas itu, semuanya jahat. Termasuk ibunya, Carramel.


Aurel duduk di samping Alex dan Farel, dengan Alex yang sebelah kanannya dan Farel sebelah kirinya. Ia seperti sedang dihimpit oleh dua cowok dengan aura berbeda. Mereka terlihat seperti sedang bertengkar, dilihat dari tatapan matanya yang tajam itu saling menatap satu sama lain.


Aurel tidak menyadari itu, ia sibuk mengobrol dengan Nafa dan juga Vanesa.


Karena kesal melihat Farel yang tatapannya tertuju pada Aurel, Alex menarik pinggang ramping Aurel untuk mendekat kepadanya. Sontak Aurel yang ditarik terkejut, ia menoleh ke Alex yang raut wajahnya terlihat kesal. Melihat itu Aurel berpikir, apa yang membuat Alex kesal seperti ini?


“Ada apa? Kenapa menarik aku secara tiba-tiba?” tanya Aurel kepada Alex. 


Alex hanya diam. Ia menatap Aurel dengan lekat. Tubuh mereka yang sangat dekat, jika saling bertatapan itu membuat wajah mereka juga sangat dekat. Ingin sekali Alex meraup bibir Aurel yang menggoda. Tetapi, sayang sekali mereka sedang berada di rumah orang.


“Tidak ada apa-apa, lanjutkanlah obrolanmu.”


Aurel hanya mengangguk tanpa memerhatikan sekitarnya lagi. Di sebelah kiri Aurel, Farel mendengus kesal. Kenapa perlakuan Alex kepada Aurel seolah-olah mereka telah sangat dekat dan mengenal satu sama lain. Ingin sekali Farel mendekati Aurel, tetapi jika ia harus bersaing dengan Alex yang tampan dan mapan, apakah dirinya mampu?


Daripada ia di sini memendam cemburu yang membara, lebih baik Farel pergi ke toko butik untuk bekerja. Farel mengambil berkas yang ia taruh di atas meja.


“Bu, Farel pamit berangkat kerja, ya?” pamit Farel.


Vanesa menganggukkan kepalanya, “Hati-hati ya, Farel. Coba ingat lagi, ada tidak barang yang tertinggal?” ucap Vanesa mengingatkan.


Barang kali ada yang tertinggal. Kasihan Farel jika harus bolak-balik dari toko ke rumah.


“Tidak ada, Bu. Aku sudah mengeceknya dengan baik,” jawab Farel dengan jengah. 


Sedari tadi ibunya terus saja mengingatkan tentang hal itu. Padahal ia sudah memeriksa semuanya dengan teliti agar tidak ada yang tertinggal.


“Baiklah.”


“Memang Farel kerja di mana?” tanya Aurel yang penasaran.


“Toko butik,” jawab Nafa menjawab pertanyaan Aurel, mewakili Farel. Mata Aurel terlihat berbinar. Tidak salah? Toko butik?

__ADS_1


Di saat Farel sudah berdiri dengan memegang berkasnya, Aurel ikut berdiri. 


“Ikut!” rengek Aurel. 


Aurel penasaran dengan toko butik tempat Farel bekerja, sekaligus ia ingin melihat baju di sana dengan model yang berbeda-beda. Mungkin saja nanti Aurel dapat bekerja sama dengan toko butik itu.


“Tidak!” tolak Alex melarang setelah mendengar rengekan Aurel.


Alex tidak akan mengizinkan Aurel ikut dengan Farel. Ia tahu lelaki itu dan Aurel sudah kenal lumayan lama. Dapat Alex lihat dari mata Farel, bahwa lelaki itu menunjukkan ketertarikan kepada Aurel. Ia tidak ingin Aurel menjalin hubungan dengan yang lain.


Alex berdiri, ia menuntun Aurel untuk duduk kembali. Gadis itu marah, terlihat dari bibirnya yang cemberut.


“Kenapa? Aku ingin melihat toko butik tempat Farel bekerja,” jawab Aurel dengan bertanya.


Alex mendengus kesal. Kenapa Aurel sangat ingin ikut dengan Farel? Jika ingin pergi ke toko butik, ia bisa membawa Aurel ke sana. Tidak perlu ikut Farel yang bekerja. Alex sekarang menjadi sangat tidak suka kepada Farel.


