
" Memandangnya terlalu menyilaukan. Dia muda dan bersinar" Senja Mentari Putri
Aku tak menyangka anak nakal itu ternyata memiliki tanggung jawab yang besar juga. Kenapa ceroboh sekali tas sampai tertinggal begitu. Untung Radit melihatnya.
Lama aku menantinya...
Ah,,,kenapa pula aku menantinya. Aku bukan menantinya . Aku menantikan tas ku. Aku berjalan mondar mandir di ruang tamuku. Sampai ibu menegurku. Ini bukan diriku..???
Aku merutuki tingkah ku sendiri. Ingin ku benturkan saja kepalaku ke dinding rumah. Mungkin aku kurang waras. Tidak mungkin aku kasmaran pada muridku sendiri.??? Radit memang tampan, entah perasaan aku saja atau bagaimana..aku merasa dia selalu diam-diam memperhatikanku. Aku sering memergokinya menatapku diam-diam di kelas. Aku tahu ini tidak masuk akal.
" Oh tidak!!!!!" tanpa sadar aku berteriak.
" Tari ada masalah?" tiba- tiba ibu sudah ada di belakang ku. Aku menutup mulutku yang ceroboh ini. Bisa- bisanya Tari..........
" Tidak bu, aku hanya memikirkan kencan buta nya si Ita" maaf Ita kau ku jadikan korban kali ini. Aku sudah pandai berbohong sekarang. Tidak mungkin aku bercerita kalau aku sedang memikirkan muridku yang tampan. Bisa - bisa ibu ku pingsan.
" Memang Ita kenapa" ibu mengerutkan keningnya.sepertinya agak tidak percaya dengan jawaban dariku.
" Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari ibu kan???"
" Tidak ada yang di sembunyikan ibu. Sungguh..." aku berusaha menyakinkan ibu bahwa memang tidak ada masalah apa- apa.
" Tadi dia meminta Tari menemui lelaki itu bu, tapi Tari belum mendengar lebih jauh lagi kelanjutannya. Jadi Tari penasaran."
Aku sungguh heran dengan tante karin orang tua nya Ita. Memangnya kenapa dengan usia 22 thn. Bukankah masih muda, kenapa juga harus repot-repot mencarikan jodoh untuk anaknya. Untung ibuku bukan orang tua seperti itu.
" Semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya, tidak mungkin ibu karin menjerumuskan Ita sayang" ibu seperti cenayang saja. Tahu yang aku pikirkan...
"Tapi kalau ibu,terserah padamu nak"
" Kamu yang menjalani,kamu yang memilih. Ibu berharap kamu bahagia" ku lihat sorot mata nya sudah berkaca- kaca.
__ADS_1
Aku segera memeluknya erat, mendekapnya. Aku tahu perjuangan ibu membesarkan ku. Sulit, membesarkan anak tanpa sosok suami. Tapi ibu tidak pernah mengeluh sedikitpun. Aku ingin seperti mu Ibu...
" Ibu,terimakasih telah menjadi ibu ku"
" Aku sungguh bahagia ibu dengan kehidupanku sekarang"
" Aku hanya ingin bersama ibu, aku tidak butuh orang lain lagi bu"
" Teruslah sehat ibu, ibu segalanya untukku" aku sudah mendusel- dusel kepalaku di dadanya.
"Tapi, kau juga butuh pasangan nak, kau butuh seseorang yang bisa menjagamu. Ibu harap kau bertemu seseorang yang baik yang bisa memberikanmu kebahagiaan. Ibu benar-benar ikhlas jika suatu saat nanti kamu akan pergi bersama suamimu. Ibu bahagia sayang"
Ibu paham sekali, selama ini aku memang jarang berhubungan dengan lelaki. Mungkin ini sebuah nasehat.
Tapi terus terang ibu, aku tak ingin berpisah darimu.
Aku terdiam, tidak membalas atau pun membantah perkataan ibu.
Aku hanya memeluknya lebih erat.
" Apa kamu sudah punya pacar?" ibu tersenyum indah sekali. Seolah ingin mendapatkan jawaban Iya dari mulut ku ini.
" Maafkan anakmu ini yang belum laku ibu...hihi" aku tertawa sembari berjalan membuka pintu.
"Dia muridku bu, tadi tas Tari tertinggal" ibu tidak bertanya, aku hanya memberitau nya agar dia tidak salah paham pada Radit.
Radit jika menanggalkan seragam sekolahnya, tidak nampak seperti anak sekolah. Badannya besar dan atletis, tubuhnya seperti bukan di usianya. Bagaimana aku menjelaskanya pada ibu.
Ibu selalu berharap aku segera menemukan pasangan. Tapi maafkan anakmu ini yang susah sekali jatuh cinta. Aku saja muak dengan diriku, seperti sok cantik saja.
Banyak lelaki yang menyatakan perasaannya padaku, tapi lagi-lagi aku selalu menolaknya.
__ADS_1
Tidak ada kupu-kupu yang berterbangan di perutku. Alasan klise itu yang selalu ku katakan pada Ita sahabatku, jika dia bertanya kenapa aku menolak laki-laki yang sudah menyatakan cinta padaku.
Apalagi sewaktu raihan sepupunya yang seorang dokter, menyatakan perasaan nya padaku dan ku tolak. Ita bahkan melemparku dengan sepatu kets nya. Aku tidak akan melupakanmu Ita.
Aku membuka pintu rumah, sebelum Radit mengetuknya. Dia memberikan tas padaku. Kami berbincang cukup lama, hingga akhirnya dia pamit pulang.
"Bu,aku sudah tiba di rumah dengan selamat"
Begitu pesan yang terlihat, sejak ku buka notifikasi ponsel pintar ku ini. Kenapa juga anak ini harus melapor kepadaku.
" Bu"
" Bu"
" Bu"
Radit terus saja mengirim pesan.
" Iya Radit, bagus kalau kamu sudah sampai dengan selamat"
" **Ibu besok ada waktu gak"?
" Ibu tidak mau gitu mentraktirku makan. Aku kan sudah menemukan tas ibu"
" Kamu mau makan dimana Radit,??"
" Di cafe kemaren ya bu, aku tunggu sepulang sekolah"
" Ibu sudah janji, tidak boleh ingkar. Oke bu**"
Anak ini bener-bener...
__ADS_1
" Baiklah Radit sudah malam, sebaiknya kamu segera tidur"
Aku menyimpan ponselku di nakas, tanpa menunggu balesan darinya.