
Tari mengedarkan pandangannya, meneliti ruangan 4 x 4 meter yang ia tempati saat ini. Entah apa jabatan Radit, Tari sendiri tidak pernah sibuk menanyakannya. Ruangan itu sangat mewah terdapat sebuah meja yang khusus untuk Radit duduki, lalu di depannya terdapat sofa yang saat ini sedang di duduki Tari. Lemari buku yang sudah berisi dengan deretan buku manajemen bisnis tertata rapi di sana. Ada beberapa majalah bisnis juga, dan beberapa novel bergenre horor dan komedi juga terselip di salah satu rak yang ada di lemari itu. Tari menarik satu buku novel bergenre komedi, berniat membacanya selagi menunggu Radit tiba. Di buka satu persatu halaman buku, tanpa ingin membacanya terlebih dahulu. Kebiasaan Tari memang, jika membaca buku novel, dia lebih suka membaca garis besarnya dulu kemudian baru membaca semuanya satu per satu.
Seseorang datang, mengetuk pintu dan Tari mempersilahkannya masuk ke dalam. Dia sekertaris yang ada di meja depan ruangan Radit. Dengan membawa nampan berisi 1 gelas teh hangat dan beberapa cookis yang dia susun di atas piring. Tari masih berdiri di depan lemari, sambil memegangi bukunya.
" Bu, saya taruh di sini ya minumannya, silahkan di nikmati bu" ucap perempuan itu dengan ramah. Dia berpikir, pastilah wanita cantik yang di bawa oleh atasannya itu, bukanlah wanita sembarangan.
Bahkan Pak Radit membiarkannya menempati ruangan ini seorang diri. Mungkin pacarnya? gumam sekertaris itu di dalam hati.
Tari membalas dengan senyuman, dan mengucapkan terima kasih. Lalu sekertaris yang bernama Milka itu, berlalu meninggalkan ruangan Radit.
Tari melanjutkan membaca buku nya kembali, dia melirik jam tangan di tangannya. Sudah pukul 2 siang, dia harus segera ke tempat bimbel nya. Jadwal dia mengajar pukul 3 sore, tapi Radit belum juga muncul. Tari mengeluarkan ponsel dari tasnya, lalu mengetikkan pesan untuk Radit. Dia akan naik ojek online saja, biar nanti Radit yang menjemputnya. Tari berpikir tidak ingin mengganggu Radit. Mungkin urusan Radit lama.
Dan bener saja, Radit masih berada di ruang meeting bersama ayahnya, dan ada beberapa rekan yang seusia dengan ayah disana. Radit pikir ini hanya urusannya dengan sang ayah saja, jadi tidak akan memakan waktu lama. Tapi ini, sudah 2 jam lamanya dia berada di ruangan ini dan pertemuan ini belum menemui titik terang. Radit bahkan hanya memakai pakaian santai kemari. Untung saja kaos T shirt putih yang ia pakai, ia tutupi dengan jas berwarna hitam. Jadi masih sedikit formal kan?
Ayah tidak memberitahunya, jika ia harus bekerja. Benar-benar bekerja mulai hari ini. Dia baru datang tadi malam dari Bandung, dan dengan teganya ayah menyuruhnya langsung bekerja.
Radit cemberut, dan tidak berkosentrasi dengan apa yang di bicarakan oleh karyawan ayah. Dia memikirkan Tari yang sudah terlalu lama di tinggalkan di ruang kerjanya.
Radit merogoh ponsel yang bergetar di saku jasnya, ada notifikasi pesan dari Tari.
Aku berangkat kerja ya, ini dah terlambat. Nanti kalau sempet kamu jemput aku, aku naik ojek online.
__ADS_1
Radit dengan cepat memundurkan kursinya kebelakang, lalu berdiri dari duduknya. Membuat seisi ruangan terlihat kaget dengan aksi dadakan dari Radit. Roman yang duduk di sebelahnya menarik ujung jas Radit, lalu menyuruh bos nya itu untuk duduk kembali.
" Maaf..."
Radit kembali duduk, dan berkonsentrasi agar meeting ini cepat segera selesai.
Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya pembahasan mereka membuahkan hasil. Radit tersenyum bangga dengan idenya kali ini, dan di setujui dengan anggukan para peserta meeting. Mereka terlihat tersenyum dan memuji Radit, membuat ayah Radit juga ikut bahagia.
