Mengejar Cinta Lelaki Sederhana

Mengejar Cinta Lelaki Sederhana
Bab 9 Menjodohkan Keduanya


__ADS_3

Suara bel rumah yang berbunyi beberapa kali membuat Kimberly yang terlelap saat menggunakan masker wajah terbangun. Wanita berusia kepala empat tersebut berlari dari lantai dua menuju pintu, untuk melihat tamu yang datang. Ia melupakan masker wajah berwarna putih yang belum ia bilas. 


“Astaga!” Mario mundur beberapa langkah, saat melihat wanita berpakaian putih dengan wajah yang juga putih dan rambut tergerai tak beraturan membuka pintu. Siapa yang tidak terkejut saat mendapati pemandangan demikian.


Awalnya Kimberly bingung, apa yang membuat Mario terkejut hingga mundur beberapa langkah. Kimberly lalu menyentuh wajahnya, ia segera mengerti apa yang salah di sini. Wanita itu tersenyum kikuk sembari mengatakan, “Maaf mengejutkan kamu Mar, aku lupa jika sedang menggunakan masker wajah.”


“Tidak masalah Kim, apakah James ada di rumah?” tanya Mario sembari tersenyum canggung. Istri temannya itu memang sering bertingkah ceroboh.


“Ada, sepertinya dia sedang mengerjakan pekerjaan kantor di ruangannya,” balas Kimberly. Ia ingat, hari ini suaminya tidak pergi ke kantor untuk bekerja.


“Ah, baiklah.” Mario sedikit bingung bagaimana cara mengingatkan Kimberly bahwa mereka masih berada di ambang pintu. Apakah Kimberly tidak berniat mempersilahkan Mario masuk?


“Astaga! Ayo masuk, Mario. Aku lupa mempersilahkan masuk. Astaga Kimberly!” rutuk Kimberly pada dirinya sendiri. Ia lalu membuka pintu lebih lebar, memberi ruang untuk Mario masuk. Wanita itu mengarahkan Mario menuju ruang tamu.


Saat akan sampai di ruang tamu, terlihat James yang baru saja keluar dari dapur. Mario langsung tersenyum pada James dan menerima uluran tangan James. Keduanya berjabat tangan, seakan usai menjalin kerja sama. Sementara Kimberly, wanita itu langsung berlari untuk memperbaiki penampilannya. Ia bahkan masih ceroboh di usianya yang sudah berkepala empat.


“Apa kabar, Mario?” tanya James sembari tersenyum pada Mario.

__ADS_1


“Baik, kamu sendiri bagaimana?” Mario bertanya balik sembari duduk di sofa setelah James mempersilahkannya duduk. 


“Seperti yang kamu lihat Mar. Oh iya, ada perlu apa sampai datang kemari?” tanya James. Tidak biasanya Mario bertamu ke rumahnya, apalagi di siang hari seperti ini. Dan, sendirian. James tidak berniat menanyakan Carramel. Karena ia rasa, ia tahu jawabannya.


“Aku ingin membahas perjodohan Aurel dan Alex.” Mario menyampaikan tujuannya datang ke rumah James.


“Aku kira kamu membatalkannya, sudah lama sejak kita membahas itu. Jadi bagaimana?” James terlihat cukup antusias. Tentu, pria tersebut sudah cukup lama mengenal Aurel. Ia tahu sifat gadis tersebut, dan ia menyukainya.


“Apakah Alex setuju dengan perjodohan ini?” tanya Mario.


Ia hanya takut Alex tidak setuju dan terpaksa menerima perjodohan ini. Mario tidak ingin nantinya Aurel tidak bahagia karena Alex terpaksa menikahinya.


“Aurel belum tahu menahu tentang rencana perjodohan ini, tapi aku yakin dia akan setuju. Lagi pula Aurel tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun, selain Alex. Aku rasa Aurel juga memiliki rasa yang sama pada Alex,” papar Mario. Apa yang Mario katakan memang benar adanya, sejauh ini tidak ada laki-laki yang dekat dengan Aurel selain Alex. Seolah hidup anak gadisnya tersebut hanya berputar di atas kepala Alex. Setidaknya itu yang ia tahu.


