
Radit membuka dompetnya, mengeluarkan salah satu credit card yang terselip rapi di sana, memberikannya kepada Tari sesaat sebelum mereka berpisah. Ia harus segera menghadiri meetingnya, jadi tidak bisa menemani Tari untuk saat ini. Ia juga mengerti, sebenarnya kekasihnya ini sedang gelisah, raut wajahnya tidak lagi ceria, Tari lebih sering terdiam semenjak pertemuan dadakan dengan Jeslin di restoran tadi. Bukannya Radit tidak mengerti, Tapi untuk saat ini, Radit benar-benar tidak bisa menghiburnya, ia akan membiarkan Ita menemaninya terlebih dahulu. Dia memiliki tanggung jawab yang besar, sebagai wakil pimpinan di perusahaan keluarga Wijaya.
Ia menghela nafas panjang, kerutan di keningnya mulai terlihat karena Radit merasa sedikit pusing. Tari tidak menerima kredit card darinya, dengan susah payah membujuk akhirnya sang gadis keras kepala itu mau menerimanya..
" Ini uang aku sayang..bukan punya ayah. Aku dah kerja sekarang" Tari masih saja terdiam, padahal Ita yang berdiri tidak jauh dari mereka sudah menunggunya sedari tadi. Tapi tetap saja, tangannya tak mau menerimanya.
" Aku marah kalo kamu gak mau nerima ini, kamu bisa pake nanti, aku tau kamu punya uang, tapi kamu itu dah jadi tanggung jawab aku!!" nada ucapan Radit sudah terdengar putus asa, jika Tari menerima kartunya, setidaknya dia tidak akan gelisah walau tidak sedang berada di sampingnya.
Tari menoleh, menatap manik Radit yang sendu. Dia tau Radit sangat menyayanginya, apalagi yang ia pikirkan???? Dia gelisah tanpa alasan, meragukan kepribadian Radit. Radit sudah memilihnya, buat apa dia gelisah..
" Aku abisin nanti ya..." ucap Tari sambil mengumbar senyum yang sedari tadi menghilang.. Ia menyambar kartu kredit di tangan Radit lalu memasukkannya ke dalam tas nya.
__ADS_1
" Iya sayang..." wajah Radit berbinar, akhirnya batu yang mengganjal di hatinya sudah menghilang. Dia bisa berkonsentrasi pada pertemuan nanti, dengan melihat senyum yang merekah di wajah Tari.
Radit melangkahkan kaki terlebih dahulu meninggalkan para sahabat dan kekasihnya.
****
Tari mengapit lengan Ita dengan manja, mereka berdua berjalan beringinan menyusuri
Belum ada toko yang mereka masuki, mereka hanya berjalan terus sambil sesekali melirik barang yang di pajang di salah satu toko yang berderet di sana.
" Kamu mau nyari apa sih Ta, daritadi kita jalan terus.." Tari menghentikan langkahnya karena di rasa kakinya sudah mulai lelah.
__ADS_1
" Aku mau milihin baju buat kamu, tinggalin lagi celana jeans kamu itu Tar... mulai pake rok mini kenapa sih... aku malu deh jalan sama kamu, tadi kamu kan liat, cewek-cewek model kayak Jeslin itu pasti yang ada di sekeliling Radit. Kamu gak mau kan, Radit di ambil orang.." Ita berbicara dengan sangat lantang, sepertinya ia yang lebih emosi ketimbang Tari. Dia bahkan tidak tau, sedari tadi orang-orang melirik ke arah mereka.
" Apaan sih Ta, kalo mang gak setia ya gak setia aja, " Seloroh Tari seraya melangkahkan kakinya kembali, meninggalkan Ita yang masih terbengong di sana.
" Bukan masalah gak setia Tar, Nih ya kalo kucing di kasih ikan asin itu pasti kagak bakalan nolak. Setidaknya kamu jaga-jaga kek"
" Biarin aja kalo emang bukan jodoh, mau gmna lagi. Dah lah kamu ngapain coba mikirin hubungan aku, pikirin tuh hubungan kamu sendiri.. Kata kamu si Ronald belom move on.???"
" Tau ah.." Ita kembali menggandeng lengan sahabatnya itu. " kita abisin kartu kredit Radit!" Ita terkekeh geli, sementara Tari membelalakkan matanya.."Ita... kamu gak usah macem- macem deh, kamu nguping ya tadi.."
Mereka seharian berjalan-jalan di mall, sampai sore hari. ya...hanya berjalan-jalan saja karena keduanya tidak membeli apapun di sana.
__ADS_1