Mengejar Mentari

Mengejar Mentari
Bab 1 Senja Mentari Putri


__ADS_3

Senja,Senja Mentari Putri.


Entah alasan apa ibuku menamaiku nama itu. Nyatanya aku bukan lahir di waktu senja. Atau kenapa terselip kata matahari di nama itu. Ketika ku tanya padanya? Ibu hanya tersenyum kepadaku tanpa memberitahuku alasan yang sebenarnya.


Usiaku 22 thn. Aku mengajar di beberapa sekolah swasta dan negeri. Sejak 2 thn kelulusanku, aku langsung mendaftar sebagai seorang pengajar sesuai jurusanku. Tapi nyatanya hingga sekarang aku belum di angkat jadi PNS. Aku bukan seorang dari kalangan atas, aku termasuk orang yang tak punya. Tapi ibuku yang seorang single parent itu, selalu menomer satu kan pendidikanku. Sehingga aku bisa melanjutkan kuliahku hingga selesai.


Ayahku sudah meninggal. Itu kata ibu. Aku bahkan belum pernah melihat wajahnya di foto sekalipun. Setiap ku tanya? Aku melihat air mata di sudut matanya. Aku tak ingin bertanya lebih jauh lagi. Biarlah...


Aku mempunyai ibu yang menyayangiku. Sudah cukup bagiku.


Di meja guru ini, aku termenung memikirkan hidupku.


" Ah, ada apa denganku. Tak biasanya aku begini". Aku membenarkan rambut


ku. Merapikannya karena terlihat acak-acakan.


Tumpukan kertas dari murid kelas XII IPA 1 itu seakan menyapa " Kenapa kau tidak segera menyentuhku"?


Aku sudah gila kenapa berbicara pada kertas.


Ku buka satu per satu, dan ku mulai memeriksa hasil ujian tengah semester mereka.


Anak-anak ini kadang membuat aku tertawa.


Ku lihat lembar Radit Wijaya, siswa yang menurut para wanita paling tampan d sekolah ini. Banyak sekali yang mengaguminya. Walaupun aku seorang guru, aku sedikit tahu gosip yang sedang berkembang di sekolah tempatku mengajar.

__ADS_1


" Dia lumayan pintar" gumamku


"95" nilai yang ku sematkan d lembar jawabannya.


Lalu ku lihat lagi lembar-lembar siswa yang lain. Ah...lelahnya...


Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 14.00 Wib. Aku bereskan mejaku. Ku beranjak pergi dan meninggalkan ruangan ini.


" Tari, kau mau pulang sekarang?" sapa Ita sahabatku.


" Ya " singkat saja aku menjawabnya


" Temani aku bertemu Ronald ya?"


" Ih sebel deh sama kamu, jawabnya singkat melulu" keluhnya


" Ronald Tar, aku dijodohin sama dia. Aku malu lah kalau bertemu dia sendiri. Temani aku ya? Please...


Kalau dia jahat sama aku bagaimana?


Kalau ada kamu kan, kamu bisa langsung nolongin aku..


Ingat, kalau aku pesen ekspreso, kamu harus langsung telpon aku. Kamu ingat kan Tar ??"


Ocehan panjang sekali,mengalahkan ceramah pak ustad di masjid samping rumahku. Aku mendengarkan tapi tidak terlalu mendengarkan juga..

__ADS_1


" Apa hubungannya dengan ekspreso"? Aku bertanya karena tidak mengerti.


" Tari sayang... kalau aku pesen ekspreso, berarti aku tidak suka bertemu dengannya. Jadi kau harus langsung menelpon supaya aku punya alasan untuk bisa kabur dari sana" terus saja dia mengoceh.


" Oh" jawabku


" Oh itu mengerti atau tidak !!!!" Ita sedikit kesal.


" Ya ya.. Aku mengerti Ita sayang" Aku sedikit menggodanya agar dia tidak cemberut lagi.


" Kita jalan sekarang, atau nanti kita terjebak macet dan kamu terlambat di pertemuan pertamamu" Imbuhku lagi


Ita memang cerewet sekali. Kami bersahabat sejak masa kuliah dulu. Dan sekarang mengajar di satu sekolah yang sama, jadi menambah keakraban kami.


Aku menstater matic ku. Dan Ita pun begitu.


Aku dan Ita membawa motor masing - masing karena memang jadwal kami tidak sama. Dan rumah kami pun tidak searah.


" Tar, nanti kamu pesen meja di deket aku ya..."


" Jangan jauh-jauh.!" pesan Ita sebelum benar-benar melajukan scoopynya .


Aku mengangguk pelan.


Ku lihat motor nya melaju meninggalkanku.

__ADS_1


__ADS_2