Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 60 Hidup Baru


__ADS_3

(Hidup Baru)


Setelah Alex membanting ponselnya hingga rusak. Kini Aurel sudah membeli ponsel baru, ia mengambil kartu dari ponsel lama agar nomor dan data pentingnya tidak hilang begitu saja. Aurel tidak ingin jika nanti ia tertinggal sebuah berita, lagi pula jika ia tidak mempunyai ponsel. Bagaimana cara ia untuk bisa menghubungi keluarganya?


Sekarang ini Aurel masih berada di mobil untuk menuju ke bandara. Baru saja Aurel menghidupkan ponselnya kembali, tetapi sudah ada yang meneleponnya. Tertera nama Farel di sana. Jika saja Alex tahu, sudah dapat dipastikan ponsel yang baru saja ia beli akan berakhir pecah dan rusak.


Aurel menerima telepon dari Farel dengan perasaan senang. Meski sudah berkali-kali lelaki itu menyakiti dirinya, tetapi tidak bisa dipungkiri hati Aurel masih terisi oleh Farel. Tidak tahu apa yang lelaki itu lakukan, hingga bisa membuat ia menyukai Farel.


Jarinya menggeserkan ikon berwarna hijau, ia dekatkan ponselnya ke telinganya. Meski ia telah melihat langsung atau mengobrol secara langsung, saat Farel meneleponnya tentu saja Aurel akan gugup. 


"Aurel?"


Saat mendengar suara lelaki itu, Aurel berdeham pelan sebelum menjawab. Menetralkan rasa gugupnya, ia menyampirkan rambutnya ke daun telinga.


"Ya, ada apa?" tanya Aurel. Ia sudah menduga jika Farel akan meneleponnya selepas kejadian itu, tetapi pada saat itu Alex mengetahui dan membuat batal acara telepon Aurel dan Farel.


Namun, Aurel tidak mengira Farel akan meneleponnya lagi setelah Alex mengancam lelaki itu. Aurel kira Farel tidak akan berani mendekatinya lagi setelah diancam oleh Alex.


"Sebelumnya, aku ingin meminta maaf kepadamu karena aku telah melukaimu pada saat itu." Farel menghentikan ucapannya, ia ingin mendengar jawaban dari Aurel sebelum melanjutkan kembali ucapannya. 

__ADS_1


Tidak mungkin jika gadis itu tidak marah, karena ia telah membuat Aurel terluka. Bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali. Farel cukup merasa bersalah dengan kejadian saat itu. Sungguh ia tidak sengaja memukul hidung gadis itu sampai berdarah, Farel saat itu sedang fokus dengan Alex dan ingin membalas lelaki itu.


"Tidak apa-apa, aku tahu kamu tidak sengaja. Dan juga, atas nama Alex aku ingin meminta maaf padamu. Apalagi Alex sempat mengancam kamu,” jawab Aurel yang tidak sesuai dengan dugaan Farel.


Jawaban gadis itu membuat Farel berpikir, apakah Aurel tidak sakit hati atas ucapan atau perbuatan yang ia lakukan? Bahkan, gadis itu dengan mudah memaafkan dirinya atas kesalahan yang telah ia buat secara berturut-turut.


“Aku tidak masalah dengan itu Aurel. Tetapi, apakah kita bisa bertemu sekarang?” tanya Farel dengan ajakan. Tidak pas rasanya jika ia hanya meminta lewat ponsel. Farel ingin meminta maaf langsung dengan bertatap wajah dengan gadis itu.


Akan tetapi, Farel sendiri tidak yakin jika Aurel mau menerima ajakannya. Meskipun gadis itu sudah memaafkannya dengan mudah, jika harus melupakan kejadian buruk yang dia alami pasti akan sangat sulit. Bagaimana pun juga kejadian itu tidak akan hilang dari ingatannya, hanya saja rasa sakitnya sudah mulai mereda walaupun tidak semuanya hilang.


“Maaf, tetapi untuk sekarang aku sudah tidak tinggal di Berlin lagi.” 


Sebenarnya Aurel ingin menerima ajakan Farel. Tetapi disayangkan ia sedang berada di perjalanan menuju London. 


