
(Kembali Kambuh)
Alex mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, agar cepat sampai di rumah Aurel.
Jika ditanya, kenapa tidak dibawa ke rumah sakit? Karena Mario tidak memperbolehkan Aurel diperiksa oleh sembarang dokter. Mario sudah membayar satu dokter wanita yang pastinya memiliki banyak keahlian dan ilmu untuk menjadi dokter pribadi Aurel. Begitu sayangnya Mario kepada putrinya. Bahkan apa pun yang Aurel minta, pasti akan dikabulkan.
Setelah sampai di rumah Aurel, Alex turun dari mobil. Ia menggendong Aurel dan membawanya ke dalam rumah.
“Nona Aurel kenapa, Tuan Muda?” tanya Bibi Jane yang sedang menyapu, ketika melihat Alex yang memasuki rumah dengan menggendong Aurel, raut wajahnya terlihat panik.
“Pingsan. Bibi Jane, ayo bantu aku untuk menyiapkan kamar Aurel.”
Alex menaiki tangga untuk ke kamar Aurel, dengan Bibi Jane yang sudah berlari ke atas. Pintu kamar Aurel sudah terbuka, di dalamnya menampakkan Bibi Jane yang sedang menyiapkan kasur Aurel.
Alex meletakkan Aurel di kasurnya, ia duduk dipinggir ranjang yang dekat dengan Aurel.
“Bibi, Alex minta tolong jangan beritahu Om Mario. Nanti Alex sendiri yang akan memberitahu, jika Aurel sudah sadar. Bisa kan, Bibi?” tanya Alex dengan tangan yang mengelus-elus rambut Aurel.
Raut wajah Bibi Jane terlihat ragu. Sepertinya wanita ini bingung dengan permintaan tolongnya.
“Om Mario tidak akan marah kepada Bibi, nanti Alex akan menjelaskan semuanya.”
Mendengar itu, Bibi Jane mengangguk setuju. Ia sempat ragu karena takut Mario marah, lantaran tidak mengabarinya saat penyakit Aurel kambuh.
“Sekarang Bibi boleh ke dapur, Alex yang akan menjaga Aurel.”
Bini Jane mengangguk lagi, ia pergi dari kamar Aurel menuju dapur untuk melanjutkan pekerjaannya. Walaupun di dalam hatinya ia tidak tenang jika Aurel belum sadar. Tetapi, ia percaya jika Alex akan menjaga Aurel dengan baik.
Sekarang di kamar Aurel hanya ada dua orang. Alex mengambil handphonenya yang berada di dapur, tangannya dengan lihai mencari nama seseorang yang sangat ia butuhkan. Setelah menemukannya, Alex langsung saja menelepon nomor itu.
“Halo, Dokter Ling. Bisakah anda datang ke sini?” tanya Alex ke seberang telepon.
__ADS_1
“Tentu saja, apakah kambuh lagi?”
“Iya, saya butuh bantuan Dokter,” jawab Alex saat mendengar pertanyaan itu. Ia menatap sendu Aurel yang belum juga membuka matanya.
“Saya akan berangkat, mungkin tidak lama lagi akan sampai.”
Setelah itu, sambungan teleponnya terputus. Alex kembali menatap Aurel dengan tangannya yang kembali mengelus rambut bergelombang Aurel. Ia tidak bosan-bosan menatap wajah cantik yang berhasil membuat dirinya jatuh cinta.
Alex tidak ingin melihat raut kesakitan di wajah gadis itu, ia hanya ingin melihat raut kebahagiaan serta binar kesenangan. Tangannya beralih untuk menggenggam lengan gadis itu dengan perasaan campur aduk. Setelah ini, Alex harus membuat Aurel tersenyum lagi seperti biasanya.
“Permisi, apakah saya bisa memeriksa Nona Aurel sekarang?” tanya wanita yang baru saja masuk dengan menggunakan jas putih khas seorang dokter, serta membawa peralatan di atasnya.
Alex sontak berdiri karena kedatangan Ling, dokter pribadi Aurel. Mario sudah membayar Ling dengan mahal untuk memeriksa Aurel dan menjadikannya dokter pribadi Aurel.
“Silakan langsung periksa saja, Dok.”