“Tetap saja tidak.”


Selesai mendengar perdebatan itu, Farel keluar dari rumah. Ia berangkat ke toko butik dengan jalan lagi. Sedangkan Aurel masih berada di rumah Farel, mereka sedang mengobrol.


“Jadi tadinya kalian berdua ingin pergi ke pantai, begitu?” tanya Vanesa, keduanya mengangguk.


“Iya, Bu. Kebetulan kuliah kami sedang libur,” jawab Alex. Tangannya terus menggenggam tangan mungil Aurel.


Nafa bangkit dari duduknya, ia menyiapkan keperluan untuk dirinya bekerja. Mulai dari membuat adonan kue dan menggorengnya. Vanesa pamit ke dapur untuk membantu Nafa menyiapkan semuanya.


Alex dan Aurel mengangguk. Sebenarnya mereka tidak enak saat tidak membantu, tetapi bisa apa mereka? Membuat adonan kue atau menggorengnya, atau bahkan menyusunnya saja tidak bisa. Mereka akan mengacaukan semuanya jika ikut membantu. Karena tidak enak, Alex dan Aurel ingin pulang.


“Kalian di sini saja tidak apa-apa, mungkin ini hanya sebentar.”


Aurel memang masih betah di sini, cuma karena tidak enak hati mereka pamit untuk pulang. Tetapi, Vanesa dengan lembutnya menjawab seperti itu membuat mereka tidak jadi pulang.


“Alex, ini sudah siang. Kamu ijin ke papa kita pergi sampai jam berapa?” tanya Aurel, ia takut nanti papanya akan mencari karena ia belum juga pulang.

__ADS_1


“Aku hanya izin kalau aku akan membawamu jalan-jalan,” jawab Alex dengan jujur.


“Bagaimana jika nanti papa akan mencariku?”


“Tidak mungkin. Selama kamu pergi bersamaku, Om Mario pasti akan tenang. Karena aku dapat dipercaya dan diandalkan,” jawab Alex dengan percaya diri.


Aurel mendengus, ia beberapa kali memukul pelan paha Alex lantaran mendengar ucapan Alex yang penuh dengan percaya diri.


Alex mengambil tangan Aurel yang sedang memukul pahanya. Itu tidak berefek apa pun pada dirinya, bahkan hanya terasa seperti senggolan kecil. Alex membawa tangan Aurel ke bibirnya, kemudian ia cium. Seketika pipi Aurel memerah, ia malu!


“Kenapa pipimu memerah?” tanya Alex memperhatikan wajah Aurel. Perlahan, ia mendekat ke wajah Aurel.


“Apakah sangat aneh?”


Alex menggelengkan kepalanya. “Tidak, itu membuatmu sangat lucu.”


Aurel menutup matanya ketika wajah Alex semakin mendekat, ia bisa merasakan hembusan nafas Alex. Melihat Aurel memejamkan matanya, Alex menyampirkan rambut Aurel yang terbang hingga menutupi wajah cantiknya.


Alex menempelkan bibir mereka sekilas. “Lain kali saja, kita sedang bertamu di rumah orang,” celetuk Alex menjauhkan wajahnya dari Aurel.


Aurel kesal bukan main dengan perlakuan Alex yang selalu membuatnya salah tingkah dan berakhir kesal.


“Alex?” panggil Nafa yang baru saja datang dari dapur.


“Ya?”


“Apakah kamu bisa menolongku untuk membawa kardus yang berat ini ke dapur?” 


Alex menganggukkan kepalanya, ia tidak mungkin menolak kepada orang yang meminta bantuannya. Sebelum pergi, ia menatap Aurel yang berada di sampingnya.


“Aku tinggal sebentar.”


Aurel melihat Alex yang sudah berjalan ke arah dapur, ia diam-diam beranjak dari duduknya. Perlahan, Aurel keluar dari rumah agar tidak menimbulkan suara. Jika Alex tidak memberinya izin, maka Aurel akan pergi dengan sendirinya. Sudah Aurel bilang, penasaran dengan tempat Farel bekerja!

__ADS_1


__ADS_2