“Aku pergi ke luar negeri,” jawab Aurel. Sontak Farel menghela nafasnya, tadinya ia ingin menyusul Aurel. Tetapi setelah mendengar jawaban gadis itu, ia merasa tidak mampu jika harus menyusul Aurel hingga ke sana karena faktor ekonomi.


“Apakah kita tidak akan bertemu lagi?” tanya Farel dengan raut wajah murung. Padahal ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Aurel, tetapi gadis itu justru sudah pergi meninggalkan ia.


Aurel bisa merasakan jika lelaki itu sedang sedih. Terlihat dari nada bicaranya, walaupun tidak bisa melihat raut wajah Farel.

__ADS_1


"Bisa. Kita bisa bertemu kembali. Tetapi, apakah kamu bersedia untuk menungguku siap untuk kembali?" tanya Aurel.


Farel terdiam sejenak mendengar pertanyaan gadis itu. Ia tidak menyangka jika Aurel bisa melayangkan pertanyaan seperti itu kepada dirinya.


“Tentu saja, aku akan menunggumu kembali. Hati-hati di jalan, Aurel.”


Aurel tersenyum mendengarkan jawaban Farel yang cukup memuaskan. Mau sebanyak apa pun ia terluka saat bersama Farel, hati Aurel tetap tertuju pada lelaki itu. Tidak tahu apa yang membuatnya memiliki rasa begitu dalam kepada Farel.


Mereka berdua mengobrol sebentar, sebelum Aurel mengakhiri sambungan telepon mereka. Karena gadis itu sudah sampai di bandara.


Sedangkan di sisi lain. Alex, lelaki itu sedang uring-uringan di kamarnya. Karena pada saat ia pergi ke rumah Aurel, gadis itu tidak ada di rumahnya. Dan orang tuanya tidak memberitahu dirinya ke mana Aurel pergi. Farel mendiamkan kedua orang tuanya, serta Mario. Alex kesal lantaran tidak diberitahu alamat Aurel. 


Sudah berkali-kali Alex menelepon itu, tetapi tidak diangkat oleh Aurel. Tentu saja hal itu membuat Alex frustrasi. Ia bingung harus mencari di mana agar bisa bertemu dengan Aurel, karena Mario tidak akan memberitahu keberadaan gadis itu. 


“Sebenarnya di mana Aurel berada sekarang?” gumamnya. Alex sudah berkali-kali menelepon Aurel setiap hari, tetapi tidak ada tanda-tanda gadis itu akan menerima teleponnya. 


Aurel menghilang bagai ditelan bumi. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan keberadaan gadis itu, hal itu membuat Alex bingung harus mencari Aurel di mana. Walaupun ia belum tahu keberadaan dan kapan gadis itu akan kembali, Alex akan selalu menunggu Aurel.


Sedangkan Aurel, gadis itu baru saja sampai di negara London. Aurel mencari mobil untuk menuju ke rumah yang telah disediakan oleh Mario. Di perjalanan, di dalam hati Aurel terdapat perasaan yang mengganjal. Ia merasa tidak lega dengan kepergiannya ini, tetapi ia juga butuh waktu untuk menenangkan diri dan agar tidak bertemu dengan sosok kedua lelaki itu untuk sementara.

__ADS_1


Aurel memandang ke luar dari kaca mobil, pemandangan yang indah ia dapati. Bibirnya menyunggingkan senyuman manisnya, ia akan memulai suasana hidup baru di sini. Aurel harap semuanya berjalan dengan lancar, baik itu rencana ataupun harapan yang sudah ia susun secara rapi di dalam hati dan pikirannya.


Setelah sampai di depan bangunan yang menjadi tempat ia singgah di negara ini, Aurel menatap bangunan rumah itu dengan tersenyum. Hari ini ia meninggalkan semua masalah yang terjadi di kota Berlin dan memilih ke London untuk melupakan hal buruk. Meskipun tidak hilang secara sempurna, tetapi setidaknya hati Aurel tidak penuh dengan semua masalah itu. Perlahan Aurel melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah itu, tangannya menggeret koper yang berisikan barang-barangnya.


__ADS_2