Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 36 Rumah Sakit


__ADS_3

(Rumah Sakit)


Alex menyetir mobilnya menuju rumah sakit yang disarankan oleh Mario. Rumah sakit itu jaraknya lumayan dengan mereka saat ini, karena Mario mempunyai pilihan dokter yang profesional di sana. Mario tidak ingin putrinya diperiksa dengan dokter yang bukan ahlinya, takut jika nanti akan ada kesalahan. Ia ingin Aurel kembali baik seperti semula.


Setelah sampai di sana, Aurel langsung diperiksa. Mario dan Alex menunggu di luar ruangan, tangan Mario mengepal. Siapa yang berani-beraninya membuat putrinya seperti ini?


“Alex, aku memberimu tanggung jawab untuk menjaga dan melindungi Aurel. Lalu, ke mana janjimu sekarang ini?” 


Alex menunduk dalam diamnya, ia pun merasa bersalah karena gagal menjaga dan melindungi Aurel seperti janjinya kepada Mario. Seharusnya ia tidak langsung pulang pada sore itu dan bertanya dulu kepada Aurel apa yang dia inginkan sebelum ia benar-benar pulang.


“Maafkan Alex, Om. Aurel tidak mengatakan apa pun di saat Alex akan pulang ke rumah, hanya saja menampakkan raut wajah sendu serta nada yang sedih. Sebenarnya Alex tidak ingin meninggalkan Aurel sendiri, tetapi mami membutuhkan bantuan Alex.”


Alex berusaha untuk menjelaskan kepada Mario agar tidak terjadi kesalahpahaman. Karena ia tahu, jika melakukan kesalahan sedikit saja yang berhasil membuat Aurel dalam bahaya. Mario akan mengancamnya untuk menjauhkan Aurel dari dirinya.


Mendengar itu, Mario memaklumi. Tetapi setelah ini ia akan menjaga Aurel dengan lebih ketat lagi, takut jika nanti Aurel akan terluka lagi.


Tidak lama, Dokter keluar dari ruangan Aurel. Mario dan Alex mendengarkan penjelasan Dokter dengan saksama. Setelah selesai menjelaskan, Dokter memberikan selembar kertas yang berisi obat dan vitamin yang harus mereka tembus di kasir.


"Alex, ini sudah tengah malam. Kamu pulang saja, biar Om yang akan menjaga Aurel di sini." 


Mario pun tidak ingin membuat orang tua Alex khawatir dengan anaknya. Lelaki itu sudah cukup membantunya untuk menemukan Aurel, Mario tidak akan bisa menjauhkan putrinya dengan lelaki itu. Karena di saat terjadi apa-apa dengan Aurel, Alex akan dengan cepat membantu dirinya.


"Lalu Aurel bagaimana, Om?" tanya Alex. Sebenarnya tidak masalah jika ia menginap di sini, rumah sakitnya pun tidak jauh dari kampusnya.


Untuk masalah baju, Alex bisa menyuruh anak buah papinya atau sopir di rumah untuk mengantarkan baju ke sini. Jadi, tidak ada masalah untuk itu.


"Aurel biar saya yang jaga. Kamu ada kelas waktu pagi, siang atau sore?" tanya Mario. Mungkin saja Alex nanti akan membantunya untuk menjaga Aurel agar ia bisa pergi ke kantor sebentar.

__ADS_1


"Dari siang sampai sore, Om." Mario menganggukkan kepalanya dengan paham.


"Om bisa minta tolong? Besok pagi kamu ke sini untuk menjaga Aurel selagi Om di kantor, tidak akan lama kok," ucap Mario.


Tentu saja diangguki oleh Alex dengan mantap. Mana mungkin ia akan menolak? Malam ini jika ia diperbolehkan untuk di sini menjaga Aurel pun akan ia lakukan.


Setelah Alex berpamitan untuk pulang. Sedangkan Mario, ia masuk ke dalam ruangan Aurel. Di sana, Mario bisa melihat Aurel yang sedang diinfus terbaring di brankar dengan memejamkan matanya. Rasa tidak tega mulai hinggap di dalam hatinya. Kenapa harus putrinya? Ini bukan sekali atau kedua kalinya Aurel terluka, tetapi sudah berkali-kali.


Mario duduk di kursi yang berada di samping brankar. Tangannya mengelus rambut putrinya yang sedang tertidur pulas.


