Mengejar Mentari

Mengejar Mentari
Bab 6 Tidak Bisa Menolaknya


__ADS_3

****


" Apa- apaan Radit. Kamu tidak perlu berlutut seperti ini, ayo bangun.." Tari memegang tangan Radit berusaha mengangkat tubuh Radit agar segera berdiri.


" Aku gak mau bangun, kalo ibu gak mau menjawab iya" suara Radit keras, sekeras kepala hatinya.


flash back 1 jam yang lalu


Tari tiba di rumah pukul 3 sore, tadi dia mampir ke sebuah toko buku terlebih dahulu.


Dia mengeluarkan ponselnya dan mengisi daya ponselnya. Ponselnya mati, sejak dia keluar dari sekolah tadi.


Begitu ponselnya menyala, beberapa rentetan bunyi notifikasi menyerbu ponselnya. Dia membiarkan saja lalu berlalu menuju lemari pakaiannya.


Tari sedang berganti pakaian rumahan sederhana, lalu melirik ponselnya.


Kali ini bukan lagi pesan yang masuk, melainkan sebuah panggilan.


Radit...


Ada apa lagi, dia memanggilku kali ini.


Tari menekan tombol hijau di ponselnya, suara di sebrang sana memecah telinganya.


" Ibu lupa hari ini mau ketemu di cafe. Ponsel ibu kenapa mati, ibu tidak apa- apa kan"?


Tari benar-benar melupakan janji nya bertemu Radit di cafe. Bahkan sekarang dia sudah berada di rumah. Ah mungkin juga Radit sudah pulang. Ini kan sudah 2 jam lebih dari waktu yang mereka sepakati malam tadi.


Tapi tunggu,,,


" Mas,ini mocacino nya"


" Makasih ya mbak."


Suara seorang waiters terdengar jelas di ponsel Tari, tidak mungkin kan Radit masih di cafe...?


" Kamu masih di cafe? kamu mau menunggu, atau kita pindahkan di lain hari janjinya Radit? Bagaimana?"


Tari berusaha membujuk Radit agar mau membatalkan saja janjinya hari ini. Lagi pula dia sudah sangat terlambat.


Bahkan Tari lupa untuk sekedar meminta maaf, dia sudah gugup dan bingung.

__ADS_1


" Tidak, aku menunggu mu bu.. hati-hati di jalan..cepatlah datang,aku sudah malu terlalu lama di sini" Radit berpikir sudah tidak bisa mundur lagi. Dia takut keberaniannya hari ini akan hilang jika di gantikan di waktu yang lain. Dia benar-benar tidak ingin membuang kesempatan yang ada. Mungkin kesempatan seperti ini tidak akan pernah datang kedua kali.


Dia sudah menunggu 2 jam,lebih malahan..


Radit mengacak-acak rambutnya kesal.


Tidak lama setelahnya, semburat senyum kembali tercetak di wajah Radit. Tari datang, dengan tampilan sederhana namun tetap cantik. Menggunakan dres warna biru selutut di padukan dengan sepatu kets berwarna putih. Visual yang menawan....


" Kamu sudah lama, kenapa menunggu terlalu lama bukannya pulang saja. Bagaimana jika kamu tidak bisa menghubungiku, apa kamu mau menunggu hingga cafe ini tutup" Tari tidak mengerti harus bagaimana bersikap dengan bocah ini.


" Duduk bu" Radit memundurkan kursi dan mempersilahkan Tari duduk. Hanya itu yang dia jawab dari sekian banyak ocehan yang Tari keluarkan.


Ada apa ini, Tari benar-benar canggung.


" Aku sudah memesan makanan semoga ibu suka, kata mbak nya menu ini menu favorit di cafe ini bu" Radit menunjuk beberapa makanan dan minuman di atas meja.


Tari duduk, lalu mengaduk-aduk makanan dengan kesal. Selain pertanyaannya tidak di jawab, dia juga merasa di permainkan oleh bocah ini. Hanya gara-gara tas tertinggal, dia di paksa mentraktir makan di cafe ini.


Benar-benar kekanak-kanakan..


Otak Radit mungkin sudah ketinggalan di rumahnya. Dia melihat dengan jelas Tari kesal, tapi dia malah tersenyum. Tari sangat pandai memahami orang lain, tapi tidak berlaku dengan Radit. Tari benar-benar tidak mengerti apa maunya anak ini.


" Habiskan dulu makanannya bu, ada sesuatu penting yang ingin aku sampaikan" Tiba-tiba mimik muka Radit berubah jadi serius. Sungguh, Tari ingin tertawa melihatnya.


" Bicara saja, toh ibu bisa mendengarkan selagi makan. Ibu kan makan pakai mulut, bukan pakai telinga" Tari masih saja berbicara dengan sinis.


Radit diam tidak menjawabnya, dia ingin Tari menghabiskan dulu makanannya. Radit takut sesuatu yang akan di sampaikannya ini mengganggu selera makan Tari nanti.


