
(Pulang)
Setelah pelanggan satu persatu telah pergi, Aurel memberanikan diri untuk menampakkan dirinya keluar dari tempat ia bersembunyi dibalik rak baju yang berjejer rapi. Di sana, Farel sedang membereskan mejanya.
"Halo, Farel!" sapa Aurel membuat Farel mendongak. Sontak lelaki itu terkejut mendapati Aurel berada di sini. Tidak tahu sejak kapan gadis itu berada di toko butik ini, karena ia sibuk sebab sangat banyak pelanggan.
Saat beberapa jam lalu gadis itu menanyakan alamat toko butik tempat ia bekerja, Farel mengira bahwa Aurel sedang bercanda dan tidak mungkin gadis itu dengan berani ke sini. Dan sekarang? Ternyata Aurel benar-benar menyusul ke toko butik tempat dirinya bekerja. Farel menatap gadis itu dengan lekat, apakah pengakuan Aurel saat sedang di rumah sakit itu memang benar?
"Aurel? Kamu benar-benar menyusulku?" tanya Farel menunjuk dirinya sendiri dengan tatapan tidak percaya.
Mendengar itu Aurel mengangguk masih dengan wajahnya yang ceria, ia tidak bercanda tentang hal itu. Gadis itu tidak pernah bercanda jika ia telah mengucapkan sesuatu.
“Apakah kamu pikir aku sedang bercanda?” tanya Aurel memandang Farel.
Mata Farel menatap gadis itu dengan lekat. Aurel tampak cantik dengan pakaiannya yang mewah, dengan tas mahal yang gadis itu gunakan, serta wajah natural tanpa polesan. Membuat gadis itu memiliki aura yang mahal. Farel menjadi berpikir, jika ia bersama Aurel itu tidak akan cocok. Apalagi jika dilihat dari harta, pasti keluarga Aurel pun akan memilih lelaki yang setara untuk bersama dengan Aurel.
Keluarganya juga pasti menginginkan hidup gadis itu terjamin bahagia serta tidak kekurangan. Sedangkan ia sendiri? Hidupnya saja masih serba kekurangan. Farel merutuki nasib dirinya yang seperti ini. Terkadang, Farel pun ingin seperti orang lain yang kebutuhan hidupnya terpenuhi dengan mudah. Tetapi ia harus bagaimana? Sebesar apa pun keinginannya, jika harusnya begini ya sudah. Tidak bisa dipaksa.
Aurel mengibaskan tangannya di depan wajah Farel, kala lelaki itu seperti terbengong dengan menatapnya. “Halo?”
Farel mengedipkan matanya beberapa kali saat sudah tersadar dari lamunannya. “Ada apa?” tanya Farel kepada Aurel.
“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, bukan? Ada apa denganmu? Kamu melamun dengan menatapku, apakah ada yang kamu pikirkan?” tanya Aurel dengan bertubi-tubi.
__ADS_1
Farel menggelengkan kepalanya. "Tidak ada," jawab Farel dengan bohong. Tidak mungkin ia jujur kepada Aurel tentang apa yang ia pikirkan, bukan?
"Apakah pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Aurel dengan duduk di kursi yang ada di sebelah Farel. Ia menopang pipinya dengan kedua tangannya sembari menatap Farel yang berada di sampingnya.
Lelaki itu membuka ponselnya untuk mengetahui jam. "Sebentar lagi aku akan pulang," jawab Farel melirik gadis yang berada di sampingnya itu. "Apa kamu ingin pulang sekarang?"
Aurel menggelengkan kepalanya, ia ingin menunggu Farel agar bisa pulang bersama. "Aku ingin pulang bersama denganmu."
"Baiklah."
Farel kembali bekerja dengan kertas-kertas di depannya. Sedangkan Aurel, gadis itu memainkan ponselnya. Tidak tahu apa yang gadis itu mainkan. Sesekali Aurel mengambil beberapa foto saat sedang berada di toko butik itu.
Beberapa menit telah berlalu. Aurel masih duduk di samping Farel dengan memainkan ponselnya, ia tidak mau mengajak lelaki itu berbicara karena takut mengganggu pekerjaannya.
