
Ita sudah melangkah dengan anggun menempati kursi yang sudah di sediakan. Terlihat Ronald sudah duduk di kursi sebelah nya. Ronal memakai batik berwarna senada dengan kebaya Ita, membuat keduanya tampak sangat serasi. Setelah acara tuker cincin berlangsung, para tamu undangan pun di persilahkan menikmati hidangan yang di sediakan keluarga Ita.
Tari berdiri di depan meja makanan, mencoba memilih beberapa makanan yang tersedia di hadapannya. Saking fokusnya memilih, Tari tidak menyadari seseorang di sebelahnya yang sedari tadi terus memperhatikannya.
Ya..Yudi, mantan pacarnya ketika di SMA dulu sedang berdiri tidak jauh dari tempat Tari berada. Dia menepuk bahu Tari pelan, membuat wanita cantik itu menoleh ke arahnya dan tersenyum.
" Hai.. kok sendirian...?" Tanya Yudi basa basi.
"Iya, temen aku satu-satunya dah punya pasangannya sekarang.." Jawabnya seraya tertawa.
Yudi senang bisa bertemu dengan Tari di sini, jika merekanbertemu di sekolah, Tari seolah selalu menghindar dari nya. Memang kelas mengajar keduanya lumayan jauh, jadi walaupun mengajar satu sekolah tidak membuat mereka bisa mengobrol bersama seperti sekarang ini.
" Ibu sakit, dan sering nanyain kamu... kalau kamu ada waktu..." belum sempat Yudi melanjutkan kalimatnya Tari sudah terlebih dahulu memotongnya.
" Ibu sakit apa,?" terlihat dari raut wajah Tari, dia sangat khawatir. Tari memang sudah dekat dengan keluarga Yudi. Yudi sudah tidak memiliki ayah, dia hanya memiliki ibunya dan juga ada ketiga saudara perempuannya yang waktu itu, mereka semua sudah berkeluarga.
Keluarga Yudi sangat menerima keberadaan Tari, mereka juga sangat kecewa karena jalinan cinta keduanya putus.
__ADS_1
" Yah penyakit orang tua lah, biasa Tar..." mereka makan berdua sambil mengobrol..
Hal itu tak luput dari pandangan mata Rega dan Alvin yang berada tepat di sebrang mereka.
Rega mengeluarkan ponsel yang berada di saku celana nya lalu mengarahkan kamera ke arah kedua orang yang sedang berada di depan mereka. Tari sedang memegang bahu Yudi, gambar itu yang terekam di kameranya.
Rega terkekeh geli, dia mengirim gambar itu untuk Radit. Alvin yang tau rencana Rega hanya menggelengkan kepalanya.
" Lo tu gak kasian ma Radit, nanti kalo dia kabur lagi meeting penting lo mau tanggung jawab??" Ucap Alvin pada Rega.
" Biarin aja, gue pengen liat muka blingsatan si kampret itu.."
" Hall----" Belum sempat ia melanjutkan kalimatnya orang yang di sebrang sana sudah berteriak memekikkan telinganya.
" Pulang sekarang!!!??" ucap Radit dengan suara lantang. Tari heran kenapa dengan Radit, bukannya tadi mereka baik-baik saja.
" Ada apa? acaranya belum selesai Dit,.." masih dengan nada lembut.
__ADS_1
" Pokoknya pulang sekarang!!! aku udah hubungin Rega, kamu pulang bareng dia." Radit marah, terdengar dari hilangnya panggilan sayang yang selalu dia ucapkan saat berbicara dengan Tari. Tari terdiam sesaat, menarik nafasnya dengan berat. Dia memang selalu mengalah, tidak ingin bertengkar akhirnya Tari memilih menuruti ucapan Radit.
" Iya, aku pamit sama Ita dulu ya"
" Gak usah lama-lama, terus langsung cariin Rega, tadi aku dah hubungin dia. Besok sore aku dah nyampek di Jakarta." Radit terus saja berbicara dengan nada sinis. Dia tidak marah pada Tari, dia hanya marah pada dirinya sendiri. Otaknya sudah penuh dengan deadline pekerjaan, belum lagi jadwal kuliah yang terbengkalai di tambah lagi jauh dari sang pujaan hati, membuat suasana hatinya tak menentu. Jika tidak teringat dengan Ayahnya, rasanya ia ingin langsung meninggalkan Jogja dan pulang menemui Tari. Apalah daya, dia tidak bisa berbuat apa-apa.. Selain mencoba menjalani perannya dengan baik. Radit menghela nafasnya dengan kasar, sehingga suara hembusan nafasnya terdengar jelas di telinga Tari. Mungkin dia lagi sedih tidak bisa berada di sisinya saat ini??
Tari celingak celinguk menatap segala arah mencari keberadaan Rega. Pundaknya di tepuk dengan pelan dari arah belakang, membuat ia menoleh.
" Bu, ayo pulang sekarang, ketimbang Radit ngamuk " ucapan Rega membuat Tari sedikit bingung.
Alvin sudah berada di jok belakang mobil, dan Rega membukakan pintu penumpang di depan dan mempersilahkan Tari untuk segera masuk. Ini masih pukul 9 malam, pesta pun sebenarnya belum usai. Tapi Tari terpaksa meninggalkan acara, dia tidak mau membuat kekasihnya lebih marah lagi.
Rega meraih ponselnya yang daritadi berdering. Anak ini benar-benar..Rega menyesal sudah iseng mengirim foto Tari bersama Yudi tadi, akhirnya sekarang dia harus menerima kemarahan dari Radit.
" Iya ini gue dah di mobil, gak usah ngoceh muluk lo, gue gak jalan-jalan ni entar." Bentak Rega berbicara dengan lawannya di sebrang sana. Dan Tari tau itu pasti Radit.
" Nih bu, Ibu ngomong geh ma dia.. mumet gue mah buk.." Rega menyodorkan ponselnya ke arah Tari, Tari menerimanya dan berbicara dengan Radit.
__ADS_1
Setelah memberikan ponselnya pada Tari, ia langsung menghidupkan mesin mobil dan meluncur menuju ke rumah Tari.