" Makanlah dulu bu...." Akhirnya Radit membuka mulut nya karena di lihatnya Tari tidak memakan makanannya.


Tari menyuapkan sesuap demi sesuap hingga piring makanannya hampir habis. Benar apa yang di katakan mbak yang kerja di cafe ini, menu makanan yang Radit pesan tadi memang sangat lezat, sesuai dengan seleranya. Pantas saja dijadikan menu favorite oleh pengunjung cafe. Tanpa malu-malu Tari melahap habis makanannya.


Memangnya kenapa??? Lagian kan dia juga yang bayar. Itulah yang dia pikirkan..


Radit memegang gelas minumannya dengan erat, dia berusaha mengumpulkan semua keberaniannya sekarang.


" Jadilah pacarku bu.." Radit mengatakannya dengan suara tenang, tak ada penekanan di setiap kata nya. Kalimatnya tenang, setenang raut wajahnya. Tapi Tari tidak tahu bagaimana meledaknya suara detak jantung Radit.


Tari kehilangan konsentrasinya sepersekian detik, bahkan sendok yang dia pegang pun terjatuh di atas piring. Dia kaget, tak percaya.


Bercanda kah Radit padanya?? Dia memang pernah memergoki Radit yang curi-curi pandang padanya, tapi Tari tidak pernah berpikir perasaan Radit sejauh ini.

__ADS_1


Tari tertawa...


" Kamu bercanda, kamu mau mengencani gurumu? banyak wanita yang mengejarmu, kenapa malah ingin berkencan dengan orang tua seperti ku. Tidak ada lagi yang harus kita bahas Radit, Ibu sudah menepati janji ibu padamu. Ibu anggap tidak pernah mendengar sesuatu seperti ini lagi!!!"


Tari bangkit dari kursi hendak meningggalkan cafe sesegera mungkin. Di luar memang panas, tapi di dalam cafe terasa lebih panas.


Langkah Tari terhenti, Radit memegang tangannya dan bahkan anak itu berlutut di hadapannya.


Ya tuhan...


" Aku gak mau bangun, sebelum ibu bilang mau jadi pacar aku" Tari menoleh kanan kiri. Pengunjung nya cukup ramai, mereka semua menatap ke arah kami. Sepertinya Radit sedang melakukan pertunjukan besar.


Tari terdiam kaku, hanya sekitar 5 menit memang.. Tapi bagi Radit ini sudah seperti 5 jam.


" Iya.iya baiklah..sekarang bangun" Tari mengajak Radit duduk kembali di kursinya.


Dasar anak licik, Tari bahkan melihat Radit tersenyum.


" Bu, bisa kita pergi dari sini, aku malu" Radit cengengesan tidak jelas.


Jelas saja kamu malu Radit, kamu tidak melihat semua orang di sini menertawakan mu!!!


Tari ingin berteriak seperti itu. Dia bukanlah orang yang mempunyai kesabaran tinggi, bahkan saat dia sedang mengajar saja, dia bisa berteriak kencang memarahi murid-muridnya yang bandel. Tapi tidak pernah sampai memukul, dia tidak mau masuk penjara karena tuduhan memukul muridnya.


" Baru kembali otakmu, sekarang baru sadar!!" jawab Tari dengan kesal.


Senyuman itu, Ya Radit hanya tersenyum menanggapi ocehan tari. Lalu Radit menuju meja kasir, dan membayar pesanan kami.


Bukankah dia meminta Tari yang mentraktirnya kali ini. Tari mengerti, ini hanya akal-akalannya saja.


Radit mengenggam tangan Tari,menautkan jari-jarinya di sela jari-jari tangan Tari. Tari berusaha melepaskan genggaman Radit, tapi genggaman itu malah semakin kencang. Mereka pergi keluar dengan saling bergandengan tangan menuju halaman parkir cafe.


Tari hanya asal menjawabnya, dia tidak ingin berlama-lama lagi jadi tontonan para pengunjung cafe. Dia tidak benar-benar menerima Radit sebagai pasangannya. Ini tidak benar.


Tari menghentikan langkah kakinya setelah mereka berada di luar cafe. Tidak ada lagi yang melihat mereka, setidaknya Tari perlu meluruskan masalah ini.


" Radit, kamu tau kan.. ini tidak mungkin berhasil, kamu hanya muridku sebaiknya kamu memahami itu," Tari berusaha sabar, dia tidak lagi berkata kasar, setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar sangat lembut, dia ingin Radit mengerti dan tidak keras kepala lagi.


Radit melepaskan tautan tangan mereka, dia membuka pintu mobil dan menyuruh Tari masuk ke dalam mobilnya. Jelas saja, Tari seperti orang yang sangat bodoh kali ini....


Dia menurut saja dan masuk hingga mobil melaju dengan kencang...

__ADS_1


__ADS_2