
Semenjak Aurel sakit, Mario dan Alex menjadi lebih posesif. Mereka bahkan tidak mengizinkan Aurel untuk pergi sendirian tanpa pengawasan Mario atau pun Alex.
Seperti sekarang ini, Aurel sedang menonton televisi di kamarnya dengan Snack di meja samping ranjangnya. Bahkan di sekeliling tubuhnya terdapat bantal.
Aurel menghela nafasnya lelah, ia menoleh kearah pintu. di sana Mario sedang duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya. Malam itu, ketika Mario mendengar Aurel sakit, ia langsung memindahkan sofa ke kamar Aurel untuk tidur di sana. Padahal bisa saja ia tidur di ranjang Aurel, tetapi Mario tidak ingin Aurel terganggu.
"Bosan banget," gumam Aurel. Ia membuka ponselnya sebentar, tetapi ia tutup kembali.
Aurel menyingkirkan bantal-bantal yang ada di sampingnya. Ia bangkit dari ranjang, berjalan menuju pintu.
Mendengar suara langkah kaki, Mario mengalihkan pandangannya dari laptop. Saat melihat putrinya berjalan, dengan segera Mario menaruh laptopnya di meja dan menghampiri Aurel.
"Eh?"
Sontak Aurel terkejut karena ada yang memegang bahunya.
"Kenapa mau ke mana?" tanya Mario yang sudah berada di samping Aurel, tangannya siap siaga untuk menjaga Aurel setiap saat.
"Aurel bosan, Papa. Aurel ingin keluar, Papa sibuk dengan laptop Papa." jawab Aurel dengan nada kesal di akhir kalimat.
Aurel merasa dirinya seperti burung yang dikurung di sangkar emas. Bagaimana tidak? Aurel harus dikamar, tidak boleh pergi keluar dari kamar. Mario hanya menyuruhnya untuk istirahat dan istirahat. Padahal Aurel sudah banyak istirahat dan sekarang sudah sembuh.
Tangan kekar Mario mengelus lembut rambut bergelombang putrinya.
"Kamu bisa memanggil Papa jika menginginkan sesuatu," balas Mario menatap putrinya dengan sayang.
Aurel adalah satu-satunya harta berharga yang Mario punya. Oleh karena itu, Mario sangat menjaga Aurel hingga tanpa sadar sikap posesifnya sering kali membuat Aurel kesal.
"Aku hanya bosan, Papa. Aku hanya ingin melakukan sesuatu agar tidak bosan," ucap Aurel dengan merengek.
Mario menghela nafasnya. Putrinya ini sangat keras kepala. Mario menuntun Aurel untuk kembali merebahkan badannya di ranjang. Kemudian ia mengambil laptop untuk Aurel.
"Untuk apa laptop? Aku tidak memerlukannya."
"Kamu bisa menonton film agar tidak bosan," balas Mario. Ia mengecup kening Aurel dan kembali ke sofa untuk mengerjakan pekerjaannya.
__ADS_1
Aurel mencebikkan bibirnya kesal. Tetapi tak urung tangannya membuka laptop itu untuk menonton sesuatu.
Saat Aurel rasa ada film yang menarik untuk dirinya. Ia langsung berlangganan dan menonton film itu. Di sepanjang menonton film, bukan hanya mata Aurel yang bekerja dengan melihat film. Ditangan Aurel terdapat Snack yang sudah disediakan oleh Mario.
Mendengar tidak ada lagi rengekan, Mario menatap Aurel yang ternyata sedang menonton film. Mario lega, akhirnya Aurel bisa membuat dirinya santai di dalam kamar tanpa merengek untuk keluar. Ia melanjutkan pekerjaannya yang masih menumpuk itu.
Sebenarnya Aurel sangat bosan, tetapi daripada merengek dan belum tentu dituruti oleh Mario, lebih baik ia menonton film Korea kesukaannya. Meskipun ia sudah menontonnya berkali-kali.
Mario menghampiri Aurel kembali dengan membawa berkas-berkas dan laptop. Ia mengelus rambut Aurel.
"Aurel," panggil Mario.
Aurel menghentikan acara menonton filmnya, ia mematikan filmnya sejenak dan menengok ke arah papanya.
"Iya, Pa? Papa mau ke mana?" tanya Aurel ketika melihat berkas yang berisi pekerjaan Mario sudah rapi dan dijadikan satu dalam map, dengan tas laptop yang dibawa Mario.
"Barusan sekretaris Papa memberi kabar bahwa harus ke kantor, ada pekerjaan penting." ucap Mario menjelaskan.