Putranya memang sangat pandai, walaupun dia anak dari keluarga Wijaya yang serba ada tidak menjadikan Radit pribadi yang ugal-ugalan dan sombong, seperti putra beberapa rekan-rekannya yang selalu membuat masalah. Dia bekerja keras menyelesaikan kuliahnya, sambil mengemban tugas dari sang ayah untuk menjaga kantor cabangnya di sana. Dan putra nya itu berhasil.
Masalah percintaannya juga tidaklah rumit, selain dia hanya tertarik dengan mantan guru SMA nya yang usianya terpaut 5 thn lebih tua darinya. Ketika istrinya menceritakan kepadanya bahwa putranya menyukai gurunya di sekolah, ayah Radit sempat berpikir tidak mungkin juga Radit akan berhubungan serius dengan guru itu.
Dan sekarang hubungan keduanya sudah terjalin cukup lama ,Radit selalu membawa Tari ke setiap acara keluarga yang di adakan keluarga Wijaya. Gadis itu memang cantik, dia juga sopan dan tau menempatkan diri. Istrinya bahkan sangat akrab dengannya, seperti putrinya sendiri. Ya.. mereka memang hanya memiliki satu putra, dan itu adalah Radit. Sebenarnya mereka ingin menambah momongan, tapi ada masalah di rahim istrinya membuat mereka susah mendapatkan anak kembali.
Ayah Radit tidak pernah mempermasalahkan latar belakangnya Tari, yang penting baginya putranya bahagia.
Dia melirik Radit yang sudah beranjak dari kursinya, " Kamu hebat Dit" ucap Ayah memuji.
Ayah memang seperti itu, dia akan memuji jika Radit melakukan hal yang baik dan akan menegur jika Radit melakukan kesalahan.
Radit tersenyum menatap ayahnya, " Ayah, Radit pergi dulu ya..?"
__ADS_1
" Lagian ayah, kenapa gak bilang sih mau meeting kayak gini, tadi Tari ajak kesini dan dia udah pergi duluan karena nunggu kelamaan." Radit mengerucutkan bibirnya tanda kesal dengan sang ayah. Walau pun sudah dewasa, tapi tetaplah Radit sebenarnya anak yang manja jika sedang bersama ayah dan ibu nya.
Ayah tertawa mendengar ucapan putranya, lalu dia berdiri menghampiri Radit. Ruangan sudah kosong, tinggal Roman dan asisten ayah yang masih menemani kedua ayah dan anak itu.
" Kenapa ajak Tari kemari, kan kamu mau kerja?"
" Ya kirain cuma mampir sebentar, lagian Radit mau anter Tari ke tempat kerjanya. eh malah sandera ayah di sini. kasian kan..Tari naek ojek online"
Ayah menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah putranya. Jika urusan dengan Tari, Radit memang berbeda sekali. Jika urusan pekerjaan dia bisa garang dan ganas. Tapi kalau bersama Tari, dia akan manja bahkan merengek tanpa malu.. Benar-benar seperti pribadi yang lain.
Pemandangan seperti ini sudah biasanya bagi Roman. Bosnya itu memang seperti orang lain jika bersama dengan Tari, atau sosok yang bersama Tari, adalah sisi Radit yang sebenarnya. Ah...Roman malas memikir nya.
" Bos, sebaiknya segera menjemput mbak Tari, sepertinya sebentar lagi kelasnya selesai." Roman menginterupsi. Karena kalau tidak mengingatkan juga pasti dia yang di marahinnya nanti.
Dia melirik jam tangannya, lalu pamit terburu-buru pada ayahnya.
" Kamu tetap disini Man, tugasmu belum selesai."
Roman menghela nafas panjang, ada deretan deadline yang harus ia kerjakan sebelum bos nya itu real berada di perusahaan ini. Ruangan kerja milik Radit juga, Roman lah yang menyiapkannya. Semenjak menginjakkan kaki di Jakarta, dia langsung kerja dan menyiapkan segala keperluan Radit. Termasuk buku-buku yang terpajang di rak buku.
Toh aku yang sibuk di sini. Ucapnya di dalam hati. Ayah Radit menepuk-nepuk pundak Roman, menyemangati pemuda itu, agar bersabar menghadapi sikap Radit.
__ADS_1