
(Menjalin Hubungan)
Sejak kejadian saat itu, sekarang ini jika Aurel sedang bersama Alex. Maka gadis itu akan menunduk, Aurel hanya mau membuka mulutnya jika ada sesuatu yang penting atau saat Alex bertanya saja. Menatap mata lelaki itu saja sekarang ia sudah tidak berani.
Sekarang ini Aurel sedang berada di mobil Alex, siang ini mereka sedang dalam perjalanan pulang dari kampus. Di dalam mobil, Aurel hanya diam. Tidak melontarkan pertanyaan yang konyol atau celotehnya seperti biasanya.
“Apakah kamu menginginkan sesuatu?” tanya Alex dengan menoleh kepada Aurel. Biasanya gadis itu mempunyai keinginan setiap hari dan saat pulang dari kampus biasanya Aurel akan memintanya untuk pergi ke suatu tempat atau membeli makanan.
“Tidak,” jawab Aurel tanpa menatap lelaki itu. Baru kali ini gadis itu membuka suaranya, karena sedari mereka masuk ke dalam mobil, Aurel tidak membuka mengeluarkan suaranya.
“Tidak ada tempat yang ingin kamu kunjungi? Atau makanan yang kamu inginkan?” tanya Alex sekali lagi. Ia juga heran, kenapa Aurel tiba-tiba menjadi pendiam seperti ini? Karena biasanya saat sedang bersamanya, gadis itu akan melontarkan pertanyaannya walaupun tidak sangat penting, ataupun melontarkan celotehnya sepanjang perjalanan. Tetapi sekarang ini, Aurel hanya diam, duduk dengan tenang dan matanya terus menatap ke arah depan.
“Tidak ada.”
Bahkan, jika Alex bertanya gadis itu akan menjawabnya sesingkat mungkin. Dan jika ia menatap, Aurel akan menunduk.
Setelah mengantarkan Aurel, Alex langsung berpamitan untuk pulang karena ia ada tugas kelompok. Dengan senang hati Aurel mengiyakan. Melihat lelaki itu sudah pergi, Aurel masuk ke dalam rumah, ia langsung menuju ke kamarnya.
Aurel duduk dipinggir ranjang, tangannya memegang ponsel. Apakah ia harus memberi pesan kepada Farel untuk bertemu? Pasalnya setiap ia menemui lelaki itu dengan diam-diam, Farel akan terus menghindar dari dirinya. Dan jika ia memberi pesan kepada Farel, lelaki itu pasti tidak akan membalasnya atau bahkan tidak akan membuka pesan dari dirinya.
Aurel memberanikan dirinya untuk menelepon Farel. Mungkin saja lelaki itu mau menerima telepon dari dirinya. Ia menunggu Farel menerima teleponnya dengan jantung berdebar-debar.
Hingga pada akhirnya, suara Farel keluar dari ponselnya. Dengan rasa gugup, Aurel memberanikan diri untuk berbicara.
“Farel, apakah aku bisa berbicara denganmu?” tanya Aurel, ia menggigit bibir bawahnya lantaran takut dengan jawaban Farel yang mungkin tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.
“Baiklah. Hanya sebentar,” jawab Farel. Sebenarnya ia ingin berbicara dengan gadis itu, tetapi ia masih kesal dan malu kepada Aurel karena kejadian saat itu.
__ADS_1
Kegugupan Aurel menghilang ketika mendengar jawaban Farel, bibirnya membentuk lengkungan yang sangat indah. “Aku meminta maaf atas kejadian kemarin. Tetapi, bisakah kita mengulangnya dari awal? Aku ingin kita seperti dulu lagi, bukan bermusuhan seperti ini.”
“Aku juga meminta maaf untuk kejadian itu. Tetapi, seperti dulu apa yang kamu minta?”
“Tidak nyaman jika aku menjelaskannya di telepon. Bagaimana kalau kita bertemu? Apakah kamu mau?” tanya Aurel. Gadis itu menurunkan ego dan membuang jauh rasa gugupnya demi bertemu dengan Farel.
“Boleh. Sore nanti kita akan bertemu di pantai, aku akan mengirim alamatnya padamu.”
“Baiklah.”
