
Radit menghentikan mobilnya di sebuah cafe. Payung yang ada di belakang kursi kemudi sudah dia ambil, lalu dia membuka pintu mobil dan keluar terlebih dahulu. Tari masih bingung, dia diam saja di dalam mobil dan tidak bergeser sama sekali. Dia masih merasa bersalah terhadap Radit.
Radit membuka pintu penumpang, dan membimbing Tari keluar dari mobil. Tangan kanannya memegang payung, dan tangan kirinya meraih bahu Tari dan mendekatkan badan Tari agar lebih dekat padanya.
Setelah pintu mobil dia tutup kembali, Radit mengajak Tari memasuki cafe tersebut.
Coklat panas, dan Ayam bakar beserta nasi hangat adalah menu pilihan yang Radit sebutkan tadi saat pelayan menghampiri mereka. Kini keduanya sudah duduk saling bersebelahan di salah satu meja yang ada di sana. Hujan masih sangat deras. Radit memutuskan untuk mengisi perut mereka terlebih dahulu, sebelum mereka melanjutkan perjalanannya kembali.
Tari masih saja terdiam, dia bingung jika harus memulai percakapan lebih dahulu. Bahkan wajahnya dari tadi hanya tertunduk, dia sungkan jika harus bertatap mata dengan netra Radit.
Radit mengulas senyum di bibirnya, tidak tahan lagi dengan kelakuan wanitanya, dia akhirnya mengalah. Di lepaskannya jaket yang dia pakai lalu meletakanya di bahu Tari.
Terlihat Tari sudah mulai kedinginan..
Tari menegakkan kepalanya, menoleh ke samping dan menatap wajah Radit dengan lekat. Bibir lelaki itu tersungging, menandakan bahwa dia sudah tidak marah lagi padanya.
Tari memasukkan tangannya ke dalam jaket, tadi Radit hanya meletakkan saja jaket itu di bahunya, dan sekarang Tari benar-benar memakai jaket Radit yang terlihat kebesaran di tubuhnya...
*****
Besok Radit akan pergi ke Bandung selama beberapa hari. Hari ini dia sengaja menjemput Tari dan membawa gadis itu ke rumahnya. Dia ingin memuaskan diri, seharian bersama gadisnya. Dia juga tidak tahu pasti, akan berapa hari berada di kota kembang tersebut. Bisa 3 hari atau mungkin lebih. Radit pergi ke Kota Bandung tidak hanya mengurusi masalah pendaftaran kuliahnya, Dia juga mendapat tugas dari ayah untuk meninjau lapangan beberapa proyek yang akan di kerjakan oleh perusahaan di cabang sana.
__ADS_1
Radit memang anak yang pandai, walaupun dia masih SMA dia sudah sangat paham seluk beluk perusahaan ayahnya. Ayah sering membawanya ke perusahaan, dan menyuruhnya mempelajari dasar-dasar pembisnis.
Radit membuka pintu lalu menuntun dari masuk ke dalam rumahnya. Ada ayah dan juga Ibu sedang berada di sana. Hari ini adalah hari Minggu, jadi ayah memang memilih hari Minggu sebagai hari liburnya. Ayah tidak mau memiliki urusan perusahaan apapun jika bertepatan dengan hari Minggu. Hari Minggu adalah hari khusus bersama keluarganya, seperti hari ini.
Tari memilih duduk di sofa dekat dengan ibu Radit, sedangkan Radit tentu melekat erat dengan Tari. Mereka sedang berada di ruang keluarga yang ada di rumah Radit. Rumah Radit sangat mewah, berbeda dengan rumahnya. Luas ruang tamu yang ada di rumah ini mungkin sama dengan seluruh luas rumah yang di miliki Tari dengan ibunya.
Sebelum berpacaran dengan Radit, Tari juga tidak mengetahui apapun tentang pria itu, termasuk keluarganya yang berasal dari keluarga yang kaya raya. Jika tau sedari awal mungkin Tari akan berusaha menolaknya.
Tapi keluarga Radit sangatlah baik, kedua orang tuanya tidak pernah memandang Tari sebelah mata. Baik usia ataupun kasta, mereka dari awal sudah memberitahukan pada Tari jika mereka berdua tidak memperdulikan tentang hal itu.
