
" Akan aku buktikan aku tulus" Raditya Wijaya
Mobil melaju dengan sangat kencang. Sedari tadi baik Tari maupun Radit tidak ada yang bersuara. Tari tidak tau akan kemana Radit membawanya. Dia mendadak bisu,
Bukankah Radit hanya seorang murid untuknya??? Tari sudah sering menolak para pria yang menyatakan cinta padanya.. Tapi tidak pernah dia merasakan perasaan seperti ini?? Rasanya tidak nyaman,bingung dan canggung.
Seharusnya Tari tidak seperti ini, lagipula usia Radit jauh lebih muda dari nya. Seharusnya dia bisa menjadi orang yang lebih dominan disini. Tapi kenapa sekarang Tari merasakan hal yang sebaliknya..
" Beri aku waktu 3 bulan, biarkan aku menjadi pacar mu dan jika dalam waktu itu,kamu tetap ingin pergi dari ku, aku akan merelakannya..."
Radit berkata setelah ia menepikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi.
Tidak ada kata panggilan ibu seperti biasanya. Mungkin Radit sudah menganggap Tari menjadi pacarnya, jadi dia tidak lagi menggunakan kata ibu pada Tari.
Disinilah kesalahan Tari, dia malah memikirkan hal yang seharusnya tidak dia pikirkan. Seharusnya dia memikirkan jawaban dari perkataan Radit, bukannya malah memikirkan hal yang lainnya. Dia kembali ke kesadarannya. Tari menghela nafas panjang, sebelum akhirnya mengeluarkan semua pikiran yang berada di otak kecilnya ini.
" Untuk apa kita memulai sesuatu yang sudah jelas tidak akan berhasil".. akhirnya Tari memulai pendapatnya. Bagi Tari berhubungan dengan seseorang yang lebih muda usia darinya saja, sudah tidak masuk dalam pikirannya, terlebih lagi Radit adalah muridnya. Hal ini lebih tidak mungkin lagi.
" Tapi aku mencintaimu bu, aku menyayangimu, dan perasaanku ini tulus"
" Aku tidak pernah mempunyai perasaan seperti ini selain padamu, tadi ibu menjawab mau menjadi pacarku di cafe. kenapa sekarang berubah?? apa aku tidak pantas karena seorang murid, atau usiaku jauh di bawah mu??"
" Aku akan berusaha mengimbangi mu bu,?? aku mohon beri aku kesempatan".
" Aku akan segera lulus, kita tidak akan menjadi guru dan murid lagi sebulan lagi aku ujian bu" Radit terus saja memohon pada Tari, sampai Tari tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"3 bulan saja, jika ibu merasa aku tidak baik sebagai pria selama menjadi pacarmu dalam 3 bulan itu, kamu boleh meninggalkan aku. Aku janji tidak akan merengek lagi" sekarang Radit bahkan berbicara sambil memegang tangan Tari.
Tari mendengarkan dengan jelas, dia paham dan mengerti dengan benar semua yang di ucapkan Radit padanya tulus. Dia bisa melihat dari sorot matanya.
Tari merasakan detak jantungnya semakin cepat, mungkinkah Tari mulai menyukai Radit? Haruskah dia memberikan Radit kesempatan,?
__ADS_1
Bukan hanya kesempatan untuk Radit saja, Tari juga harus memberikan kesempatan bagi dirinya sendiri. Selama ini dia selalu menutup hatinya, Tari tidak pernah berpikir untuk mendapatkan pasangan. Dia hanya memikirkan mencari uang, dan membahagiakan ibu nya.
Mungkin sekarang waktunya dia memberi kesempatan untuk dirinya mendapatkan kebahagiaan??? Lama Tari berpikir.
" Baiklah, tapi jika 3 bulan ibu bilang berhenti kamu tidak boleh merengek seperti ini lagi,"
Senyum Radit mengembang, dia sangat senang. Setidaknya Tari sudah menjadi pacarnya, untuk kedepannya dia akan memikirkannya nanti.
Radit memeluk Tari dengan erat, tidak ada rasa canggung bagi Radit. Radit sangat bahagia. Tari yang sedari tadi diam akhirnya menepuk-nepuk pundak Radit dengan lembut, dia juga tidak mengerti kenapa bisa selemah ini di depan Radit. Dia membiarkan Radit memeluknya cukup lama.