Alex menyingkir dari ranjang agar memudahkan Ling untuk memeriksa Aurel.
Alex meraup kasar wajahnya. Padahal Ling sudah berkali-berkali menjelaskan tentang penyakit Aurel dan memberikan pesan kepada dirinya agar menjaga Aurel dari larangan-larangan itu, tetapi dirinya masih juga tidak bisa.
“Saya akan memberikan obat untuk Nona Aurel, saya sudah tulis ketentuannya di sini ya, Tuan Muda.”
Ling memberikan Alex obat dan juga kertas berwarna putih. Setelah memeriksa Aurel, Ling pamit untuk pergi. Tidak lupa ia menjelaskan bagaimana dengan kondisi penyakit Aurel.
Sesudah Ling pergi, Alex menatap obat-obatan yang berada di tangannya. Ia menaruh obatnya di meja dan kembali duduk di samping Aurel.
“Aurel,” gumam Alex.
Tangannya terangkat untuk mengelus pipi Aurel yang sangat lembut. Tak terasa, sudah beberapa jam ia menjaga Aurel yang belum juga sadar. Lama kelamaan, Alex pun mengantuk. Ia menuju ke sofa yang berada di dekat pintu dan tidur di sana.
Jam, menit dan detik berubah. Mata Aurel bergerak seolah akan segera terbuka, secara perlahan mata itu terbuka. Aurel dapat melihat bahwa dirinya sudah berada di kamarnya. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari orang. Kepala Aurel berhenti bergerak kala ia menangkap siluet seorang lelaki sedang tertidur di sofa.
__ADS_1
“Alex?” gumam Aurel tetapi dengan suara yang lumayan besar.
Kenapa Alex berada di rumahnya? Maksud Aurel, apakah lelaki itu tidak pulang saja ke rumahnya? Padahal Aurel sudah pergi dari Alex, tetapi lelaki itu masih saja peduli dengannya.
Alex mengerutkan keningnya ketika samar-samar mendengar suara. Alex tidak tidur sepenuhnya, ia berusaha untuk tetap terjaga. Alex mulai membuka matanya, perlahan ia mengucek matanya agar dapat melihat dengan bening.
Alex melihat ke arah ranjang, yang ternyata Aurel sedang menatapnya. Seketika ia langsung bangun dan menuju ke ranjang.
“Akhirnya kamu bangun juga, aku dari tadi khawatir padamu.”
Mendengar itu, Aurel tersenyum manis. Inilah yang ia suka dari Alex, lelaki ini begitu peduli dan sangat perhatian padanya.
“Aku ingin duduk, Alex.”
Alex membantu Aurel untuk duduk dengan pelan-pelan, karena kaki gadis itu sedang bengkak. Setelah itu, Alex membantu Aurel untuk minum.
“Apakah kamu butuh sesuatu?” tanya Alex yang dibalas gelengan kepala oleh Aurel.
“Baiklah, aku akan mengambil es batu untuk mengompres kakimu sebentar. Kamu ini di sini saja, jangan ke mana-mana.” Aurel menganggukkan kepalanya lagi.
Alex pergi ke dapur. Ia mengambil es batu yang sudah ia siapkan dari tadi. Karena ia tahu, nanti ini akan sangat dibutuhkan untuk membantu Aurel. Alex kembali ke kamar Aurel dengan wadah yang berisi es batu, serta kain. Ia membuka selimut yang menutupi kaki Aurel.
Dengan telaten, Alex mengompres kaki Aurel yang bengkak secara perlahan agar tidak membuat Aurel sakit. Aurel hanya mampu memandangi Alex, hatinya menghangat karena perilaku lelaki itu.
“Sudah mendingan, bukan?” tanya Alex.
“Sudah. Terima kasih ya, Alex.” Aurel menatap Alex dengan senyuman manisnya, senyuman kesukaan lelaki itu. Alex ingin senyuman manis itu terus terpatri di wajah Aurel.
Alex menaruh kain serta wadah di atas meja, lalu duduk di samping Aurel.
“Apa pun untukmu,” balas Alex mencium kening Aurel dengan sedikit lama. Aurel menutup matanya.
__ADS_1
Aurel sungguh beruntung telah memiliki teman seperti Alex. Yang selalu ada di sampingnya kala ia sedang sakit.