Yang terpenting bagi mereka adalah kebahagian anak semata wayangnya. Mereka akan menerima siapapun yang di cintai anak mereka. Perkataan itu, sudah ibu Radit sampaikan di awal pertemuannya waktu itu.
" Yah, kenapa sih anak kita satu-satunya harus kuliah jauh-jauh ke Bandung..Di Jakarta juga banyak kampus yang bagus. Ayah tega banget sih misahin ibu sama Radit??" kesal...itulah yang di rasakan ibu pada ayah. Dia sudah menentang keputusan suaminya berkali-kali tapi tetap saja tidak merubah keadaan apapun.
" Sudahlah bu, ini juga kan dah keputusan Radit kok.. Lagian Bandung juga deket bu, Radit juga pasti sering pulang. Radit juga kan kangen sama Tari bu.."
Tari yang mendengar semua itu hanya bisa diam menahan malu. Radit selalu saja memproklamirkan perasaannya tanpa rasa malu, sedangkan Tari sudah sangat malu sekali di depan kedua orang tua Radit.
"Tuh yah, dia bilang malah kangen sama Tari bukan sama kita yah" Ibu meminta pembelaan dari suaminya. Tapi yang di minta membela itu hanya terlihat cuek tanpa menjawab ocehan istrinya.
Tari yang mendengar perdebatan keluarga Radit itupun hanya bisa terdiam. Tidak ingin ikut campur, Tari takut salah bicara. Dengan ibu Radit memang dia sudah sangatlah akrab, tapi jika ada ayahnya dia masih sungkan.
__ADS_1
Herman, ayah Radit itu memiliki mimik muka yang selalu serius.. Dia akan bicara jika di perlukan saja, berbeda dengan Radit. Sifat Radit sepertinya lebih mirip dengan ibunya. Pecicilan dan tidak bisa diam. Itu jika bersama Tari.
" Dit, kamu ajak Tari ke kamar gih..baju kamu kan belum di siapin..."
" Iya bu," Lalu Radit mengajak Tari ke kamarnya. Hubungan Tari dengan keluarganya memang sudah sangat dekat.
Tari sudah sering berkunjung ke rumah yang besar ini, karena memang selama berpacaran Radit dan Tari lebih sering bertemu di rumah Radit atau di rumahnya. Para pekerja di rumah ini juga sudah mengenal nona nya ini.
Radit mengeluarkan koper yang tersimpan di lemari pakaiannya , lalu menyuruh Tari memilihkan baju apa yang harus dia bawa. Dia mendudukkan tubuhnya di atas ranjang sambil memperhatikan Tari yang sedang memilih-milih pakaiannya.
" Kemejanya 3 ya sayang, sama kaos nya aja yang agak di banyakin. Aku juga mau pergi ke beberapa proyek di sana, gak cuma ngurusin kampus aja" ucap Radit sambil memainkan ponselnya.
" Emang lama kok kaosnya minta di banyakin.." Tanya Tari penasaran...
Radit meletakkan ponselnya di atas ranjang, dia melangkah menghampiri Tari yang sedang berdiri membelakanginya. Tari sedang menghadap ke depan lemari pakaian Radit, dan masih mencoba melihat beberapa kemeja yang berjejer rapi di gantungan. Radit memeluknya dari belakang membuat Tari menghentikan aktifitasnya. Pelukan itu semakin erat, Radit bahkan sudah meletakkan kepalanya di leher Tari. Menciumnya dan menyesapnya dengan kencang.
Di balikkannya tubuh Tari, sehingga sekarang mereka berhadap-hadapan. Deru napas Tari masih terengah-engah tak beraturan. Begitupun dengan degup jantung Radit yang seakan meloncat dari tubuhnya.
Tangannya memegang kepala Tari yang tepat berada di hadapannya, lalu menempelkan bibir nya di bibir Tari. Melumatnya dengan lembut.. Tari memejamkan matanya, tangannya sudah memeluk Radit dengan erat tanpa melepaskan pagutan mereka. Mereka terus saja berciuman sampai kehabisan napas.
Radit melepaskan bibirnya, memberikan ruang pada Tari untuk bernapas kembali. Tak menunggu lama, dia menciuminya kembali..berulang ulang kali..
__ADS_1
" Aku pasti akan merindukanmu sayang,." ucap Radit setengah berbisik..napas mereka belum kembali normal. Tari hanya terdiam dan mengeratkan pelukannya di tubuh Radit..
" Aku akan selalu menghubungimu.."