"Kamu tidak apa-apa sendiri di rumah, kan?" tanya Mario.
Sebenarnya ia tidak tega dan tidak mau meninggalkan Aurel sendirian dirumah. Tetapi, pekerjaan ini sangat penting yang harus membuatnya untuk pergi ke kantor.
"Apa Papa panggilkan Alex, ya? Biar kamu ada teman."
Mendengar ucapan Mario, sontak Aurel panik. Aurel menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu, Pa. Alex pasti sedang kuliah, tidak mungkin kita menyuruhnya pulang hanya untuk menemaniku, bukan?"
Mario terlihat seperti berpikir. Kasihan juga kalau Alex ia suruh pulang saat sedang kuliah.
"Iya juga, tetapi Alex pasti mau."
"Jika Alex pulang, bagaimana dengan materi dia? Pasti dia akan tertinggal materi," balas Aurel berusaha agar Mario tidak menyuruh Alex untuk menemaninya.
Benar juga apa yang diucapkan putrinya, ia tidak mungkin menyuruh Alex pulang semaunya.
__ADS_1
"Ya sudah, Papa tinggal sebentar, ya?" pamit Mario mengecup kening Aurel.
Aurel membalasnya dengan anggukan dan juga senyuman membuat Mario yakin untuk pergi.
Setelah Mario keluar dari kamarnya, Aurel tersenyum senang. Ia mulai memikirkan keinginannya. Mulai dari ingin memasak pasta, memakan coklat dan semua kegiatan yang ingin Aurel lakukan dan tentunya akan ditolak mentah-mentah oleh Mario
Aurel keluar dari kamarnya, ia berjalan menuju ke arah dapur. di sana ada Bibi Jane yang sedang beres-beres.
"Bibi Jane," panggil Aurel membuat Bibi Jane menoleh.
"Nona Aurel? Apa nona butuh sesuatu? Nona bisa memanggil saya tanpa harus keluar dari kamar, jika Tuan tahu pasti Tuan akan marah."
Papanya itu sangat posesif. Kadang kala sifat posesifnya membuat Aurel kesal, tetapi Aurel bersyukur mempunyai Papa seperti Mario yang selalu peduli kepadanya.
“Aurel ingin pasta. Bisakah Bibi Jane memasakkan Aurel pasta?” tanya Aurel dengan seribu harapan. Jika Mario tahu pasti Aurel akan dinasihati kembali oleh Mario.
“Tidak bisa, Nona. Nona Aurel tidak diperbolehkan untuk memakannya.”
Aurel mendengus kesal, papanya itu memang sangat menyebalkan sekali.
“Jika coklat? Apakah ada?” tanya Aurel kembali dengan tersenyum, berharap setidaknya ada coklat.
Bibi Jane menggelengkan kepalanya membuat Aurel kecewa. Pasalnya ia tidak bisa mendapatkan apa yang ia mau.
“Ya sudah, Bibi Jane lanjutkan beres-beresnya saja. Aurel ingin pergi ke kamar,” ucap Aurel dengan lesu. Ia berjalan kembali ke kamar.
Aurel duduk di ujung ranjang, otak cantiknya memikirkan banyak hal. Seakan mendapat ide, raut wajah Aurel berubah menjadi cerah.
“Jika aku tidak bisa mendapatkannya dirumah, aku harus pergi untuk mendapatkannya sendiri.” gumam Aurel.
Aurel segera berganti pakaian. Setelah itu, ia diam-diam keluar dari rumah dan pergi untuk membeli coklat. Ia sangat ingin memakan coklat. Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya Aurel menemukan Supermarket.
Rasa senang memasuki relung hati Aurel ketika saat di dalam ia melihat macam-macam coklat yang sudah berjejer rapi. Aurel mengambil dua coklat dengan ukuran besar, lalu menuju ke kasir. Saat dia ingin membayar coklat itu, ia merogoh kantongnya yang ternyata ia tidak membawa uang. Raut wajahnya berganti kebingungan dan panik.
“Kenapa? Tidak bawa uang, ya?” tanya seorang lelaki yang datang dengan barang belanjaannya. Aurel mengangguk sebagai jawabannya.
__ADS_1
“Kak, total in saja dengan punya saya. Nanti biar saya yang bayar.”
Mendengar itu, Aurel tersenyum bahagia. Setidaknya ia berhasil untuk memakan coklat hari ini. Untuk masalah uang, itu gampang. Nanti akan Aurel ganti.