“Maafkan Papa yang tidak bisa menjagamu dengan baik, Aurel.” Mario mengucapkan itu dengan nada sendu.


Mario menggenggam salah satu tangan Aurel, hingga tanpa sadar ia tertidur dengan tangan yang masih menggenggam tangan Aurel.


Hari telah berganti. Sedari pagi Aurel sudah sadar, dengan rasa senang Mario memeluk putrinya dengan erat. 


Mendengar ucapan Mario, Aurel menjadi merasa bersalah. Ia tidak bermaksud untuk membuat papanya khawatir, ia hanya menjalankan ucapan Carramel agar seperti remaja lain.


"Maafkan Aurel, Pa."


Mario menghembuskan nafasnya. Ingin ia memarahi atau menasihati Aurel, tetapi tidak bisa. Ia takut jika nanti Aurel jika terjadi apa-apa tidak mau berbicara dengannya lantaran takut.


"Tidak apa-apa, jangan melakukan hal itu lagi, oke?" Aurel menganggukkan kepalanya.


Mereka mengalihkan pandangan ke pintu ruangan yang diketuk. Lalu, pintu itu terbuka menampakkan dua lelaki dan satu wanita. Melihat itu Aurel tersenyum senang.


"Mami Kim!" seru Aurel dengan senang. Ia dan Kimberly sudah saling mengenal dan akrab sejak lama. Hingga, Kimberly menyuruhnya memanggil Mami saja. Lagi pula Alex dan Aurel sudah mereka jodohkan berarti Aurel akan menjadi menantunya nanti. Pikir Kimberly.

__ADS_1


"Aurel sayang!" Kimberly langsung menuju ke arah brankar Aurel dan memeluk gadis itu dengan erat.


"James, apakah dirimu tidak pergi ke kantor?" tanya Mario setelah bersalaman dengan temannya. Karena biasanya James akan pergi ke kantor hingga pulang tengah malam karena sibuk, apalagi kantor James itu besar.


"Setelah dari sini aku akan pergi ke kantor. Aku ingin melihat calon menantuku," jawab James dengan mengecilkan suara pada ucapan terakhirnya.


Mereka berdua menatap Aurel dan Kimberly yang sedang berpelukan lalu berbincang dan tertawa bersama. Sedangkan Alex, ia berada di samping Kimberly dengan diam. Mario menatap Aurel dengan lekat, seharusnya Carramel yang berada diposisi Kimberly. Tetapi wanita itu tidak peduli sama sekali dengan putrinya. Jangankan dengan Aurel, bersikap layaknya sebagai istri saja tidak bisa.


Mario dapat melihat kebahagiaan diraut wajah Aurel. Kimberly benar-benar memperlakukan Aurel sebagai putrinya sendiri. Ia sangat berterima kasih kepada Kimberly dan James.


“Kalian sudah makan?” tanya Mario mengalihkan perhatian mereka.


James ingin menjawab, tetapi Kimberly menyelanya. “Belum. Kau tahu? Selepas bangun tidur kami langsung bersiap untuk ke sini, tanpa sarapan.”


James sangat malu dengan jawaban istrinya. Kimberly mempunyai sifat yang ceroboh serta berkata apa adanya. Mereka bisa sarapan selepas pulang dari menjenguk Aurel, tetapi Kimberly tidak bisa mengontrol mulutnya.


Mendengar itu, Mario terkekeh. “Baiklah, aku akan membelikan makanan dahulu.”


Saat Mario ingin berjalan keluar, James mencegahnya. “Tidak perlu, Mario. Kami bisa sarapan setelah pulang dari sini.”


“Bukan masalah besar, aku pamit ke kantin dahulu.” Mario pergi keluar dari ruangan.


Di sela-sela perjalanannya. Ia bertemu dengan Carramel, serta Farel dan Nafa. Apakah mungkin mereka ingin menjenguk Aurel?


“Bagaimana Aurel?” tanya Carramel.


“Kenapa kamu menanyakan Aurel? Putriku masuk ke rumah sakit itu gara-gara dirimu.” Mario pergi setelah mengatakan itu.

__ADS_1


“Apakah separah itu?” gumam Carramel. Menurutnya, Mario terlalu berlebihan. Aurel hanya keluar sebentar, tetapi harus dibawa ke rumah sakit. Farel dan Nafa yang mendengar itu pun berpikir sama seperti Carramel.


__ADS_2