Setelah Aurel mengucapkan itu, Farel langsung mematikan sambungan teleponnya. Apakah lelaki itu sedang sibuk? Mungkin saja di toko butik itu sedang ramai pembeli.
Tidak terasa, sore telah tiba. Aurel sedang bersiap-siap, sedari tadi ia terus berdiri di depan kaca untuk melihat penampilannya. Ia harus tampil sempurna saat bertemu dengan Farel.
Aurel merasa seperti ada yang kurang, ia memikirkan hal itu. Tetapi ia tidak menemukan apa pun yang kurang. "Sepertinya sudah cukup seperti ini saja," gumam Aurel melihat tampilan dirinya di kaca.
“Seperti ada yang tertinggal, tetapi aku tidak tahu itu apa.” Aurel terus memikirkan perasaannya seperti ada yang mengganjal.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Aurel menghampiri mobil itu, seketika kacanya terbuka. “Dengan Nona Aurel?”
Mendengar pertanyaan itu, Aurel mengangguk. Ia segera masuk ke dalam mobil. Ketika mobil sudah jalan, Aurel merasa gugup karena akan bertemu Farel. Mungkin kali ini pembahasannya akan serius.
Setelah sampai di pantai, Aurel turun dari mobil dan membayarnya. Ia dapat melihat Farel dari belakang, lelaki itu sedang duduk di kursi menghadap ke arah pantai dengan memakai kaos berwarna putih dan celana hitam. Dilihat dari belakang saja, Aurel sudah terpesona dengan sosok lelaki itu.
Aurel berjalan menghampiri Farel, ia duduk di samping lelaki itu. “Selamat sore, Farel. Apakah kamu sudah lama menungguku?”
“Tidak, aku baru saja sampai.”
__ADS_1
Setelah Farel menjawab, mereka sama-sama diam. Hanya suara ombak yang mengisi keheningan mereka. Hingga pada akhirnya, Farel membuka suaranya.
“Aurel, apakah boleh aku bertanya sesuatu?”
“Tentu saja boleh,” jawab Aurel dengan hati senang karena Farel mau berbicara lebih dulu.
“Bagaimana perasaanmu kepadaku sekarang ini?” tanya Farel dengan mata yang menatap Aurel.
“Sampai saat ini, aku masih menyukaimu.” Aurel mencoba meyakinkan Farel bahwa ia memang benar-benar menyukai lelaki itu.
Farel menggenggam kedua tangan Aurel. Lelaki itu yakin ingin mengungkapkan perasaannya pada gadis itu sekarang.” Aurel, sebelumnya aku ingin meminta maaf karena perilaku diriku kepadamu akhir-akhir ini. sebenarnya aku juga menyukaimu pada saat kita bertemu malam itu, hanya saja aku tidak berani mengungkapkan kepadamu,” ucap Farel dengan jujur. Ia menatap mata gadis itu dengan tatapan penuh cinta.
Aurel terkesiap dengan ungkapan Farel. Jadi, selama ini cintanya tidak bertepuk sebelah tangan? Farel juga menyukainya? Aurel merasa hari ini adalah hari keberuntungannya.
“Apakah kamu serius?” tanya Aurel tidak percaya. Tetapi di dalam hatinya ia merasa sangat senang.
“Tentu saja aku serius. Hanya saja aku tidak mempunyai apa-apa, tidak seperti dirimu yang mempunyai semuanya.”
Ternyata Farel memilih untuk memendam perasaannya karena lelaki itu minder kepada dirinya. Padahal dirinya tidak mempersalahkan tentang itu.
“Aku tidak masalah dengan hal itu,”
“Jadi, apakah kamu ingin menjalani hubungan denganku?” tanya Farel berusaha tidak memedulikan tentang harta seperti yang Aurel katakan.
Tentu saja Aurel setuju dengan apa yang Farel ucapkan, ia sudah lama menyukai lelaki itu. Ini kesempatan dirinya, tidak mungkin Aurel sia-siakan.
Setelah Aurel dan Farel memiliki hubungan, sekarang lelaki itu berusaha selalu ada untuk Aurel. Ia tidak mau sampai gadisnya dekat lagi dengan Alex, Farel akan menunjukkan bahwa ia juga bisa menjaga dan membahagiakan Aurel, walaupun tidak memiliki banyak uang seperti Alex.
__ADS_1