" Aku mau menelpon mang ujang dulu yah" Radit melepaskan pelukannya meraih ponselnya dan segera menelpon mang ujang.
Tari hanya diam memperhatikan setiap gerakan Radit.
Dan tangan Radit masih tetap memegang tangan Tari walaupun saat ini dia sedang berbicara di telpon dengan mang ujang.
Sepertinya Radit menyuruh mang Ujang untuk mengambil motornya di cafe. Tari bahkan lupa kalau dia ke cafe menggunakan motor, dan sekarang dia di sini di mobil Radit. Otaknya kacau, sampai lupa meninggalkan motornya begitu saja di sana.
" Mana kunci motornya"
" Aku akan menyuruh mang Ujang membawanya ke rumahku dulu untuk sementara, kalo di bawa ke rumahmu nanti ibumu berpikir yang macam-macam lagi. Kenapa hanya motornya saja yang datang?"
" Iyakan??"
" Tidak perlu, bukannya kita sudah selesai. Lebih baik aku pulang sekarang. Sebentar lagi malam Radit. Aku tadi pamit pada ibu cuma pergi sebentar. Ini sudah sangat lama dari semenjak aku pergi. Lebih baik kamu antar aku ke cafe saja. Aku bisa ambil motorku sendiri."
" Tidak, aku mau mengajakmu kesuatu tempat. Kamu tau kan 3 bulan itu singkat, aku harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Tidak jauh kok tinggal belok situ terus sampai."
Radit membuka pintu mobil, dan menyerahkan kunci motorku pada mang Ujang.
Lalu mang ujang kembali menaiki ojek online nya, dan pergi ke arah cafe.
__ADS_1
Radit kembali melajukan mobilnya. Benar kata Radit, tujuan mereka tidaklah jauh, dia hanya berbelok dari tempat kita menepi tadi lalu mobil Radit sudah memasuki gerbang sebuah rumah.
Radit membunyikan klakson mobil, lalu penjaga pintu membukakan pintu gerbang rumah.
" Sampai, ayok turun"..
Radit turun lebih dulu dari mobil, sedangkan Tari hanya terbengong saja di sini. Radit membuka pintu mobil penumpang lalu memegang tangan Tari dan menuntunnya keluar.
" Ini rumah ku, Ibuku sudah menunggu di dalam"
Tari berhenti melangkah,
Apa-apaan Radit ini, kenapa semua mendadak seperti ini. Menurut Tari bertemu orang tua Radit sekarang bukanlah hal yang tepat. Tari belum mempersiapkan apapun. Radit benar-benar melakukan semuanya dengan cepat. Dari pendekatan, hingga resmi pacaran.. dan sekarang bertemu orang tua nya, di lakukan Radit dalam waktu sehari saja.
Benarkah dia sedang memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin??
" Kenapa??? aku sudah lama bercerita tentang mu pada ibuku. Ayo, ibuku sedang menunggu. Tenang saja dia orang yang sangat baik, sama seperti mu. Aku yakin kalian akan cepat akrab"
Apaan ini!!! Sok dewasa sekali dia, sebenarnya disini siapa yang lebih tua. Kenapa dia memperlakukan ku seperti anak kecil.
Aku kembali berjalan ketika langkah Radit menuntun langkahku. Tangannya tetap menggenggam tanganku erat..
" Assallamualaikum ibu...."
Radit berjalan, membuka pintu rumah dan keluarlah si nyonya rumah di sini yang tentunya ibu Radit.
Sekarang Tari tau kenapa Radit menjadi pria yang sangat tampan. Pantas saja, ibunya juga sangat cantik. Dan Tari melihat di dinding rumah Radit di ruang tamu, terdapat foto keluarga yang sangat indah di pandang. Ayah Radit juga terlihat sangat tampan di foto itu. Tidak berbeda jauh dengan penampilan Radit sekarang. Mungkin Radit anak tunggal, karena di situ hanya ada foto Radit saja bersama kedua orang tuanya.
" Sore tante...." ucap Tari dengan sangat canggung. Ini masih sore kan..masih setengah 6 kok. Tari terus saja berpikir dengan pikirannya sendiri...
Ibu Radit tersenyum, berjalan menghampiri Tari dan Radit. ....
__ADS_1