“Syukurlah kalau begitu, haruskah kita menentukan tanggal untuk dinner? Kita bisa memberitahu mereka tentang rencana perjodohan ini,” ujar James. Mungkin James ingin segera menimang cucu. Lagi pula mereka semua sudah tidak muda lagi.


Tidak lama kemudian, Kimberly datang bersama nampan yang berisi dua cangkir kopi. Ia lalu meletakkannya di atas meja. Penampilannya kini lebih baik, sebuah dress polos berwarna hitam. Rambut yang sudah di cepol asal, pastinya wajah yang sudah dibilas oleh air.

__ADS_1


Setelah itu Kimberly duduk di sebelah James. Menyimak obrolan suami dan temannya itu. Ia baru menyadari satu hal, Mario datang seorang diri. Biasanya ia akan datang bersama Carramel, walaupun keduanya sering pisah mobil. Apa mungkin, Carramel akan menyusul nanti? 


“Kenapa hanya datang sendiri Mar? Carramel tidak ikut bersamamu?” tanya Kimberly. Wanita itu paling tidak bisa menebak-nebak, lebih baik ia bertanya daripada menduga-duga.


“Tidak, dia sedang pergi dengan teman-temannya,” papar Mario.


Kimberly hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, tidak ingin bertanya lebih jauh. Karena ia tahu, rumah tangga Mario dan Carramel tidak baik-baik saja. Ia rasa itu sangat sensitif untuk di bahas di saat seperti ini. 


“Bagaimana keadaan Aurel Mar, apakah hemofilianya masih sering kambuh?” tanya Kimberly. Wanita itu tahu, Aurel mengidap hemofilia berat turunan dari Carramel. Setahu Kimberly, Aurel akan kambuh saat gadis itu mulai kelelahan. Dari yang Alex katakan, sebentar lagi Aurel akan sidang skripsi. Gadis itu pasti akan sangat sibuk. Hari-harinya pasti akan mulai melelahkan karena harus membuat skripsi siang malam. Belum lagi revisi yang tidak ada habisnya, Kimberly harap Aurel baik-baik saja.


“Entah lah Kim, akhir-akhir ini aku tidak terlalu memperhatikan Aurel. Alex pasti lebih tahu tentang kondisi Aurel. Dia yang selalu menemani Aurel.” Mario sadar, bahwa dirinya tidak menjadi ayah yang baik. Bahkan kondisi putrinya sendiri ia tidak tahu pasti. Justru orang lain yang lebih tahu putrinya. Ini adalah kesalahannya, jika dulu ia tidak menikahi Carramel hanya karena parasnya mungkin saat ini Aurel dan dirinya diurus dengan baik. Mario hanya bisa menyesalinya tanpa bisa melakukan apapun.


“Tentang perjodohan, akan lebih baik jika kita segera mengatur pertemuan anak-anak. Mereka juga pasti setuju atas perjodohan ini,” ujar Kimberly, wanita itu pasti tidak sabar memiliki menantu. Karena selama ini ia hanya dikelilingi oleh suami dan anak laki-lakinya. Akan menyenangkan jika memiliki anak gadis di usianya yang sudah kepala empat.


“Aku senang kalian mau menerima perjodohan ini, walaupun Aurel sakit-sakitan.” Dulu Mario sempat takut tidak ada laki-laki yang mau menerima putrinya dengan hemofilia berat yang ia miliki. Ia pikir semua laki-laki sama sepertinya yang hanya memikirkan fisik. Ternyata laki-laki tulus itu ada, Alex orangnya. Mario senang, Aurel akan segera menikah dengan orang yang sangat mencintainya. 


“Apa yang kau katakan Mar! Aurel anak yang baik, cantik, sopan dan ramah. Terlepas dari penyakitnya, kami tidak menganggap itu sebuah kekurangan. Lagi pula Alex juga sangat menyukai Aurel,” tegur Kimberly.

__ADS_1


“Aku harap kamu bisa memperlakukan Aurel seperti putrimu sendiri Kim. Dia pasti menginginkan figur seorang ibu. Kamu tahu sendiri, bagaimana Carramel. Bahkan di usianya sekarang ia masih sibuk dengan karir,” ujar Mario.


__ADS_2