"Ayo!" ajak Aurel.
Mereka berdua pergi keluar dari toko butik itu. Beberapa angkutan umum telah lewat, Farel tidak menghentikannya. Ia sedang sibuk dengan ponselnya untuk memesankan Aurel taksi di aplikasi, ia tahu bahwa gadis itu tidak biasa menaiki angkutan umum. Farel tidak ingin jika kesehatan Aurel akan terganggu.
"Farel kita menunggu apa? Bukankah sedari tadi banyak angkutan umum yang lewat?" tanya Aurel dengan heran. Ia pernah melihat Farel menaiki angkutan itu, lalu mengapa lelaki itu tidak menghentikan salah satu angkutan umum yang lewat?
Kini mereka sedang berada di bawah terik matahari yang sangat panas, Aurel ingin cepat berteduh di dalam mobil. Ia tidak tahan dengan serangan matahari yang begitu panas.
"Tidak, jangan menaiki angkutan umum. Aku sudah memesan di aplikasi, mungkin sebentar lagi akan datang." Aurel mengangguk paham. Padahal tadinya ia ingin merasakan rasanya menaiki angkutan umum.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di hadapan mereka. Farel membukakan pintu mobil untuk Aurel masuk, lalu Farel menyusul. Mobil itu mulai berjalan dengan kecepatan rata-rata.
Aurel menatap pemandangan yang ada di luar mobil dengan perasaan senang, akhirnya ia bisa pulang bersama dengan Farel. Aurel mengalihkan pandangannya menatap lelaki yang berada di sebelahnya.
Aurel masih ingat saat ia mengungkapkan perasaannya saat di taman rumah sakit, kala itu Farel hanya diam tanpa menjawab. Dan itu mampu membuat Aurel berpikir bahwa setelah ini Farel akan menjauhinya, ternyata hari ini ia masih bisa pulang bersama dengan lelaki itu.
Sedangkan Farel, lelaki itu mengerutkan keningnya karena bingung. Kenapa sampainya lama sekali? Tujuannya tidak sejauh itu, dan mobil ini seperti sedang berputar-putar saja. Sedangkan tarif masih berjalan ke angka selanjutnya.
Setelah cukup lama berpikir, Farel akhirnya mengerti. Sopir mobil ini sengaja berputar-putar dan melewati jalan yang jauh agar tarifnya semakin mahal.
Dengan perasaan kesal, Farel meminta agar mereka turun di tengah jalan. Itu lebih baik daripada ia harus membayar dengan tarif yang lebih besar akibat kecurangan sang sopir.
"Pak turun di sini saja, Pak!" Farel menghentikan mobil itu. Saat sudah berhenti, mereka berdua turun dari mobil. Lelaki itu langsung membayar mobilnya, seketika uangnya langsung habis. Bagaimana tadi jika ia tidak menghentikan mobilnya? Pasti ia akan bayar lebih mahal daripada ini.
“Farel, kenapa kita turun di tengah jalan?” tanya Aurel dengan bahu yang sudah lemas.
“Sopir tadi sengaja melewati jalan yang jauh agar tarifnya semakin mahal, dan sekarang saja uangku sudah habis. Lebih baik kita berjalan, ayo!” ajak Farel berjalan di tepi jalan.
Aurel mengikuti Farel, ia memang masih kuat jika hanya berjalan beberapa menit saja. Tetapi, jika sudah lama tentu saja ia akan lelah.
“Farel, ini sangat panas sekali. Apa tidak mau berteduh dahulu?” tanya Aurel menarik pergelangan tangan Farel untuk berhenti. Nafasnya sudah tidak teratur, wajahnya penuh dengan keringat.
“Tidak, kamu mau kita segera sampai, bukan?” Farel kembali melanjutkan langkah kakinya. Membuat mau tidak mau Aurel harus mengikuti Farel.
__ADS_1
Semakin siang cuacanya semakin panas, Aurel terus mengeluh kepada Farel karena ia kepanasan. Karena tidak tahan, gadis itu membujuk Farel agar mau berteduh sebentar. Mereka berteduh di bawah pohon, Farel tidak ingin sampai Aurel nantinya akan pingsan.